Lompat ke isi utama
Saiman Nugraha, Spdi

Semangat Difabel Netra Berpartisipasi Membangun Negeri

Solider.id, Bandung – Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan pesta demokrasi untuk memilih para pemimpin negeri, mulai dari tingkat kota, provinsi, parlemen, hingga presiden. Setiap kebijakan yang diputuskannya akan memberi pengaruh besar terhadap masyarakat luas. Begitu pula terhadap masyarakat difabel.

Siapa pun yang dapat memenuhi persyaratan, sebagai warga negara memiliki hak untuk memilih maupun dipilih. Baik tergabung dalam kelompok partai politik maupun perseorangan atau jalur independent.

Harapan  terwujudnya demokrasi yang jujur dan adil, dapat terwujud dengan partisipasi seluruh warga yang memiliki hak pilih untuk menggunakan dan memanfaatkannya agar tidak termasuk dalam daftar golongan putih atau Golput atau dengan sengaja tidak menggunakan hak pilihnya. Satu suara yang diberikan dapat menentukan nasib bangsa dalam satu periode mendatang yaitu lima tahun kedepannya.

Kesadaran inilah yang telah lama dimiliki oleh sosok difabel Netra, Saiman Nugraha, S.pdi. Semangatnya dalam turut berpartisipasi membangun negeri ia tunjukan dengan bergabung menjadi tim Relawan Demokrasi yang merupakan mitra Komisi Pemilihan Umum (KPU) sejak dikukuhakan Januari 2019.

Sosok Saiman Nugraha, menjadi satu-satunya difabel Netra yang akan mengemban tugas sebagai mitra KPU dalam mensosialisasikan serta mengedukasi kalangan pemilih untuk masyarakat difabel di Kota Cimahi.

Dalam penuturannya, sosok pria bertubuh tambun ini yang juga merupakan pemilik praktek pijat mengaku tidak takut menghadapi kemungkinan berbagai kesulitan dalam bertugas. Keterlibatannya dalam agenda KPU bukan kali pertama, meskipun menjadi Relawan Demokrasi akan menjadi pengalaman perdananya.

Di tahun sebelumnya, saat pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, Saiman pun turut mendaftarkan diri sebagai petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) namun, dirinya dinyatakan tidak lolos seleksi. Saat itu dirinya hanya berpartisipasi sebagai pengguna hak pilih dan memanfaatkan hak aspirasi suaranya dalam pemilu 2017 silam.

Lalu, apa yang membuat Saiman penggiat organisasi Netra ini, mau terjun langsung ke masyarakat untuk memberikan pendidikan politik terhadap masyarakat difabel khusunya?

Jawaban sederhana yang sarat makna pun terlontar, ia ingin membantu teman-temannya di organisasi difabel untuk mau menggunakan hak pilihnya dengan sebaik mungkin tanpa terpengaruhi dan mau dipengaruhi siapa pun.

Dari data Komosi Pemilihan Umum (KPU) tercatat partisipasi pemilih  cenderung menurun setiap ajang pemilu dilaksanakan. Sebut saja, pada pemilu 1999 partisipasi pemilih mencapai angka 92 %. Sedangkan pada pemilu berikutnya terus menurun, yaitu pada pemilu 2004 menjadi 84 %, pada pemilu 2009 71 % dan pada Pemilu 2014 partisipasi pemilih 73%.

Berdasarkan acuan data Daftar Pemilih Tetap (DPT) Kota Cimahi pada pemilu 2019 ini tercatat jumlah pemilih dari masyarakat difabel sebanyak 1.058 pemilih atau 0,278% dari jumlah pemilih sebanyak 380.292 pemilih. Bila digolongkan dalam klasifikasi jenis kedifabelannya muncul data sebagai berikut: pemilih dari difabel Netra sebanyak 130 pemilih, difabel Tuli 174 pemilih, difabel Grahita 198 pemilih, difabel Daksa 346 pemilih dan kedifabelan lainnya 210 pemilih.

Menyadari begitu pentingnya satu suara dari rekan difabelnya, Saiman Nugraha pun tergerak untuk menjadi lebih aktif dalam memberikan pendidikan politik. Secara mandiri, ia pun terus mengumpulkan berbagai informasi terbaru yang berkaitan dengan pelaksanaan pemilu April mendatang untuk disampaikan kepada yang lainnya.

Dalam masa tugasnya sebagai Relawan Demokrasi hingga Maret 2019, Saiman selalu berpesan dan mengajak masyarakat difabel yang ada di Kota Cimahi untuk mau melibatkan diri sebagai pengguna hak suara pada pemilihan umum. Mau menggunakan hak pilihnya untuk meminimallisir adanya golongan putih – golput. Dan memberikan aspirasi pilihannya berdasarkan hati nurani pribadi, tanpa rasa takut adanya tekanan dari pihak manapun untuk menyumbangkan suaranya.

Menurutnya, satu suara akan memberi dampak pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan negara dalam lima tahun kedepannya. Pandangan Saiman terhadap edukasi politik patut diapresiasi. Keberaniannya dengan terjun langsung dan melibatkan diri menjadi bagian dari tim sosialisasi pendidikan politik bagi masyarakat difabel lainnya, menunjukkan hambatan yang dimilikinya tidak menjadi penghalang untuk turut membangun negeri melalui sistem yang demokratis, langsung, umum, bebas, rahasia jujur dan adil.

 

Penulis : Srikandi Syamsi

Editor  : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.