Lompat ke isi utama
simulasi cara berinteraksi dengan difabel

Etika Berinteraksi dengan Difabel yang Tepat

Solider.id, Surakarta - Inclusive Space Workshop yang dilaksanakan 26-27 Januari 2019 lalu berikan wawasan baru tentang ruang publik yang inklusif serta etika bersikap terhadap difabel yang tepat bagi para pesertanya. Workshop yang diprakarsai oleh The Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program di Indonesia ini menjadi ajang familiarisasi isu difabilitas dan inklusivitas bagi ragam komunitas anak muda di Kota Surakarta. Selain memahami pentingnya ruang publik yang aksesibel, para peserta mengaku menjadi lebih mengenal difabel dan kebutuhannya.

Panitia tidak hanya berfokus pada materi ruang publik yang inklusif saja, tetapi mereka juga menyelipkan sesi pembelajaran Interaksi dengan Disabilitas. Pada sesi ini, peserta tampak mencermati dengan seksama tentang etika memperlakukan difabel yang tepat. Tiap-tiap kelompok diberikan sebuah contoh kasus etika bersikap terhadap difabel yang benar dan sikap yang kurang tepat. Masing-masing kelompok mendapatkan kasus yang berlainan. Adegan-adegan yang harus dimainkan antara lain sikap petugas toko terhadap pengunjung difabel, cara membantu difabel Netra yang hendak menyeberang jalan, menawarkan bantuan terhadap difabel, dan berkomunikasi dengan difabel Tuli.

Setiap grup terdiri dari kombinasi peserta difabel dan nondifabel. Dengan demikian, secara tidak langsung, metode edukasi yang digunakan adalah peer teaching atau tutor sebaya. Drama tidak hanya diperankan sesuai gambar saja, melainkan peserta difabel yang ada di dalam masing-masing grup menyampaikan bagaimana sebaiknya bersikap dengan mereka agar nyaman dan aman.

Etika-etika tersebut juga tercantum dalam website Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pada situs tersebut, pihak Kemendikbud melansir dari tips tata cara bersikap terhadap difabel oleh Kementerian Sosial. Berikut kutipan dari https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2018/10/etika-berinteraksi-dengan-penyandang-disabilitas :

“Jangan lupa "salam dan sapa" ketika memulai interaksi dengan penyandang disabilitas sensorik netra. Kemudian, dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas fisik, yang terpenting adalah menanyakan terlebih dahulu apakah mereka memerlukan bantuan atau tidak. Jika memang memerlukan bantuan, hendaklah komunikasikan segala bentuk bantuan apa yang dibutuhkan.

Jika berinteraksi dengan difabel rungu wicara, gunakanlah bahasa tubuh/mimik/gestur/ekspresi yang jelas. Jika diperlukan, bisa juga menggunakan alat tulis.

Untuk berinteraksi dengan difabel mental, hendaknya menggunakan bahasa-bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Selanjutnya, jangan lupa tersenyum dan ramah ketika berbicara dengan difabel intelektual.”

Pernyataan itu pun dibenarkan oleh para peserta yang memiliki kedifabilitasan. Etika tersebut perlu diperhatikan agar orang yang hendak memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan difabel.

Sebagai contoh, adegan drama singkat yang dimainkan pertama adalah kasus ketika difabel mendatangi sebuah toko. Terkadang, petugas toko cenderung memperlakukan difabel secara berlebihan. Ilustrasi etika yang keliru menunjukkan petugas toko bersikap terlalu memaksa untuk membantu. Berikutnya, sikap yang lebih sopan yaitu dengan memperkenalkan diri terlebih dahulu kemudian baru menawarkan diri untuk membantu. Apabila pengunjung difabel belum memerlukan pertolongan, sebaiknya menyikapinya seperti pengunjung biasa lainnya.

