Lompat ke isi utama
ilustrasi manfaat 5G dari media RCLWirelessNews

Harapan dan Tantangan Difabel di Era 5G

Solider.id, Malang- 5G sebuah teknologi anyar dikabarkan akan segera menggeser peran 4G dalam dunia internet. Bagaimana tidak, tak tanggung-tanggung karena kecepatannya ratusan kali lipat dari teknologi sebelumnya. Wah, saking banternya sebagian pihak tak yakin teknologi itu untuk manusia, melainkan industri. Namun bagi penulis sangat mungkin sekali teknologi baru tersebut untuk manusia mengingat kebutuhan akan internet makin penting. Terlebih bagi masyarakat difabel yang selama ini menjadikan IT khususnya internet menjadi patner hidup untuk mengatasi hambatan mobilitas dan aksesibilitas di segala bidang.

Sebagaimana dijelaskan Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah, dikutip dari Detik bahwa kecepatan super dihadirkan 5G dirasa akan kurang optimal jika hanya digunakan untuk keperluan sehari-hari pengguna, seperti transfer foto, video streaming dan lainnya. Dimana aktivitas tersebut sejatinya sudah cukup terlayani dengan 4G yang saati ini semakin merakyat.

"Jadi ke depannya implementasi 5G akan lebih kepada IoT (internet of things), yang dipakai mesin, bukan untuk manusia. Karena kalau speed-nya sudah tembus 1 Gbps itu menikmatinya pun ya begitu-begitu saja, 'tidak ada gunanya' kalau cuma untuk menonton video atau membuka foto, tak terasa (kesaktian 5G)," paparnya, Mei 2017 lalu di sela uji jaringan Telkomsel di Malang.

Adapun pemerintah — dalam hal ini Menkominfo Rudiantara — menilai layanan 5G diproyeksi akan mulai dijajal di Indonesia sejak 2020 mendatang. Untuk tahap awal, penggunaan jaringan seluler generasi kelima ini menyasar target industri. Berdasarkan World Radiocommunication Conference (WRC), nanti 5G akan menggunakan pita frekuensi tinggi 28 GHz. "Kita akan ikut standar internasional, kalau WRC suruh alokasikan di 28 GHz, kita akan alokasikan di situ yang totalnya ada 2 GHz atau 2.000 Mhz, jauh dari tender yang dilakukan sekarang kan," ujar Rudiantara dalam suatu kesempatan berbeda.

Nantinya layanan 5G di spektrum 28 GHz ini hanya bisa diakses di daerah kota, sedangkan untuk kawasan pedesaan atau rural akan menggunakan spektrum 700 MHz yang dipakai untuk persoalan coverage atau jangkauan."5G ini cocok untuk industri seperti digunakan di pabrik atau manufaktur, misalnya penggunaan robot karena kecepatan rata-rata 5 Gbps," tandas pria yang disapa Chief RA ini.

Sementara itu, dilansir CNBC, Jumat (14/12/2018), kapasitas 5G disebut 100 kali lebih baik daripada 4G, yang secara dramatis akan meningkatkan kecepatan internet.Sebagai contoh, mengunduh film berdurasi dua jam di jaringan 3G akan memakan waktu sekitar 26 jam, di 4G hanya 6 menit, dan di 5G cuma 3,5 detik. Bukan hanya kapasitas internet yang akan ditingkatkan, waktu respons juga akan jauh lebih cepat. Jaringan 4G merespons perintah hanya kurang dari 50 milidetik. Sementara dengan 5G hanya memakan waktu sekitar satu milidetik atau 400 kali lebih cepat dari kedipan mata.

Respon masyarakat difabel terhadap isu 5G

"Wah, pasti senang banget dengan adanya 5G, ini akan menjadikan kehidupan difabel, khususnya saya tuli akan mudah, respon Yunita semangat. Kalau soal biaya ya pastinya akan lebih mahal dan itu wajar. Dan jika kembali pada hukum ekonomi kecepatan akses yang ditawarkan tentu akan seiring dengan produktivitas yang kita hasilkan.

Yunita memaparkan aktivitasnya yang padat sebagai pengajar dan penggiat organisasi difabel. Selama ini ia sangat mengandalkan komunikasi via internet karena difabel mengalami hambatan mobilitas. Menurutnya semua memerlukan internet yang cepat dan stabil. Manfaatnya mulai dari komunikasi hingga akses google map dan order taksi online. Memang belum ada hingga saat ini dirinya mentranfer data hingga ukuran megabyte, namun menurutnya kecepatan internet bukan soal transfer data saja, melainkan komunikasi yang lebih baik.

