Lompat ke isi utama
Yohanes Bagus Kurniawan Susanto sedang memegangi salah satu piala yang ia raih dari bakat bermain pianonya

Pianis Muda Difabel Netra yang Harumkan Kota Semarang

Solider.id, Semarang- “Practice makes perfect” begitulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan ketekunan Yohanes Bagus Kurniawan Susanto, pianis muda difabel netra dalam mengasah kepiawaiannya bermain piano.

Latihan keras yang Bagus lakukan selama ini sukses menghadiahinya penghargaan-penghargaan yang kini menghiasi dinding rumahnya. Hambatan penglihatan yang remaja belasan tahun ini alami sejak lahir, tidak sedikit pun membatasinya untuk membanggakan kedua orang tuanya dan kota tempatnya berasal.

Ketika Solider berkunjung ke rumah Bagus pada Rabu (9/1), di kawasan Perumahan Jangli Permai Semarang, Thomas Muchsin.

Ayah Bagus mengisahkan perjalanan Bagus dan keluarga dalam memperkenalkan musik hingga kini ia memiliki segudang prestasi. Mulanya, Thomas dan istri, Susana Kasini tidak memperhatikan bahwa ia mengalami kedifabilitasan. Ia terlahir prematur pada usia kandungan masih sekitar enam bulan. Dulunya, orangtua Bagus tidak menyadari bahwa kedua matanya mengalami hambatan penglihatan.

“Pada sekitar usia lima atau enam bulan kami baru mengetahui ada yang berbeda dengan mata Bagus. Saat berjemur di teras rumah, mata Bagus tidak bereaksi terhadap sinar matahari,” Thomas.

Setelah melakukan pemeriksaan dan mengetahui hasil dari rumah sakit, Thomas dan Susana sempat mengalami kebingungan. Sebagai orangtua yang masih awam dengan dunia difabilitas, mereka mengkhawatirkan bagaimana masa depan anaknya.

Keduanya terus berupaya untuk mencari informasi agar mereka tidak terlambat memberikan penanganan kepada Bagus. Akhirnya, ketika mereka mendatangi YPAC Semarang, Bagus kecil kemudian disekolahkan ke SLB A Dria Adi yang berlokasi di Puri Anjasmoro Semarang.

Atas inisiatif Thomas dan istri, sewaktu Bagus berusia dua tahun, mereka membelikan pianika yang ditiup secara manual untuk merangsang bakat musik putranya. Lalu, mengetahui Bagus menunjukkan ketertarikannya terhadap pianika tersebut, Thomas menghadiahinya keyboard sederhana pada ulang tahun Bagus yang  ke-3.

Pada usianya yang masih begitu dini, Bagus sudah bisa merekam permainan musiknya sendiri dengan keyboard baru tersebut. Setelah masuk sekolah, Bagus diikutkan les musik dengan guru di sekolahnya.

Dari sekian banyak alat musik, remaja yang menyukai musik klasik ini begitu jatuh hati pada keyboard dan piano.

“Saya suka musik itu kira-kira mulai kelas 5. Awalnya, saya kalau latihan harus dimarahi dulu. Sekarang saya mengerti apa tujuannya saya harus rajin berlatih,” ujar Bagus.

Thomas menceritakan permulaan Bagus tampil di depan umum adalah ketika ditunjuk untuk mewakili sekolah di tingkat kota ketika ia masih duduk di bangku kelas empat. Pada kompetisi pertamanya, Bagus belum berhasil menyabet gelar juara. Pada kompetisi-kompetisi musik selanjutnya Bagus selalu menduduki kursi terdepan sebagai pemain musik terbaik.

Saat kelas lima akhir menuju kelas enam, Bagus ditunjuk langsung oleh pegawai dinas Kota Semarang untuk mewakili lomba di tingkat provinsi dan ia lulus memukau juri sehingga meraih juara 1 tingkat provinsi.

Jemarinya yang lincah memainkan melodi-melodi juga berhasil mengalahkan peserta berkebutuhan khusus lainnya ketika mengikuti festival musik di Palembang. Bagus kembali menjadi pemegang tropi juara 1 nasional pada kompetisi tersebut.

Di 2016, pada perlombaan tingkat Jateng dan DIY kategori umum, dari 29 peserta Bagus sukses masuk 5 besar terbaik. Pada September 2016, Bagus kembali menjadi pemenang ke-II dengan membawa pulang Piala Walikota Semarang.

Tak berhenti di situ, pada suatu kompetisi musik tingkat Jawa dan Bali yang dilaksanakan pada 2017 memperebutkan Piala Gubernur Jawa Tengah, Bagus memperoleh juara harapan II. Berikutnya, pada pada 2018 bulan Maret, dari dua kategori (bebas dan wajib) yang Bagus ikuti, ia menduduki kursi juara II.

Peserta dari kompetisi yang diselenggarakan di Hotel Gets kawasan Jalan MT. Haryono Semarang ini cukup besar. Orangtua Bagus sangat merasa bangga putra mereka dapat menduduki posisi terbaik kedua. Menutup tahun 2018 bulan November, Bagus mencetak prestasi sebagai pianis muda berbakat dengan menempati juara 1 lomba musik yang diselenggarakan di Semarang Town Square.

Dengan sederetan prestasi yang telah diukirkan Bagus, remaja putra yang mengalami hambatan penglihatan ini telah membanggakan kedua orangtuanya serta orang-orang di sekitarnya. Bagus ingin suatu hari nanti dia bisa membagikan ilmunya kepada orang lain.

“Kalau sudah tambah sukses nanti aku ingin bisa ngajarin orang,” pungkas Bagus, bersemangat.

Walaupun sempat merasa bosan berlatih semasa kecil, kini Bagus sudah mengerti kenapa ia harus terus belajar musik. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan orangtuanya yang telah mendaftarkannya untuk mengikuti les piano di area dekat rumahnya.

Bagus belajar di tempat les bersama anak-anak non-difabel setiap hari Senin sekali dalam seminggu. Sedangkan jika mendekati lomba biasanya Bagus latihan, dua sampai tiga kali dalam sminggu. Ketika di rumah, rata-rata Bagus berlatih dua jam setiap hari.  “Kalau mau lomba, saya seringnya latihan sampai musiknya jadi,” cerita Bagus.

Bagi bagus, siapapun lawannya dalam lomba yang terpenting adalah menunjukkan kemampuan yang terbaik dan berdoa. Meski pernah merasa gugup, ia selalu tampil percaya diri dalam setiap penampilannya. Bagus juga tidak mengabaikan tanggung jawabnya sebagai pelajar. Kemampuan akademiknya pun menunjukkan hasil yang tidak mengecewakan. Ia tergolong anak yang cerdas dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi.

Menurut Thomas, mengasuh anak difabel itu ialah kesempatan istimewa yang diberikan oleh Tuhan. “Anak difabel itu tidak boleh disembunyikan karena mereka itu bukan suatu hal yang memalukan,” tuturnya.

Thomas mengikutkan Bagus les dan lomba dengan orang nondifabel agar masyarakat juga tahu bahwa anak difabel juga memiliki banyak talenta dan mampu berprestasi. Harapannya, dengan usaha tersebut diskriminasi dapat terhapuskan perlahan demi perlahan.

 

Reporter                                              : Agus Sri

Editor                                                    : Robandi

The subscriber's email address.