Lompat ke isi utama
Contoh ilustrasi kebvutuhan difabel dalam menikmati tayangan film (Kredit Foto: Google)

Optimalisasi Aksesibilitas Tempat dan Penayangan Film Bioskop

Solider.id, Bandung– Setiap orang memiliki hak yang sama dalam mengakses ruang publik, seperti fasilitas untuk mendapatkan hiburan atau kawasan untuk berwisata.

Salah satu tempat hiburan yang dapat dinikmati oleh semua umur adalah bioskop. Dengan menghadirkan berbagai film yang berjenjang secara usia, menandakan bioskop dapat diakses oleh anak-anak, remaja, dewasa, orang tua hingga para lanjut usia.

Bagi sebagian masyarakat, menonton film di bioskop merupakan ajang untuk berkumpul, mengisi hari libur, menikmati hiburan atau bermain bersama keluarga. Semakin maraknya film nasional diproduksi, selain membangkitkan film di tanah air juga meningkatkan minat penontonnya. Termasuk masyarakat difabel.

Banyak tayangan film baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang menyuguhkan efek edukasi, motivasi, inspirasi, bahkan teknologi yang mampu memberikan pesan sosial dan pesan moral yang positif.

Pada penayangannya di bioskop tertentu, film produksi dalam negeri ada yang telah mampu ditambahkan teks tulisan dialog atau yang disebut dengan terjemahan teman Tuli. Tentu saja ini menjadi salah satu nilai lebih dari aksesibilitas sebuah tayangan film bioskop, yang kemudian dapat dinikmati pula oleh masyarakat difabel dengan hambatan pendengaran.

Akses berupa tulisan teks ini pun rupanya dapat membuat para difabel Tuli ikut serta untuk menikmati layanan publik di gedung bioskop. Sarana hiburan yang selama ini diabaikan karena terkendala oleh sarana aksesibilitas bagi mereka, kini perlahan dapat terfasilitasi. Sehingga, saat menonton tayangan bioskop yang sedang diputar, mereka pun memahami alur cerita, tema dan isi pesan yang disampaikan dalam film tersebut.

Sebenarnya film bioskop dapat dimikmati oleh semua masyarakat difabel. Letak gedung bioskop yang notabennya berada di pusat perbelanjaan atau mall, telah dilengkapi fasilitas lift sehingga difabel pengguna kursi roda atau alat bantu kruk mudah mengakses. Bahkan ada pula yang telah menyediakan ramp tembok permanen agar terhindar dari undakan anak tangga.

Optimalisasi aksesibilitas tempat dan penayangan film bioskop dapat terus ditingkatkan, sehingga apa pun jenis kedifabelan yang dimiliki atau alat bantu yang digunakan bukan lagi menjadi sebuah halangan. Akses publik memang diperuntukan bagi semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Semua memiliki hak yang sama sebagai pengguna rasana dan prasarana ruang publik. Dan siapa pun dapat ikut berperan di dalamnya. Misal saja, yang berhubungan dengan film dan bioskop untuk masyarakat difabel.

Untuk difabel Tuli

Pembuatan film perlu diberikan subtitel atau teks tulisan agar difabel Tuli dapat memahami tetang isi dalam cerita film yang ditayangkan. Sehingga mereka bisa menerima semua informasi melalui alur film yang dinikmatinya. Difabel dengan hambatan pendengaran dapat melihat langsung gambar, lokasi dari tayangan yang disaksikannya. Namun, tanpa adanya subtitel atau teks tulisan, difabel Tuli hanya akan melihat sebuah gambar, adegan, lokasi, yang ditampilkan tanpa

Untuk difabel Netra

Akses film secara audio bisa nimkati oleh penonton difabel Netra. mereka dapat memahami jalan cerita dari tayangan film yang sedang diputar. Dialog, intonasi akting mudah dipahami lewat indra pendengaran mereka. Hanya saja, para difabel Netra sulit memahami lokasi atau kondisi fisik dan situasi lokasi dari film yang ditonton.

Difabel Netra memerlukan bantuan sesorang untuk mendeskripsikan visual yang ditampilkan dalam film tersebut. Pemandu ini biasanya sering juga disebut sebagai teman bisik, yang dapat dilakukan oleh siapa pun. Keberadaan teman bisik ini difungsikan untuk membisikan tentang berbagai hal yang dikondisikan dalam film tersebut. Misalkan, kondisi lokasi, warna, bentuk, fashion, atau gerakan akting yang dilakukan tanpa terdengar bunyi dialognya.

