Lompat ke isi utama
peserta diskusi kelompok terbatas

Diskusi Kelompok Terbatas, Difabel Sampaikan Berbagai Masukan

Solider.id, Surakarta - Kelompok difabel sampaikan masukan dalam rapat kelompok terbatas yang diselenggarakan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang kota Surakarta pada (29/1) di ruang di Ruang Pertemuan Hotel Swiss-Belinn Saripetojo Solo.

Didit Raditya, PH TAD Solo menjadi perwakilan masyarakat difabel Kota Solo mengungkapkan harapan-harapan mereka sehubungan dengan fasilitas ruang publik. Mereka berharap agar sewaktu perencanaan renovasi atau pembangunan kota, teman difabel dapat dipertemukan dengan perencana.

“Tempat yang akses bagi difabel itu antara lain  ramp jangan terlalu curam, perlu adanya informasi dalam bentuk teks untuk teman Tuli, tempat parkir untuk roda tiga bisa diakses difabel fisik, kalau membangun ruangan seperti taman sebaiknya ada tempat untuk bermain bagi anak-anak autis serta toilet akses untuk pengguna kursi roda,” paparnya.

Kemudian, Munawari perwakilan dari BBRSPDF Solo menyampaikan permasalahan terkait dengan aksesibilitas bagi difabel Fisik dan mode transportasi. Pihaknya meminta untuk dibuatkan trotoar yang aksesibel. Hal ini bertujuan agar difabel fisik yang masih menjalani rehabilitasi di tempat tersebut dapat bermobilitas secara mandiri. Berikutnya, ia juga mengkritisi tentang adanya halte bus trans yang tidak berfungsi. Ia mengungkapkan bahwa difabel juga bisa merasa stres dan perlu hiburan. Jika BST-nya beroperasi di area tersebut, maka difabel fisik pun dapat bepergian sendiri dan mendapatkan hiburan seperti layaknya masyarakat lain.

Delegasi komunitas inklusif yang selanjutnya adalah anak-anak muda peserta workshop ruang inklusif. Risye Dwiyani, sebagai inisiator program membuka presentasi singkat dengan menyampaikan hasil dari diskusi bersama dari kegiatan Inclusive Space saat itu dengan sejumlah komunitas anak muda Kota Solo.

Risye dan tim siap bekerjasama dengan DPUPR dalam rangka membangun Kota Solo yang ramah untuk semua kalangan masyarakat khususnya lansia, anak-anak dan difabel. Lalu, DPUPR juga perlu mengadakan perencanaan dan pengawasan pembangunan, serta penyadaran terhadap masyarakat tentang tujuan pembangunan fasilitas publik seperti guiding block bagi difabel Netra supaya dapat berfungsi seperti seharusnya. Selain itu, timnya juga mengusulkan untuk dibuatnya sebuah proyek percontohan ruang publik yang inklusif agar dapat ditiru tempat lain.

Diskusi terbatas ini ditutup dengan dipilihnya 3 delegasi dari forum tersebut untuk mengikuti Musyawarah Rencana Pembangunan Kota Surakarta. Didit dari PH TAD sebagai wakil dari masyarakat difabel terpilih bersama 1 perwakilan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan 1 delegasi dari Yayasan Kota Kita untuk memberikan masukan dalam musyawarah demi terciptanya Kota Solo yang inklusif dan nyaman untuk semua.

Endah Sitaresmi Suryandari, Kepala DPUPR menyampaikan salah satu misi pembangunan Kota Solo pada 2019 dan 2020 adalah pembangunan yang inklusif. Oleh karena itu, pihaknya mengundang kelompok masyarakat dari Komisi Daerah Lansia, Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik, Pelaksana Harian Tim Advokasi Difabel Solo, serta perwakilan peserta Inclusive Space Workshop yang beberapa waktu lalu mengikutsertakan beberapa pegawai muda dari DPUPR.

“Kami berterima kasih adanya keterlibatan kelompok inklusif pada kesempatan DKT tahun ini. Kami memerlukan banyak masukan untuk pembangunan yang inklusif,” ungkap perempuan yang akrab dipanggil Sita tersebut.

 

Wartawan  : Agus Sri

Editor         : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.