Lompat ke isi utama
suasana pelatihan GPDLI Cirebon.

Forum Advokasi Lepra Cirebon Lahir dari Krisis Stigma dan Diskriminasi

solider.id, Cirebon - Komunitas orang yang mengalami kusta/lepra masih mengalami serangkaian stigma dan diskriminasi. Diungkap dalam pertemuan GPDLI pada acara sosialisasi Convention on the Rihgt of Persons with Disabilities (CRPD) pasal 21 tentang kebebasan ekspresi dan berpendapat serta hak akses terhadap komunikasi (31 Jan-2 Feb) di hotel Amaris, Cirebon. Dilaporkan oleh peserta pelatihan, masih adanya OYTK yang diasingkan oleh keluarga dan lingkungannya. Terdapat pula penderita yang tidak mau berobat. Bahkan ada pula yang tidak memiliki kartu tanda penduduk.

"Kami melakukan advokasi untuk memperjuangkan kesamaan hak warga negara antara masyarakat difabel dengan masyarakat umum lainnya," tutur peserta pelatihan, Abdul Mujib. Khususnya kusta, lanjut Mujib yang juga Ketua Forum Komunikasi Difabel Cirebon (FKDC), memang memerlukan perhatian khusus disebabkan masih lekatnya stigma dan perlakuan diskriminasi yang dialami orang-orang yang terdampak kusta (OYTK).

Untuk itu, kata Abdul Mujib kami sangat mendukung apabila dibentuk wadah khusus untuk menangani persoalan kusta. Agar dalam penanganannya lebih fokus. Namun demikian kami memerlukan dukungan pengetahuan dari GPDLI diantaranya pelatihan website dan jurnalistik serta pendampingan advokasi, tukas Mujib.

Dalam kesempatan yang sama, ketua Forum Advokasi Lepra Cirebon (Falci) terpilih, Rusdin menyatakan pihaknya siap mengemban amanah dan bergerak dalam koordinasi GPDLI dan Farhan Indonesia. "Krisis stigma dan diskriminasi mendesak untuk segera diatasi, " cetus Rusdin. Untuk itu kerjasama lintas jaringan mutlak diperlukan. Ditingkat lokal kami juga tetap sinergis dengan FKDC.

Sosialisasi CRPD pasal 21 tentang kebebasan ekspresi dan berpendapat serta hak akses terhadap komunikasi merupakan kegiatan GPDLI yang dilakukan secara mobile dari kota ke kota di seluruh Indonesia. Pertemuan di Cirebon merupakan kegiatan ketiga setelah sebelumnya diadakan di Malang dan Palembang.

Progress pertemuan sebelumnya, alumni pelatihan GPDLI Malang saat ini tengah mempersiapkan kampanye kolaborasi dengan dinas kesehatan di Jawa Timur. Sedangkan pertemuan di Palembang, tim Palembang tengah melakukan pendataan warga OYTK di kawasan Sungai Kundur. Sedangkan tim Jambi tengah koordinasi dengan dinkes setempat untuk inovasi Puskesmas inklusif.

Ketua Gerakan Peduli Lepra Indonesia (GPDLI), Nuah Perdamenta Tarigan juga menyatakan bahwa keterlibatan disabilitas sudah diakui. Pertama dalam UUD 1945 pasal 28E, CRPD pasal 21 hingga Pasal 19 Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) 1948. Pengetahuan pasal 21 ini menurut Nuah sangat penting sebagai modal dasar advokasi.

 

Wartawan: ken

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.