Lompat ke isi utama
Para peserta perwakilan dari tiga desa dampingan SIGAB dalam Program RINDI 2 sedang menjelaskan pemaparan sekdes desa Ngestiharjo

Potensi Awal Menuju Rintisan Desa Inklusi 2

Solider.id, Kulon Progo- Beberapa desa di bawah dampingan Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia sudah memilik potensi berupa terbentuknya Kader Difabel Desa (KDD) dan Anggaran. Kedua potensi tersebut sudah berjalan sebelum proses pendampingan Rintisan Desa Inklusi (Rindi) dimulai.

“Dua potensi itu patut diapresiasi dan menjadi modal bagi berjalannya Rindi,” terang Suharto, direktur SIGAB di lokakarya Memperkenalkan Konsep Desa Inklusi di aula balai desa Ngestiharjo pada Kamis pagi, (7/2).

Meski kedua potensi tersebut tidak semua berjalan di 9 desa yang menjadi dampingan SIGAB. Namun, menurut Suharto potensi yang sudah ada menjadi pemantik bagi desa lain untuk mereplikasinya. Jika pada proses RINDI sebelumnya, di enam desa di kecamatan Lendah potensi tersebut belum ada. Hal inilah yang dalam pembacaan SIGAB, menjadi salah satu nindikator keberhasilan desa inklusi.

“Beberapa desa yang sekarang (Rindi 2) meniru desa-desa yang sudah didampingi SIGAB sebelumnya, seperti Sidorejo ataupun Wahyuharjo,” lanjut Suharto.

Pada acara yang bertujuan mengenalkan kosep Desa Inklusi tersebut, Suharto juga menjaelaskan dua potensi tersebut merupakan salah dua dari 9 indikator keberhasilan RINDI. Adanya KDD, merupakan indikator kedua yang memungkinkan adanya wadah organisasi yang mengakomodir warga difabel.

Menurut Suharto, wadah organisasi tersebut sangat penting untuk menunjang inisiatif dan jembatan partisipasi difabel di setiap kegiatan desa. Sedangkan potensi penganggaran bagi organisasi difabel sendiri, merupakan indikator ke empat yang memberikan peluang bagi organisasi difabel di desa untuki turut mengelola dana desa yang sudah diberikan.

Salah satu desa dari 9 desa yang sudah memiliki dua potensi tersebut adalah desa Ngestiharjo. Mahsun Bukhori (57), ketua KDD Ngestiharjo menjelaskan dua potensi tersebut tidak terlepas dari hasil intensitas berdiskusi dengan KDD yang sudah menjadi dampingan SIGAB, seperti Wahyuharjo. Intensitas tersebut menumbuhkan pengetahuan serta semangat bagi 25 difabel yang aktif di desa Ngestiharjo.

“Selain itu tentunya komitmen dari pemerintah desa yang sudah membuka kesempatan dan memberikan ruang bagi kami untuk membangun sebuah organisasi di tingkat desa,” ujar Mahsun di sela-sela acara.

Adapun penganggaran menurut Mahsun, itu adalah tahap lanjutan setelah organisasinya berdiri. Saat ini hasil anggaran baru digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh organisasinya. Meski begitu, dia sudah mengantungi beberapa masukan untuk peruntukkan anggaran tersebut dari warga difabel.[]

 

Redaksi

The subscriber's email address.