"Sepakat 5G akan mengubah dunia difabel menjadi lebih baik, belajar dari teknologi sebelumnya 4G, saya lebih mudah terhubung dengan banyak klien, ujar Eko difabel kinetik yang saban hari berprofesi sebagai pemijat. Ini bukan soal transfer data melainkan akses komunikasi. Jika saat ini 4G kita nikmati di area perkotaan dan kadang sulit di area pedesaan, maka ketika 5G nanti ada di perkotaan tentunya 4G akan mudah diakses di pedesaan," papar Eko. Artinya 5G sebagai teknologi adalah keniscayaan dimana bagi siapa yang menguasai akan menjadi lebih mudah, ungkapnya optimis.

Hari ini saya menggunakan sepeda motor roda tiga. Jangan salah, mimpi saya ingin naik mobil google loh.., ujarnya berseloroh. Artinya lanjut Eko, ketika saat ini mobil google terkendala stabilitas sinyal atau kendala teknologi lainnya, sehingga pernah dikabarkan menabrak pohon dan sebagainya, maka di era 5G tentunya berbagai hambatan dengan berbagai kolaborasi tekonologi akan teratasi, papar pria sarjana pertanian yang pernah ditolak masuk CPNS karena difabilitas.

Tak berlebih harapan Yudi dan Eko, keduanya adalah pengguna IT dan internet untuk memenuhi kebutuhan profesi maupun keseharian. Sebagai difabel bahkan mereka terkesan melampaui apa yang dipandang sebagai keterbatasan oleh masyarakat. "Mencari layanan pijat hari ini  tidaklah sulit. Jika berada di area Malang lalu ketik Tukang Pijat maka google map akan mengarahkan ke beberapa titik layanan termasuk tempat saya, lengkap alamat dan kontak saya, hehe..," ujar Eko tertawa. Saya juga membantu beberapa tetangga disini untuk menandai rumahnya di google map.

Senada dikatakan Adi Gunawan, difabel entrepreuner ini menyambut baik hadirnya 5G. "Pencapaian yang dahsyat, kalau saya gambarkan alur zaman dulu, manusia itu ingin pergi ke luar angkasa untuk mengetahui apa sih luar angkasa itu seperti itu, kalau sekarang manusia ingin menguasai luar angkasa itu. Bahkan kalau bisa ingin mengeksplorasi luar angkasa untuk kelanjutan atau keberlangsungan kehidupan manusia," tutur Adi. Demikian pula dalam segi teknologi, 4G dengan kecepatan sekitar 100 sampai 150 mbps cukup baik itu untuk browsing, transfer file dan sebagainya, urusan-urusan media dan internet namun akan terus ditingkatkan dengan adanya 5G.

Hal ini menjadi menarik karena data akan ditransfer dan diolah dengan kecepatan yang luar biasa ditambah lagi diperkirakan dengan teknologi ini akan akan muncul teknologi-teknologi lain misalkan nanti teknologi terapan yang mendukung mobile phone, smartphone, komputer, kendaraan dan peralatan-peralatan rumah tangga dan hal-hal yang lainnya. Dampaknya terobosan teknologi yang revolusioner ini tentu akan lebih memudahkan dan menghilangkan hambatan-hambatan yang dihadapi oleh masyarakat khususnya di  masyarakat modern.

"Saya membayangkan nanti cukup menyalakan lampu, dispenser atau memasak makanan mungkin hanya lewat device nanti microwave sudah masak sendiri. Bahkan di kulkas kita menyimpan bahan makanan yang diolah sendiri dan keluar jadi langsung jadi makanan seperti yang di film-film robot, di film Power Rangers, haha.., seloroh Adi.

Tantangan dan Harapan

Masih dengan Adi Gunawan, paparnya jika kita tinjau dari revolusi teknologi, generasi pertama lebih ke analog, kemudian generasi kedua adalah digital, berlanjut generasi ketiga itu adalah nirkabel atau tanpa jaringan kabel dan yang keempat adalah kecepatan teknologi internet atau 4G, lalu kini menuju generasi teknologi kelima atau 5G dengan peningkatan kecepatan. Filosofi dari perubahan-perubahan teknologi itu harus ditangkap sebagai semangat perubahan menuju lebih baik, lebih cepat, lebih berkualitas lebih bermanfaat. Dan lebih lagi hal ini perlu ditangkap oleh para difabel untuk memanfaatkan atau mendayagunakan kemajuan-kemajuan teknologi itu untuk mendukung kehidupan difabel secara pribadi, ujar pria low vision ini.