Sehingga, melalui imajinasinya difabel Netra mampu memahami film yang tayangkan dari perpaduan antara dialog maupun bunyi yang didengarkan secara langsung dan bisikan visualisasi dari teman bisisk untuk keseluruhan lokasi film.

Untuk difabel Daksa pengguna kursi roda

Secara visual maupun audio, untuk difabel Daksa mudah mengaksesnya. Secara kondisi umum dari sebuah gedung bioskop, bagi pengguna alat bantu kruk mungkin tidak menemukan hambatan yang besar. Mereka masih mampu mengakses semua fasilitas yang ada, dan dapat menikmati film dengan mudah tanpa perlu bantu lebih banyak lagi. Kondisi lantai yang biasaya diberi karpet, memudahkan kruk untuk melangkah karena tidak licin. Undakan di barisan nomor urut kursi pun masih dapat diatasi dengan kehati-hatian.

Namun, lain halnya dengan difabel Daksa pengguna kursi roda. Mereka memiliki kesulitan saat harus berpindah tempat duduk dari kursi roda menuju kursi baris bioskop. Tak jarang untuk berpindah sesuai dengan nomor kursi pada tiketnya, mereka ada yang harus digendong atau bahkan diangkat oleh lebih dari satu orang.

Atau, bila ingin tetap duduk di kursi rodanya mereka biasanya di tempatkan di depan barisan kursi bioskop paling depan. Artinya jarak pandang saat menonton diluar garis rasa nyaman yang telah disediakan, atau menjadi lebih dekat dengan layar.

Kondisi ini yang kurang nyaman bagi pengguna kursi roda ini sering membuat mereka enggan mengunjungi ruang publik seperti bioskop. Padahal, secara akses dari filmnya mereka dapat melihat dan mendengar langsung tanpa dibantu. Keadaan infrastuktur yang menjadi penghambat tersebut sebenarnya masih bisa dihilangkan.

Bagi difabel Daksa pengguna kursi roda, pihak bioskop dapat menyediakan area khusus. Misalnya, sejajar dengan deretan kursi pertama dengan mengosongkan sedikit area agar kursi roda masuk sejajar dengan kursi bioskop. Atau disediakan juga di barisan lain yang difasilitasi ramp sebagai pengganti undakan dan diletakan di dekat jalur jalan agar memudahkan pengguna kursi roda saat masuk maupun keluar area tersebut.

Siapa pun berhak ke bioskop. Masyarakat difabel juga berhak nonton film, meski untuk para difabel masih memiliki tingkat kesulitan dalam mengaksesnya. Dengan konsep fasilitas yang dapat ditambahkan atau diubah sesuai kebutuhannya, dengan bantuan atau kepedulian menjadi teman bisiknya, mereka pun dapat menikmati tayangan bioskop secara maksimal.

Mengoptimalisasikan aksesibilitas tempat dan penayangan film bioskop memang memerlukan kerja sama dari berbagai pihak. Mulai dari pihak produksi film yang sudah semestinya menyediakan teks tulisan, hingga infrastuktur dari konsep barisan kursi penonton dan menyediakan area khusus untuk pengguna kursi roda oleh pihak pengelola bioskop.

Dengan demikian, masyarakat difabel yang menikmati fasilitas bioskop dapat dengan mudah mengaksesnya secara nyaman dan aman.

Penayangan film-film produksi dalam negeri yang telah mengadakan penambahan subtitel atau teks tulisan mampu menyedot kunjungan dari difabel Tuli. Sangat tidak heran, bila dari mereka menyaksikan film layar lebar di bioskop merupakan hal yang pertama kalinya dinikmati. Mengingat selama ini masih sangat jarang film tayangan bioskop yang menggunakan teks tulisan.

Semoga dengan aksesnya film bioskop untuk difabel Tuli, dapat memberikan ruang kesempatan aksesibilitas untuk difabel lainnya seperti Netra dan Daksa pengguna kursi roda.

 

 

Reporter                                 : Srikandi Syamsi

Editor                                      : Robandi

The subscriber's email address.