Lompat ke isi utama
Para peserta sedang mengikuti salah satu sesi

Mencetak Agen Perubahan untuk Wujudkan Desa Inklusi

Solider.id, Yogyakarta- Setiap praktik baik, sudah seharusnya dipertahankan dan disebarkan. Baik kepada setiap orang di wilayah manapun. Dengan demikian praktik-praktik baik atau keberhasilan satu wilayah dapat direplikasi dan diimplementasikan secara lebih luas. Hal itu dilakukan oleh Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel  (SIGAB) Indonesia.

Praktik baik atau keberhasilan Program Rintisan Desa Inklusi (RINDI) pada delapan desa di Kabupaten Kulon Progo dan Sleman, sejak 2016 sampai 2018 akan direplikasikan di wilayah lain. SIGAB mengemasnya dalam sebuah kegiatan “Pelatihan Kader Desa” yang digelar selama tiga hari, 10-11 Januari 2019. SIGAB memfasilitasi kader difabel desa untuk mencapai masyarakat yang inklusi, sebagaimana misi di dalam program RINDI.

Notabene para peserta adalah para kader baru yang mewakili desa masing-masing. Kegiatan tersebut bertujuan agar para kader difabel mampu mengorganisir kelompok dan proses-proses pembangunan di desa. Mencetak agen-agen perubahan untuk mewujudkan desa inklusi.

Pelatihan diselenggarakan di Wisma Sargede, Jalan Pramuka, Pandean, Umbulharjo, Yogyakarta. Diikuti 30 kader desa, baik difabel maupun nondifabel dari 11 kecamatan yang berada di Kabupaten Sleman dan Kulon Progo. Kesebelas kecamatan tersebut ialah: Sindutan, Ngetiharjo, Karangsari, Banyuroto, Banjararum, Hargomulyo, Hargorejo, Pandoan dan Giripeni, Kulon Progo. Serta Jogotirto dan Tegaltirto wilayah Sleman.

Mengenali kader difabel

Para peserta berangkat dari latar belakang yang berbeda. Ada yang sudah aktif sebagai pegiat isu kelompok rentan, beberapa adalah pengurus Kelompok Difabel Desa (KDD), ada pula yang baru bergabung dengan kelompok difabel. Pekerjaan mereka pun variatif, ada yang tadinya bekerja sebagai koki di hotel, service motor dan ada pula petani penyadap getah kelapa, bahkan ada pula yang tidak bekerja.

Pemahaman mereka tentang isu difabel pun juga beragam. Beberapa dari mereka, mengaku baru mengenal penggunaan istilah difabel pada saat mengikuti pelatihan. Sebelumnya istilah ‘cacat’ yang diketahui dan digunakan. Adapun kesamaan dari mereka adalah, mereka sama-sama memiliki komitmen bergerak bersama mewujudkan inklusivitas di desa masing-masing.

Solider mencatat, separuh dari jumlah kader yang mengikuti pelatihan adalah para difabel fisik. Ada yang menggunakan kursi roda, tongkat, ada juga yang tanpa alat. Solider juga memperoleh keterangan dari salah seorang peserta yang bernama Setiyo Kapuji, sebagian besar kader menjadi difabel akibat kecelakaan. Ada yang karena terjatuh dari pohon, ada yang diamputasi karena sakit gula, ada pula yang akibat kecelakaan lain.

Lulus sesi depresi

Depresi, putus asa, kehilangan percaya diri, mengurung diri, malu, mudah tersinggung, menjadi sisi cerita masa lalu para kader yang menjadi difabel karena kecelakaan.  Masa-masa buruk pernah menjadi bagian masa lalu, meski pada akhirnya sesi depresi itu berhasil dilalui.

Setiyo Kapuji (42), bapak satu anak ini menjadi difabel karena penyakit gula. Warga Sideman, Giripeni, Wates, Kulon Progo ini, pada akhir Februari 2017. Dia harus merelakan kaki kanannya diamputasi. Meski mengatakan rela, tetap saja ada kesedihan yang menghinggapi Setiyo. “Melihat anak saya yang baru berumur tiga bulan, itu yang membuat saya sedih. Bagaimana nanti dia sekolah, masa depannya?” kisahnya.

Namun, dia sadar kondisi tersebut tidak harus membuatnya terpuruk dalam kesedihan. Menurutnya, menjadi siapa pun, dia harus bisa menjadi contoh dan membanggakan bagi anak-anaknya. “Dan benar saja, anak saya mampu menguatkan saya,” lanjut Setiyo.

Tidak berbeda dengan Sumarno (52),dia menjadi difabel juga akibat kecelakaan. Bapak dua orang anak pemilik usaha service sepeda motor itu sempat mengalami perasaan buruk dan depresi paska kecelakaan. Tidak berguna yang membuatnya menjadi orang yang mudah tersinggung dan marah.

Jika Setiyo menjadi kuat karena anaknya yang masih kecil, Sumarno bangkit dari depresi karena menyaksikan tayangan program sebuah stasiun televisi swasta. Program Hitam Putih Trans 7 yang menayangkan difabel netra yang berjualan kerupuk untuk bertahan hidup, itulah yang membuat Sumarno bangkit. “Saya harus bisa berguna bagi diri sendiri, dan Sumarno yang mengaku dikarunia anak dengan difabilitas intelektual  usia 15 tahun,” tuturnya.

Demikian pula dengan Sumidi (54) dan Sugiyanto (45) yang menjadi difabel karena jatuh dari ketinggian saat menderes pohon kelapa, depresi itu pernah menjadi bagian hidup mereka.

Berguna bagi sesama

Memperjuangkan hak difabel yang hingga detik ini belum memiliki kegiatan, belum bisa berkumpul, bahkan disembunyikan oleh keluarganya, menjadi semangat para kader difabel desa inklusi. Mereka juga ingin dapat memotivasi difabel lain yang terbatas informasi, mobilitas, maupun support finansial, agar tetap perpikir dan bertindak positif. Sehingga nilai inklusivitas dan kesetaraan terbangun di desa.

Usai mengikuti pelatihan para peserta ingin berjuang bersama warga. “Dengan harapan dapat menempatkan martabat dan kemandirian difabel sebagai modal utama mencapai kualitas hidup di tengah masyarakat inklusif,” harap Hasta Nurani (35) salah satu pezserta kepada Solider, Kamis (10/1).

Reporter                                 : Harta Nining Wijaya

Editor                                      : Robandi

The subscriber's email address.