Lompat ke isi utama
Salah satu proses cetak buku braille mentranformasikan ke dalam hurup timbul di Percetakan Braille Abiyoso.

Braille Merupakan Transformasi Aksara Yang Bisa Diraba

Solider.id, Bandung – Bila melihat kembali kepada sejarahnya, Seorang Louise Braille dari Prancis, yang kemudian kita kenal sebagai penemu tulisan braille, terus berupaya untuk membuat kemudahan baca tulis bagi dirinya yang merupakan sosok difabel Netra. Melalui kegigihannya bereksperiment, ia berhasil menciptakan huruf timbul yang dapat diraba oleh difabel dengan hambatan penglihatan seperti kondisi yang dialaminya.

Berkat hasil temuan Louise Braille tersebut, hingga sekarang masyarakat difabel Netra mampu mengenali tulisan dan dapat duduk di bangku pendidikan khusus maupun inklusif. Banyak juga difabel Netra yang mengenyam pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi dan kemudian berkesempatan menjadi pegawai negeri, pekerja kantoran, tenaga pendidik, ahli marketing online, ahli bidang Ilmu Teknologi dan sebagainya.

Hari Braille Dunia atau yang kemudian kita kenal dengan Hari Braille Internasional, telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam setiap tahunnya pada tanggal 4 Januari. Ketetapan ini merupakan buah hasil perjuangan organisasi persatuan difabel Netra atau World Blind Union (BWU).

Pada saat perjuangan berlangsung, mereka yang tergabung dalam organisasi difabel Netra memiliki tujuan utama yaitu: agar masyarakat difabel Netra mendapatkan akses pendidikan terbaik. Mereka memiliki kesadaran yang cukup tinggi, untuk turut mengenyam dan menyerap berbagai ilmu pengetahuan seperti masyarakat lain pada umumnya. Melalui bidang pendidikan, akses kehidupan lainnya dapat terbuka lebar bagi mereka.

Mengutip keterangan tertulis pada Senin (17/12/2018), Presiden World Blind Union, Fred Schroeder menyampaikan, ‘Braille adalah kegiatan mentranfer hurup ke dalam tulisan yang bisa diraba. Yang berarti membuka akses bagi tunanetra terhadap bacaan, yang berarti membuka akses pendidikan, yang berarti membuka akses kesempatan kerja.’ (Dilansir dari Tempo.Co)

Disebutkan oleh Fred Schroeder, melalui akses bacaan akan mampu membuka akses pendidikan dan berlanjut kepada akses kesempatan kerja. Ini berarti taraf level kehidupan masyarakat difabel Netra secara ekomoni dan kesejahteraannya, bisa dimulai dari akses bacaan yang mampu mengkaji informasi serta peluang-peluang lain dalam kesehariannya.

Di Indonesia, dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas, mengurutkan pula perihal Pendidikan untuk para masyarakat difabel secara menyeluruh.

Pasal 40 ayat (1): ‘Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi pendidikan untuk penyandang Disabilitas di setiap jalur, jenis, dan jenjang pendidikan sesuai dengan kewenangannya.’

Ayat (2): ‘Penyelenggaraan dan/atau fasilitasi pendidikan untuk penyandang Disabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam sistem pendidikan nasional melalui pendidikan inklusif dan pendidikan khusus.’

Memfasilitasi akses pendidikan untuk para masyarakat difabel, termasuk difabel Netra menjadi kewajiban pemerintah pusat maupun daerah. Dalam cakupannya bukan hanya terletak pada pembangunan infrastuktur saja, lebih dari itu sarana lain yang digunakan dalam proses belajar mengajar pun di wajibkan akses bagi semua kedifabelan. Termasuk di dalamnya mengajarkan huruf braille dan menyediakan buku-buku braille untuk difabel Netra.

Pasal 41 ayat (1): ‘Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi pendidikan inklusif dan pendidikan khusus sebagaimana dimaksud dalam pasal 40 ayat (2) wajib memfasilitasi penyandang Disabilitas untuk mempelajari keerampilan dasar yang dibutuhkan untuk kemandirian dan partisipasi penuh dalam menempuh pendidikan dan pengembangan sosial.’

Ayat (2): ‘Keterampilan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi; a) Keterampilan menulis dan membaca hurup braille untuk penyandang Disabilitas Netra, ....

Keterampilan dasar menulis dan membaca huruf braille bagi difabel Netra di Indonesia pun menjadi sebuah kewajiban yang dibutuhkan untuk menunjang kemandirian. Dengan memiliki kempauan tersebut, difabel Netra dapat menggali informasi yang dibutuhkan tanpa ketergantungan kepada pihak lain.

