Lompat ke isi utama
Etti Sumiyanah berfoto memakai batik dan kerudung berwarna orange

Pengabdian dan Kebahagiaan Seorang Guru SLB

Solider.id, Semarang- “Saya hanya bisa bersyukur bahagia saat anak-anak Tuli, para siswa saya bisa mandiri baik dalam hal pekerjaan, pendidikan, maupun dalam hal berrumah tangga.” Kalimat tersebut dirafalkan seorang perempuan yang mengemban tugas mengayomi anak-anak didiknya.

Perempuan paruh baya itu bernama Etti Sumiyanah adalah kepala SLB B Swadaya Semarang. Ia mengucap rasa syukur ketika mendapati kabar bahwa salah satu anak didiknya telah berhasil lulus.

Etti Sumiyanah kelahiran Bantul, 3 Mei 1960 lalu ini dijumpai Solider di kantornya, SLB B Swadaya Semarang, Jalan Seteran Utara II/2 Semarang. Ibu tiga putra ini tengah menyelesaikan tugasnya sebelum bersiap pulang.

Keseharian Etti dan keluarga kecilnya tinggal di Komplek Kaliwungu Permai Blok A nomer 40, Protomulyo, Kaliwungu Selatan, Kendal. Jarak yang berjauhan antara kendal dan Semarang bagimya menjadi sebuah tantangan. Sebab tugas pengabdian yang sudah dijalani 35 tahun silam.

Dinyatakan lulus dari IKIP Karangmalang pada 1984 (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta), Etti langsung turun ke lapangan menerapkan ilmu yang didapatkannya.

“Waktu itu ayah saya bertugas di Kendal. Jadi begitu lulus, sambil menunggu surat keputusan, saya keliling Kendal untuk mencari siswa. Begitu SK turun ternyata saya ditugaskan di SLB A Swadaya, Semarang.” Etti membuka kenangan lama dengan paras dan paduan gaya bicara bahasa Jawa, (10/01).

Kenangan dan pengalaman Etti selama perjalanan panjangnya, mengantarkannya untuk mendirikan SLB A/B/C Swadaya Kendal. Bersama seorang teman, ia mengajar dua siswa difabel netra sebagai siswa di tahun ajaran pertama. Kegiatan belajar mengajar ia lakukan dengan menempati bagian rumah dari keluarga Susatyo, di Jalan Raya 167, Kendal. Keluarga Susatya merupakan pendiri SLB A/B/C Swadaya Semarang.

Etti mengaku, menjadi guru adalah panggilan jiwa. Ia tak pernah tahu alasan apa yang mendasarinya untuk melanjutkan sekolahnya dan menjadi guru bagi anak-anak istimewa. Ia ingat sekali saat menempuh sekolah di SMEA. Karena pulang sekolah kehujanan jadi saya nunut ngeyup (Red: numpang berteduh) di teras Yaketunis.

Pandangan Etti tertuju pada teman-teman netra yang bisa melakukan kegiatan yang biasa dikerjaan orang pada umumnya. Sejak itu, ia sering menyempatkan waktu untuk berkunjung kesana. Ia mendongeng untuk ana-anak netra.

“Sejak itu saya pengen jadi guru bagi anak-anak seperti mereka. Apalagi kehadiran saya di antara mereka begitu diterima.” Dengan sorot mata berbinar, perempuan yang mengenakan kerudung jingga ini berkisah tentang masa lalunya.

Selepas SMEA dengan tekad bulat Etti lalu melanjutkan pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru Luar Biasa, Kalibayem. Sayangnya, ia diterima di jurusan yang konses terhadap difabel grahita. “Meski sebenarnya merasa kurang sreg, tapi kuliah tetap saya lanjut juga,” ujarnya sambil tertawa. “Nanti kalau  lulus ijazahnya D2. Eh, dua bulan kuliah di Kalibayem ternyata saya diterima di IKIP Karangmalang (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta),” lanjutnya, masih menyisakan tawa.

