Lompat ke isi utama
A young mother who has lost some of her fingers to leprosy holds her baby's hand. Donna Todd, via Flickr.

Hari Kusta Sedunia 2019: Lintas Organisasi Desak Kandidat Presiden dan KPU

Solider.id, Jakarta - Farhan Indonesia, Ragam Institute, GPDLI, dan ALPHA-I mendesak para kandidat presiden Pemilu 2019 untuk memberikan perhatian penuh terhadap persoalan kusta jika terpilih memprioritaskannya sebagai agenda kebijakan nasional. Disampaikan oleh Ketua Umum Federasi Reintegrasi Hansen (Farhan Indonesia), Hermen Hutabarat (30/1) dalam siaran persnya pada peringatan Hari Kusta Sedunia 2019 di Jakarta. Mereka juga meminta kepada KPU untuk melakukan pegecekan data pemilih terkait masih adanya orang yang terdampak kusta yang tidak memiliki KTP sehingga terancam tidak bisa menggunakan hak pilihnya di Pemilu 2019 nanti.

"Mereka yang sudah dianggap pulih dari kusta atau yang disebut Orang Yang Terdampak Kusta (OYTK) beserta keluarganya, sampai saat ini masih mengalami stigma dan diskriminasi di hampir semua bidang: pendidikan, pekerjaan, ekonomi, hunian/tempat tinggal, administrasi kependudukan, politik, dan masih banyak lagi," ungkap Hermen. Khususnya dalam aspek partisipasi politik, di beberapa daerah, OYTK masih dianggap tidak eksis dengan indikasi mereka tidak tercantum dalam daftar pemilih PEMILU 2019 terutama bagi OYTK tidak memiliki kartu identitas (KTP).

Dikatakan Hermen Hutabarat, pihaknya sebagai bagian dari masyarakat sipil Indonesia memandang bahwa upaya penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap OYTK masih belum maksimal. Sehingga dibutuhkan kerjasama dari seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan segala bentuk stigma dan diskriminasi terhadap OYTK.

"Menurut WHO, Indonesia menjadi satu dari tiga negara yang memiliki pola penemuan baru kusta yang tinggi setiap tahunnya sekitar 15. 000 selama 10 tahun terakhir, setelah India (150.000), dan Brazil (40,000), papar Hermen. Dan dalam regional Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara dengan jumlah kusta terbesar, dengan jumlah rata-rata bertambah sekitar 1000 orang lebih setiap bulannya, mereka tersebar di sekitar pantai, pegunungan, dan kota-kota besar, ungkapnya prihatin.

Atas kondisinya inilah, pada momen Hari Kusta Sedunia 2019 ini, kami para organisasi yang konsen terhadap isu kusta, memberikan beberapa pernyataan sikap untuk menjadi perhatian Pemerintah dan semua pihak bahwa, yang pertama, mengutuk keras segala bentuk stigma dan diskriminasi terhadap OYTK di semua sektor, dan menganggap segala stigma dan diskriminasi merupakan upaya menghambat pembangunan yang inklusif.

Kedua, mendukung pemerintah (pusat dan daerah) untuk menyusun dan mengimplementasikan program-program terkait desiminasi dan sosialisasi mengenai kusta dan dampaknya dengan baik dan benar dan melibatkan OYTK. Kemudian yang ketiga, mendukung pemerintah (pusat dan daerah) memaksimalkan program-program peningkatan kapasitas bagi OYTK agar dapat hidup secara mandiri dan berkontribusi bagi masyarakat.

Keempat, mendorong KPU melakukan pengecekan data pemilih Pemilu 2019 di wilayah-wilayah dimana OYTK tinggal atau di kampung kusta di seluruh Indonesia. Diharapkan hasil pengecekan menghantarkan pemenuhan hak pilih untuk semua OYTK di Pemilu 2019. Serta yang kelima, mendesak para kandidat presiden Pemilu 2019 untuk memberikan perhatian penuh terhadap agenda global 'Zero Leprosy' pada beberapa tahun ke depan, dan jika terpilih memprioritaskannya sebagai agenda kebijakan nasional.

Hermen Hutabarat menekankan bahwa pernyataan sikap tersebut telah sejalan agenda global Zero Leprosy, serta Konvensi Internasional Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD). Juga merupakan bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/SDGs 2030, dan amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.  

 

Wartawan  : ken Kerta

Editor         : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.