Lompat ke isi utama
Cheta Nilawaty wartawan Tempo

Cheta Nilawaty: Banyak Jalan Perangi Stigma

Solider.id, Semarang- Seorang perempuan difabel netra yang berforfesi sebagai wartawan gigih memerangi stigma dengan berita.

Profesi jurnalis atau wartawan merupakan suatu tanggung jawab yang tidak ringan. Setiap berita yang dipublikasikan menuntut fakta pendukung informasi. Oleh karena itu, mereka memerlukan panca indera untuk mengamati, mewartakan dan menyimpulkan suatu peristiwa secara empiris.

Kemudian, bagaimanakah jika seorang yang berprofesi sebagai jurnalis tersebut adalah seorang difabel seperti difabel Bisu Tuli atau Netra? Apakah berita yang mereka laporkan tidak dapat diterima kevalidannya?

Mencoba menjawab pertanyaan tersebut, Solider mencoba mewawancarai seorang perempuan yang sedang dalam masa transisi dan telah lama bekerja di bidang jurnalistik dari ia melihat hingga kini menjadi difabel Netra.

Ia bernama Cheta Nilawaty. Di usianya yang ke 36 ia bekerja menjadi wartawan Tempo.co, salah satu media ternama di Indonesia. Menurutnya ada beberapa perbedaan yang ia alami antara sewaktu masih melihat dan selama menjadi seorang wartawan dengan hambatan penglihatan.

“Perbedaan utama adalah dari segi visual. Saya tidak dapat lagi memberikan laporan pandangan mata. Dengan kata lain, saya sudah tidak mampu lagi menggunakan lima indera. Indera yang tersisa yang dapat dipergunakan yaitu tersisa indera pendengaran, penciuman dan perabaan,” jelas perempuan yang telah bekerja sebagai jurnalis selama kurang lebih 12 tahun ini.

Namun, kedifabilitasannya tidak lantas menghempaskannya sebagai pengangguran. Kantor tempatnya selama ini bekerja tetap memberikan kesempatan untuk berkarier. Demi menunjukkan kemampuannya bekerja, solusi yang ia gunakan untuk mengatasi hambatan adalah dengan memakai jasa pendamping atau yang disebut juga dengan “Usher”.

Perempuan yang baru mengalami kedifabilitasan selama dua tahun ini mengaku kesulitan terbesar yang dihadapi ialah ketika harus melakukan wawancara cegat depan pintu atau kolega wartawannya menyebut dengan istilah door stop. Dalam hal ini, tentu menjadi kendala tersendiri bagi difabel Netra untuk berdesak-desakan dengan wartawan dari media lain. Di kondisi seperti inilah jasa usher ia andalkan untuk mengantarnya mewawancarai narasumber.

Menurut Cheta,-sapaan akrabnya, profesi wartawan tidak mustahil untuk tetap ditekuni oleh difabel Netra. Bermodalkan logika berpikir dan kemandirian dalam menuliskan berita menggunakan komputer dengan pembaca layar, ia yakin dan mampu menghasilkan berita yang berkualitas.

Di sisi lain, ia juga mewajibkan dirinya membuat dokumentasi selama melakukan wawancara seperti menyimpan rekaman atau membuat video. “Rekaman dapat dijadikan sebagai bukti kuat kalau ada somasi dari pihak yang tidak berkenan dengan pemberitaan tersebut,” tutur perempuan asal Depok, Jawa Barat ini.

Keberadaan pendamping sangat berperan penting sebagai bukti hukum adanya seseorang yang menjadi saksi mata. Di samping itu, pendamping juga bertugas merekam video waktu wawancara dengan nara sumber. Metode ini juga dilaksanakan untuk memenuhi kaidah jurnalistik sebagai pengganti indera penglihatan.

Selain video, wawancara melalui rekaman telepon atau pesan suara pada sosial media juga dapat dipakai sebagai bukti yang kuat. “tanpa adanya bukti, suatu berita dapat rawan somasi. Pihak-pihak yang tidak terima akan mencari celah hukumnya,” ungkap perempuan yang berlatar belakang pendidikan bidang hukum ini.

Cheta pun sempat mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari nara sumber. “Saya pernah mendapati nara sumber yang hilang kepercayaan pada saya. Mereka meragukan jika saya salah dalam menulis berita,” kisah pengisi kanal Difabel di Tempo ini.

Meski demikian, Cheta menjelaskan tidak semua orang bersikap sama. Beberapa di antara narasumber justru bersikap kooperatif. Mereka membantu membuka jalan untuk mengangkat isu difabilitas.

Sebelum menjadi difabel, Cheta bertugas mengisi kanal yang berbeda pada setiap periode di Tempo. Lalu, setelah menjadi difabel Netra, ia diberi kesempatan khusus untuk mengangkat tema-tema difabel di Tempo.co dengan dibuatkannya kanal khusus difabel.

Kiat khusus yang ia sampaikan bagi jurnalis difabel Netra harus teliti membaca ulang dan mengeja kata. Apabila satu huruf hilang, hal tersebut dapat mengaburkan arti, makna dan konteks kalimat. Jika memang tidak yakin dengan apa yang didengar dari narasumber, disarankan untuk meminta kata tersebut untuk dieja.

Cheta mengungkapkan bahwa pihak Tempo berupaya memfasilitasinya sebaik mungkin. Biaya untuk pendamping pun mendapat bantuan dari pihak kantor. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa kantor tempatnya bekerja berusaha memberikan akomodasi sesuai apa yang ia butuhkan.

Kisah tersebut merupakan gambaran nyata gigihnya seorang difabel dalam menunjukkan profesionalisme dalam bekerja. Tidak jarang khalayak umum memandang sebelah mata kemampuan difabel. Cerita Cheta hanya satu dari sekian perjuangan difabel di Indonesia untuk dapat setara dengan masyarakat nondifabel.

 

 

Reportrer                               : Agus Sri

Editor                                      : Robandi

The subscriber's email address.