Etti juga telah memperhitungkan bahwa di IKIP karangmalang (UNY) ia bisa belajar semua jenis keilmuan dari beragam difabilitas. Ia boleh berlega hati satu mimpinya berhasil dimiliki. “Akhirnya dengan berbagai pertimbangan dan konsultasi pada dosen wali, saya mengundurkan diri untuk mengambil peluang di UNY,” tandasnya.

Semangat dan rasa optimis Etti makin membuncah saat proses kepindahannya dimudahkan. Tak hanya karena gelar sarjana D3 yang akan diraihnya. Jaminan setelah lulus akan ditempatkan membuatnya merasa lebih yakin. Ikatan dinas baginya tak lagi hanya khayalan.

Bekal belajar selama kuliah mendalami semua ragam difabilitas memudahkan Etti menyelam di dunia anak-anak istimewa. Selama 10 tahun ia mengajar anak-anak dengan difabilitas netra. Ia lalu dipercaya mengabdi bagi anak-anak Tuli sampai 10 tahun berjalan.

Anak-anak dengan difabilitas intelektual menuntut perhatian. Jadilah Etti mengabdi pada mereka sampai 5 tahun. Setelah itu total sejak 2010 ia mengabdikan diri bagi anak-anak Tuli yang baginya meninggalkan kesan berarti. Meski hampir 35 tahun mengabdi, Etti masih menyimpan mimpi bagi anak-anak Tuli.

“Sampai saat ini masih belum bisa mewujudkan keinginan anak-anak untuk menambah ketrampilan mereka di bidang perbengkelan,” tutur istri dari Rohadi Budiarto ini. Ia menyimpan cita agar anak-anak Tuli mahir bidang perbengkelan, Etti masih terus mengupayakan berdirinya sebuah bengkel di sekolah.

“Untuk latihan supaya anak-anak punya sertifikat tanda kelulusan dan bisa membuka usaha perbengkelan,” lanjut Etti, mengisahkan cita-cita kecilnya yang belum bisa terrealisasi.

Dari bekal ketrampilan yang dimiliki, saat lulus nanti Etti hanya ingin anak-anaknya mandiri. Baginya, keberhasilan siswa adalah tanda berhasilnya kerja sama antara guru dan orangtua. Meski ia hanya bisa menyaksikan bahwa pengabdiannya telah berbuah kebahagiaan.

“Keberhasilan anak didik tergantung pada guru di sekolah. Tergantung pada orangtua saat mereka ada di rumah. Jadi antara orangtua dan guru harus ada rasa saling percaya, saling bekerja sama dalam mengawasi dan mendidik anak-anak mereka,” terang Etti. Ia yakin bahwa anak-anak yang meningkat perkembangannya, tentu tak lepas dari peran orangtua.

“Anak-anak difabel juga perlu diberi perhatian, kasih sayang dan pengawasan. Jangan dibiarkan atau dianggap sampah hanya karena mereka belum bisa melakukan apa-apa.” Menyesalkan sikap beberapa orangtua siswa yang tak hirau pada anak-anak mereka, Etti tak pernah bosan untuk mengingatkan. Setiap hari ia menyampaikan agar anak-anak selalu dalam pantauan.

”Sebagai orangtua kita harus belajar percaya pada anak. Pekerjaan yang mereka lakukan tidak harus selalu benar. Yang penting seberapa besar rasa tanggung jawab anak dalam melakukan tugas mereka,” tegas Etti.

Melihat perkembangan anak didiknya, Etti menyampaikan peran guru di sekolah dan peran orangtua saat di rumah akan sangat menentukan perkembangan pendidikan. Kedekatan emosional anak dengan orangtua, membuat orangtua peduli pada anak-anak mereka.

“Sebagai guru kita harus bisa ngguroni (bahasa Jawa). Artinya kita harus menjadi guru yang berkarakter. Kita harus bisa menjadi contoh karena baik dalam perilaku, baik dalam cara bicara dan bertutur, baik dalam berpakaian, dan baik dalam semua tindakan.” Bagi Etti guru adalah satu semboyan yang ia tekankan dalam laku dan perbuatan. Pengabdiannya telah menetaskan sukses bagi anak-anak Tuli yang dibanggakannya.

 

 

Reporter                     : Yanti

Editor                          : Robandi

The subscriber's email address.