Lompat ke isi utama
Dinda Cornelia Yastanto: Jadi Penari adalah Cita-cita

Dinda Cornelia Yastanto: Jadi Penari adalah Cita-cita

Solider.id, Semarang- Ia melenggang dengan lincah, berlenggok kesana-kemari di sebuah panggung para model. Gayanya memukau pengunjung. Pada kesempatan lain, ia tampil penuh percaya diri memperlihatkan betapa piawai ia menari. Jari lentiknya lentur, terampil memainkan sampur.

Ia seorang perempuan. Bungsu dari tiga bersaudara pasangan Sri Wahyuni dan Budiyastanto. Seorang gadis dengan tinggi  167 cm asal Semarang, kelahiran 10 Mei 1986 ini mudah dijumpai di rumahnya, Jalan Tampomas Dalam VI/7 Semarang. Ia bernama Dinda Cornelia Yastanto, yang biasa disapa Dinda.

Saat orang lain sedang rehat siang, Dinda baru saja kelar membantu mamahnya mengantar pesanan makanan. “Saya sudah lulus SMP tahun 2014. Sekarang saya sedang melanjutkan sekolah kejar paket C yang dekat rumah.” Tertunduk, Dinda lalu memberi senyum kecil dengan disembunyikan (12/01).

Sri Wahyuni (60), mamah Dinda, menemani obrolan di tengah kesibukannya mengolah pesanan makanan. Ia pula tokoh yang mendukung dan terlibat langsung dalam semua kegiatan tari dan modelling anaknya.

Mulai dari riasan wajah untuk tari dan model, hingga memilih kostum dan gaya kerudung yang akan dikenakan Dinda dalam pementasan. Semua adalah kreasi tangan terampil dari rumah jahit yang ia kelola.

Keseharian Dinda nampak sederhana. Tak sedikitpun gaya panggung melekat dalam penampilan. Sambil menyimak obrolan, tak segan ia bercerita tentang dunia yang telah memberinya 14 piala kebanggaan hasil prestasi lomba menari dan lomba model.

“Belajar model sejak kelas V SD,” terbata, sedikit kesulitan karena hambatan bicara, Dinda menjawab begitu ditanya kapan pastinya terjun di dunia model.

Sesekali Dinda melirik manja pada sang Mama. Perempuan yang dengan sabar membantu  bila ada kalimat yang kurang jelas tersampaikan.

“Suara Dinda memang sengau.” Sri Wahyuni coba menjelaskan. Dinda terlahir dengan kondisi hidung tak bertulang. Sementara dalam hal penglihatan, Dinda tidak memiliki lubang airmata. Mata kanan Dinda sudah dioperasi sebagai upaya kesembuhan.

Mudah terlibat dalam obrolan, Dinda yang juga hobi melukis ini sebenarnya sangat pendiam. Mamanya yang lebih banyak mengisahkan. “Dinda mengalami kelainan pada saraf mata yang membuat airmatanya sering keluar,” tutur Sri kembali menambahkan.

Dinda tak pernah menemui kendala dalam hal pendidikan. Sri justru harus menelan kecewa saat Dinda masih duduk di bangku kelas VI. Kepala sekolah meminta anaknya untuk mengundurkan diri. Alasannya, pihak sekolah takut jika Dinda tidak lulus dalam ujian yang akibatnya akan mempengaruhi prestasi sekolah, yang mengharuskan syarat kelulusan 100 persen. Sri pun menarik Dinda dari sekolah lama dan ia tak tahu harus melanjutkan sekolah Dinda. 

“Saya tahu waktu masuk TK Dinda sudah bisa bicara. Daftar di SD dia juga sudah bisa membaca, tapi ya itu tadi, suaranya sengau.” Sri sangat menyesalkan alasan kepala SD tempat Dinda pernah menempuh pendidikan.