Selanjutnya, adegan kedua tentang tata cara membantu difabel dengan hambatan penglihatan. Seringkali masyarakat hanya meneriaki “Awas!” terhadap difabel Netra yang sedang berjalan sendiri. Seharusnya, jika hendak menolong difabel Netra, masyarakat mengatakan aba-aba yang jelas. Misalkan, jika ada rintangan seperti kendaraan yang menghadang, jalan yang licin atau ada drainase di dekat difabel tersebut, arahan yang disampaikan harus menyesuaikan posisi difabel. Jika penghalang jalan atau bahaya di sebelah kiri difabel Netra tersebut, maka pemberi aba-aba perlu menyesuaikan ke mana arah difabel tersebut menghadap. Lalu, apabila arahan kurang dapat membantu, masyarakat dapat menawarkan bantuan dengan menyentuhkan punggung tangannya pada bagian tubuh difabel Netra yang tidak sensitif. Perkenalkan diri kemudian tanyakan berkenankan ia digandeng.

Tim yang selanjutnya mempraktikan cara berinteraksi dengan difabel Tuli yang tepat. Memang dianjurkan setiap orang untuk dapat berkomunikasi dengan bahasa isyarat bagi difabel dengan hambatan pendengaran. Namun, hal ini juga tidak dapat dipaksakan kepada masyarakat. Jika sama sekali tidak mengerti bahasa isyarat, berkomunikasilah dengan bahasa tutur secara pelan supaya difabel Tuli dapat membaca bibir. Apabila cara ini belum dapat dipahami, gunakan alat tulis agar komunikasi dapat dilakukan dengan bahasa tulis.

Lalu, untuk tips terakhir disampaikan bagi masyarakat yang hendak menolong difabel pengguna kursi roda. Ketika hendak menolong difabel Fisik kurang lebih etikanya pun serupa. Hal yang perlu diingat sewaktu akan memindahkan difabel pengguna kursi roda ke kursi atau ke dalam mobil adalah mengunci kursi rodanya agar tidak berjalan sendiri.

Patriani Victoria, perwakilan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Surakarta menyatakan `memperoleh pembelajaran baru selama 2 hari mengikuti workshop tersebut. Menurutnya, sebagian besar masyarakat masih cenderung merasa kasihan terhadap difabel tanpa tahu etika bagaimana memperlakukan teman-teman difabel yang benar. Dari kegiatan tersebut ia menjadi sadar bagaimana membantu teman difabel tanpa membuat mereka merasa direndahkan. Saat kegiatan eksplorasi raung publik di sekitaran Solo, Patra mendapati banyak temuan.

“Semua kelihatan rapi, bagus, nyaman, tapi bagi yang nondifabel saja. Sedangkan untuk teman difabel, ruang publik masih banyak kekurangan. Hal yang sederhana yang seharusnya bisa mewadahi semua orang, ternyata tidak,” ungkapnya.

Sependapat dengan Patra, Kevin Kristanto Utomo dari Solo Youth Club pun mengaku menjadi lebih sadar akan keberadaan teman-teman difabel di sekitarnya. Kevin berharap Solo bisa menjadi kota yang lebih nyaman bagi semua kalangan.

“Selain ruang publik nyaman dan bisa mejangkau masyarakat, keamanan serta kelayakan untuk difabel pun perlu diperhatikan,” tegasnya.

Hal ini perlu adanya sebuah semangat dan dorongan nyata dari semua kalangan termasuk anak muda. Jadi, semua itu tidak hanya pendapat saja tapi juga ada aksi seperti apa yang telah dilakukan para generasi muda yang terlibat pada workshop ruang inklusif tersebut.

Dengan adanya sinergi antara komunitas pengusaha muda, arsitek, akademisi, dan pejabat pemerintahan ia berharap aksi eksplorasi ruang publik dan sosialisasi ruang publik yang inklusif bisa membawa dampak nyata ke arah yang lebih baik.

Ruang publik yang inklusif tentu akan menjadi tempat yang membahagiakan bagi masyarakat yang lain pula. Inklusivitas tidak hanya terkait dengan aksesibilitas tempat umum saja, tetapi juga berhubungan pula dengan suasana yang kondusif, aman, dan nyaman bagi siapapun termasuk difabel.

 

Wartawan : Agus Sri

Editor        : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.