"Menghadapi kemajuan teknologi, yang pertama bagi difabel adalah meningkatkan kapasitas diri. Kedua, meningkatkan taraf kehidupan dan ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan inklusivitas dengan masyarakat," terang pendiri Adi Gunawan Institut ini. Mengapa ini penting, karena jika kita tidak meningkatkan kapasitas diri, maka tidak akan bisa juga meningkatkan taraf kehidupan. Apalagi dengan kehidupan difabel yang kompleks dengan hambatan-hambatan aksesibilitas dan mobilitas, tersebut mempengaruhi kehidupan yang secara otomatis juga mempengaruhi inklusivitas kita dengan masyarakat di sekitar.

Lanjut Adi, contohnya dengan teknologi 4G yang sekarang ini, tidak semua teman-teman difabel mampu memanfaatkannya. Khususnya difabel netra tidak semua mereka terpapar dengan teknologi lock screen reader. Ada juga mereka yang mengerti tapi enggan mengeksplor lebih dalam lagi. Ada juga yang sekedar bersenang-senang untuk hiburan atau hal lain yang mungkin kurang begitu bermanfaat untuk peningkatan taraf kehidupan.

Kelebihan dari teknologi 5G adalah kecepatan masyarakat di sekitar kita dalam melakukan segala sesuatu itu akan berlipat ganda. Kecepatan mereka akan pergi jauh lebih cepat dari yang kita lihat sekarang ini, mereka bekerja dan melakukan aktivitas apapun bahkan dalam konteks pemenuhan kebutuhan sehari-hari itu akan jauh lebih cepat dari yang sekarang ini.

Namun ini sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi kita kaum difabel kalau kita tidak mempersiapkan diri untuk bisa mengikuti ritme pergerakan masyarakat. Tanpa itu teknologi akan membuat difabel makin jauh tertinggal. Menyadari itu kita harus mulai mempersiapkan diri dengan kedatangan 5G teknologi agar kemungkinan-kemungkinan negatif bisa menjadi ruang positif bagi difabel untuk berkembang melalui penguasaan teknologi.

Harapan saya 5G menjadi teknologi bagi alat bantu difabel atau teknologi akses. Misalkan komputer atau ponsel bagi difabel netra lebih mutakhir untuk menganalisa benda atau mendeskripsikan bentuk wujud suatu benda. Atau mungkin saja nanti ada alat bantu mobilitas bagi difabel netra yang bisa membantu mereka menemukan tempat-tempat baru di tengah kota. Bagi difabel fisik misalnya mereka tinggal berbicara atau atau mereka bisa melakukan sesuatu maka komputer akan langsung otomatis mengetik dengan rinci, atau dengan pola-pola lain itu misalkan dengan simbol kode gerakan tangan komputer akan merespon dan akan langsung memberikan masukan. Dengan demikian hambatan gerak teman-teman daksa dapat diatasi.

Demikian pula bagi tuli nanti akan ada semacam sistem yang akan mendeskripsikan pola isyarat mereka di dalam suara, jadi penerjemah isyarat di masa depan tak lagi bergantung pada manusia melainkan sistem robot canggih. Hal ini akan terwujud melalui teknologi 5G dan teknologi-teknologi terapan yang membarenginya.

Teknologi di tangan difabel juga mampu mengubah peta perpolitikan, peta ekonomi, peta sosial, peta ekonomi dan sebagainya. Contohnya perubahan perubahan dalam dunia marketing jika dulu pusat jual beli adalah toko-toko atau place market sekarang sudah berubah dalam dunia digital. Di era 5G nanti bisa jadi sebagian aktivitas fisik manusia sudah digantikan oleh robot, manusia tinggal menikmati uang dan teknologi. Sementara saat ini sekira 80% masih berkutat bekerja menggunakan tenaga fisik. Dari sinilah kita dituntut untuk mengupgrade diri di segala bidang termasuk IT.

"Pengalaman baik dari saya sendiri sebagai difabel netra, hambatan penglihatan bukan lagi menjadi persoalan sebab pelayanan terhadap klien bisa diatasi oleh penguasaan teknologi dan informasi," pungkasnya.  

 

Penulis : Ken Kerta

Editor   : Ajiwan Arief

 

 

 

Links Referensi:

 

1. Kecepatan Super 5G Bukan untuk Manusia, https://inet.detik.com/telecommunication/d-3506944/kecepatan-super-5g-bukan-untuk-manusia

 

2. 5G Punya Respons 400 Kali Lebih Cepat dari Kedipan Mata, https://www.liputan6.com/tekno/read/3812987/5g-punya-respons-400-kali-lebih-cepat-dari-kedipan-mata

The subscriber's email address.