Ketika Sri mendaftarkan Dinda di YPAC, ia mendapat penolakan karena Dinda tak memiliki kendala dalam fisik dan intelejensi. Dinda bisa mengikuti semua materi yang diujikan. Dari YPAC ia disarankan agar Dinda masuk di sekolah reguler.

“Berkat saran tetangga kami coba mendaftarkan Dinda di sebuah sekolah swasta yang tidak mempermasalahkan kondisi fisiknya. Dan di sanalah Dinda bisa melanjutkan pendidikan.” Sri merasa berlega hati waktu itu, putri bungsunya mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah.

Namun dengan kondisi Dinda yang berbeda, membuat Sri sempat didera tanya. Cemas dengan kondisi Dinda, Sri menyertakan Dinda dalam uji pendengaran.

“Dulu waktu kecil saya pernah ikutkan Dinda tes Berra, untuk mengetahui seberapa parah dia mengalami gangguan pendengaran. Setiap kali dites dengan suara pelan dia bisa mendengar selama matanya tidak berair. Tapi kalau dites, biarpun dengar suara keras kalau matanya berair ya Dinda tidak mendengar,” lanjut Sri. Baginya, Dinda adalah kebanggaan karena sudah bisa diandalkan.

“Kita orangtua kan ingin anak-anak bisa mandiri saat kita sudah tidak nunggui lagi. Dinda sudah bisa mengajar tari dan model bagi anak-anak di sekitar kampung. Harapan saya dia bisa besar (berkarya) dari dunia tari dan model,” harap Sri.

Sejak SD Dinda telah berlatih modelling. Tiga tahun belajar di sekolah tari di salah satu sanggar tari terkenal yang ada di Semarang, kini gadis berkaca mata ini telah menguasai beberapa jenis tarian. Di antaranya tari Sekar Cemani, tari Manggala Yudha, tari Bunga, tari Topeng, dan tari Gendhewa Pinenthang.

Bila kebetulan jadwal latihan saling bentrok, Dinda berusaha datang lebih awal di salah satu kegiatan. “Tempat latihan model dan sanggar tari berjauhan. Latihan model dulu, baru ke sanggar tari. Sendiri, naik motor,” tuturnya, dengan suara bergetar.

Untuk menghilangkan rasa gugupnya di panggung, baik saat pentas tari atau panggung model, Dinda tak lupa membawa restu Mama. “Perbanyak doa dalam sholat.” Malu-malu, Dinda memberikan resep percaya dirinya.

Tak hirau jadi bahan ejekan di kelas II SMP, kecewa tetap saja pernah Dinda rasakan. “Orang-orang seperti kami jangan hanya dicueki (abai) apalagi diejek. Dulu teman-teman bilang fisik saya (hidung) berbeda. Ya biar saja. Saya tidak minder. Tapi saya juga ingin teman-teman yang fisiknya lebih baik tidak sombong.”  Sedih dengan pengalaman masa lalunya menjadi korban buli, Dinda justru terus membuktikan bahwa ia juga bisa berprestasi.

“Saya bangga dengan kondisi saya. Jadi penari sambil bermodel adalah cita-cita saya,” kata Dinda tentang masa depan yang diimpikannya.

Cita-cita inilah yang mendorong Dinda ingin membuka sanggar tari dan model di rumahnya. Cita-cita yang membuatnya selalu giat melatih tari bagi anak-anak di sekitar kampungnya. “Harus rajin berlatih karena tiap semester harus ikut ujian tari. Pentasnya bisa berpindah-pindah tempat tergantung ketentuan dari sanggar,” tuturnya.

Sikapnya yang cepat akrab membuat Dinda memiliki banyak teman. Saat bertemu dengan teman lain yang memiliki hambatan, ia menyarankan untuk tidak malu menambah kawan. “Orang seperti kita tidak perlu minder. Harus semangat. Harus banyak teman karena kita akan dapat banyak informasi.” Menjadi model dan penari telah mengajarkan gadis pendiam ini untuk terus rendah hati.

 

 

Reporter                                 : Yanti

Editor                                      : Robandi

The subscriber's email address.