Lompat ke isi utama
Sumber foto : World Premiere Film Keluarga Cemara di Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018 (A1)

Film Keluarga Cemara dalam Kaca Mata Difabilitas

Solider.id, Surakarta- Film Keluarga Cemara adalah potret sehari-hari kebanyakan keluarga Indonesia. Film Keluarga Cemara adalah tentang kita. Kebangkrutan ekonomi bisa menimpa siapa saja, entah penyebabnya adalah bencana alam, atau faktor manusia seperti menjadi korban tipu muslihat atau kelakuan kalah berjudi. Nah, keluarga Abah ini disebabkan oleh rente yang menjerat adik iparnya. Rumah dan seisinya telah diagunkan oleh sang adik ipar. Memakan waktu durasi tak lebih dari dua puluh menit awal cerita dari film.

Kisah berikutnya bisa ditebak, seperti halnya dalam sinteron Keluarga Cemara besutan Arswendo Atmowiloto yang melegenda di tahun 1990, Abah bersama keluarga pulang ke rumah warisan orangtua di pinggiran Bogor. Mereka menjauh dari hiruk-pikuk kota Jakarta. Tema dari film ini sebenarnya adalah bagaimana masing-masing anggota keluarga seperti Abah, Emak, Euis dan Cemara bisa tangguh dalam segala ujian. Abah yang harus mencari kerja dan ditolak oleh perusahaan. Emak yang kemudian berjulan Opak dan si Euis yang menjajakannya dengan rasa malu pada awalnya. Anak generasi Z yang semula hidup berkecukupan dan metropolis kemudian menghayati sebagai pelajar yang harus beradaptasi hidup di desa. Demikian pula Cemara, yang selalu ceria dalam keadaan, susah dan senang, sangat bisa mengambil hati setiap penonton film ini.

Memang tidak mudah seperti membalik telapak tangan atau memalingkan wajah, namun, kekuatan setiap anggota keluarga tetap bertahan dalam kehidupan yang dijalani menjadi momen-momen yang mengharukan. Ditunjang dengan adegan percakapan dan peran yang dimainkan dengan sangat apik oleh masing-masing pemain, film Keluarga Cemara menurut saya sangat kuat akan pesan-pesan moral sebuah keluarga.

Abah yang Tiba-Tiba Menjadi Seorang Difabel

Di tengah semangat yang menggempur untuk bekerja menjadi seorang tukang batu, Abah mengalami kecelakaan. Ia jatuh dan terperosok saat bekerja dan mengakibatkan kaki kanannya patah. Tidak dijelaskan bagaimana Abah menjalani pengobatan, hanya gambaran kesehariannya dengan kaki berbalut spalk dan kain perban serta ber-kruk. Sejak kecelakaan, Abah tidak lagi berdaya secara ekonomi. Gambaran itu begitu jelas, dengan layar yang memperlihatkan Abah yang hanya berkegiatan duduk-duduk di kursi, diganti balut perbannya oleh Emak. Sekali membawa sendok semen, menambal lantai rumah. Beruntung Emak masih berjualan opak.

Sampai kemudian Emak mengandung anak ketiga, dan perut semakin membesar. Abah masih saja diperlihatkan masih menggunakan kruk untuk berjalan. Pada sciene ini, memang tidak ada tayangan yang mengharubiru, atau menimbulkan belas kasih sebagai seorang keluarga dengan kepala keluarga seorang difabel yang tidak berdaya secara ekonomi. Sutradara Yandy Laurens tidak ingin terjebak seperti pada tayangan-tayangan televisi pada jam-jam tayangan premier, tentang kondisi keterpurukan difabilitas yang dikemas dengan berbasis charity. Saya pikir, pesan dalam adegan-adegan ini adalah seseorang, baik kaya atau miskin bisa tiba-tiba menjadi seorang difabel, yang menjadikannya tidak berdaya secara ekonomi. 

Film Keluarga Cemara tidak hendak menjual kesedihan, kemenderitaan. Keharuan saya terbangun justru ketika percakapan-percakapan terjadi di antara sesama anggota keluarga. Abah masih memegang kuat budaya patriarki, bahwa seorang ayah adalah pemegang tanggung jawab (ekonomi) dalam keluarga, “Kalian semua adalah tanggung jawab Abah,” salah satu kutipan kalimat Abah meyakinkan keluarganya. Tak dinyana, jawaban Euis membuat saya menangis,”Lalu Abah tanggung jawab siapa?”

Pekerjaan baru segera datang. Jika di sinetron Keluarga Cemara digambarkan Abah bekerja sebagai tukang becak, maka di film ini, segera setelah kakinya sembuh, Abah bekerja menjadi tukang ojek online. Perusahaan Go-Jek menjadi sandaran pekerjaan Abah sekarang. Seturut dengan berita-berita yang tayang di media sosial tentang kisah-kisah di balik kehidupan sopir ojek online, kehidupan keluarga Abah pun sepertinya wajar dan tak berlebihan, sangat natural. Pun tatkala muncul sanggahan kepatriarkian Abah tentang laki-laki menjadi satu-satunya penanggung jawab keluarga, yang kemudian dipatahkan oleh kawan pengojek perempuan.

Film Keluarga Cemara adalah sebuah film keluarga yang pantas untuk ditonton setiap anggota keluarga Indonesia. Didukung dengan kekuatan peran masing-masing pemain seperti Agus Ringo dan Nirina Zubir, akting Zara sebagai Euis dan Widuri sebagai Cemara patut mendapat acungan jempol. Kekuatan skenario yang menyisipkan pesan-pesan moral yang ‘terselubung’ seperti ajakan mencintai pohon dan hutan, menjadikan film ini bukan film yang menggurui. Apalagi ditunjang akting Asri ‘Welas” yang komedial dan konyol, sungguh film Keluarga Cemara layak menempati peringkat atas dalam jajaran film Indonesia yang tayang mengawali tahun 2019.
Film Keluarga Cemara akses pula untuk Tuli. Penyediaan subtitle atau Teks Teman Tuli (TT) seperti disampaikan oleh akun Instagram Koneksi Inklusif Indonesia (konekin) bahwa penyediaan Teks ada di beberapa bioskop tertentu seperti di kota-kota sebagai berikut : Jogja di Empire XXI, Solo di Solo Square, Makasar di M'Tos XXI dan Panakukkang 21, Bandung di Transmart Buah Batu, Bogor di BTM dan Depok XXI dan beberapa kota lainnya.

 

 

Judul Film     : Keluarga Cemara

Awal tayang   : 3 Januari 2019

Pemain       : Agus Ringo Rahman, Nirina Zubir, Zara (JKT 48), Widuri, Asri “Welas”

Sutradara     : Yandy Laurens

Produser      : Gina S. Noer

 

Peresensi      : Puji Astuti 

Editor             : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.