Meskipun istilah Reader atau layanan jasa yang membantu untuk membacakan tulisan, seperti buku-buku yang belum dialihkan ke dalam hurup braille memang ada. Melalui kemajuan teknologi saat ini telah hadir pula mesin membaca teks yang disebut Screen Reader Program.

Intinya,  difabel Netra diharuskan dapat mengakses tulisan braille yang dapat diraba sendiri guna menunjang kemandirian dalam aktifitasnya.

Secara umum kita biasa mengenal  braille sebagai akses yang digunakan oleh difabel Netra untuk membaca dan menulis. Huruf braille memiliki sisi keunikan tersendiri, selain memiliki bentuk yang timbul di permukaan kertas atau media tulis, struktur yang dimilikinya pun terdiri dari enam buah titik yang disebut dengan sel braille.

Sel braille yang terdiri dari enam titik timbul, merupakan variasi atas tiga baris (Horizontal) dan dua titik (Vertikal). Meski terkesan sederhana, dari sel braille tersebut dapat menciptakan enam puluh empat macam kombinasi, dengan cara membacanya dari kiri ke kanan.

Dari sel braille tadi dapat melambangkan abjad, tanda baca, angka, tanda musik, simbol matematika, dan sebagainya. Jika diamati dari segi ukurannya, sel braille yang umum digunakan memiliki tinggi sekitar 0,5 mili meter, serta spasi horizontal dan vertikal antar titik dalam sel hanya sekitar 2,5 mili meter. Sistem tulisan braille ini terus mengalami perbaikan hingga mencapai kesempurnaan pada tahun 1834.

Braille merupakan transformasi aksara yang kemudian bisa diraba. Mentransformasikan atau mengubah rupa dari srtuktur dasar menjadi srtuktur yang lahir dengan menerapkan gramatikal lain yang masih sesuai dengan tata bahasanya. Seperti misalnya untuk abjad, berdasarkan srtuktur tata urutan maupun bunyi tetap memiliki kesamaan dengan stuktur dasarnya. Perbedaannya hanya terletak pada cara bentuk penulisan dan memiliki sifat yang dapat diakses indra perasa yaitu dengan diraba oleh ujung jemari. Begitu pula untuk angka, tanda baca, simbol matetatika dan lainnya.

Teknik meraba huruf braille memerlukan kepekaan dan kejelian secara naluri. Sifat timbul huruf yang dimunculkan pun dapat mempengaruhi daya indra peraba pada ujung-ujung jemari difabel Netra. Kondisi material dasar yang biasanya berupa kertas memiliki ukuran ketebalan tersendiri, baik difungsikan sebagai kekuatan atau daya tahan kualitas tulisan timbul yang dihasilkan, maupun efek timbul dari hurup yang ditramformasikan ke dalam tulisan braille. 

Secara manual mentranformasikan huruf braille dapat dengan alat tulis yang disebut reglet dan pen.  Kedua benda ini dikenal sebagai alat tulis untuk difabel Netra. Raglet difungsikan sebagai papan cetak alat pencetak tulisan timbul huruf braille, sedang pen yang digunakan berbentuk seperti paku panjang yang atasnya memiliki bulatan sebagai peganggan. Pen difungsikan untuk menekan media tulis atau kertas yang telah di jepit oleh reglet sebagai papan cetak tadi.

Alat tulis reglet dan pen ini biasanya digunakan oleh individu untuk menghasilkan tulisan dalam jumlah terbatas.

Untuk jumlah banyak atau biasa disebut dengan kapasitas produksi, semisal mentranformasikan dari sebuah buku ke dalam huruf braille ada mesin-mesin produksi dan perangkat komputer khusus.

Di Indonesia telah memiliki sebuah percetakan braille yaitu Percetakan Braille Abiyoso, yang memproduksi buku-buku pendidikan untuk disalurkan ke sekolah-sekolah luar biasa maupun sekolah inklusi yang memiliki peserta didik difabel Netra.

Membutuhkan proses yang panjang serta kegigihan tersendiri untuk para difabel Netra dalam memperoleh akses baca tulis. Mentranformasikan aksara yang bisa diraba, sehingga dapat digunakan oleh mereka yang memiliki hambatan penglihatan tidak semudah menyalin tulisan di atas kertas dengan pena. Selamat Hari Braille Internasional.

 

Penulis : Srikandi Syamsi 

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.