Lompat ke isi utama
Sartono berfoto di rumahnya mengunakan kopeah berwarna putih, kaos biru langit

Sartono dan Pergulatannya dengan Isu Difabilitas

Solider.id, Karanganyar- Sartono, difabel daksa tanpa alat bantu ini tidak pernah absen di setiap kegiatan difabilitas, baik tingkat Kecamatan Mojogedang dan Kabupaten Karanganyar.

Ia penduduk Desa Gentungan Kecamatan Mojogedang. Bapak dari dua anak ini, bekerja di bidang jasa perbaikan elektronik dan komputer. Ia adalah salah seorang inisiator dari berdirinya Forum Difabel Mojogedang Bersatu (FDMB). Forum ini adalah cikal bakal berdirinya kelompok-kelompok difabel di 13 desa di Kecamatan Mojogedang.

Pendidikan awal masuk Taman Kanak-Kanak (TK) menurut Sartono adalah penuh perjuangan karena kondisi kaki polio di usianya yang baru menginjak empat tahun. Waktu itu ada Ketua RT yang sering memberikan arahan akan pentingnya pendidikan, yang kemudian memberikannya fasilitas masuk TK Gentungan.

Namun sekolah TK tidak diselesaikannya, karena Sartono mengalami perundungan oleh teman-temannya. Ia memilih untuk belajar membaca dan menulis dengan ibunya.

Saat usia Sekolah Dasar (SD), Sartono mengakui meski masih memiliki rasa ketidakpercayaan diri, namun tidak dengan semangat belajarnya. Sehingga ia sering mendapat predikat juara kelas. Meski dalam proses belajarnya ia selalu ragu mengikuti pelajaran olahraga.

Namun dukungan dari guru olahraga telah menyadarkannya bahwa ia mampu melakukan olahraga seperti yang dilakukan oleh teman-temannya. “Yen Sartono ora melu olah raga, ora oleh biji (Red: Kalau Sartono tidak mengikuti olah raga, maka tidak akan mendapat nilai),” tutur Sartono mengulang kata-kata gurunya.

Akhirnya hampir semua bidang olah raga diikuti dari atletik lari, lompat jauh, lempar lembing, dan tolak peluru. Semua diikuti secara maksimal demi mendapat nilai. Saat melakukan olahraga sepak bola ada kenangan cukup mengerikan bagi Sartono karena saat selesai sepak bola semua siswa berlari menuju sekolah karena jarak lokasi sekolah dengan lapangan cukup jauh, hampir satu kilo meter.

“Aku ketinggalan pas lewat di SD Karanggayam dicegat sama beberapa siswa lalu mereka meledek “deglog! deglog! (Red: pincang) dan aku sempat dikeroyok juga,” cerita Sartono. Sejak saat itu, ia baru sadar kalau ternyata cara berjalannya memang berbeda.

Selepas menempuh pendidikan SD sampai pada 2010, Sartono masih mondar-mandir Jakarta. Di sana, ia menumpang di rumah saudaranya. Ia mencoba peruntungan dengan bekerja mulai dari marbot masjid, sampai pedagang asongan di Pasar Rebo, Jakarta Timur dan kembali menjadi marbot masjid. Saat itu pula ia mulai sadar dengan kondisi sosialnya. Ia mengkritisi ketentuan masjid yang melarang membawa masuk kruk kedalam masjid.

“Dan itulah awal saya ketemu ummy-nya anak-anak. November 2012 menikah. Oktober 2013 anak pertama lahir : Muhammad Iqbal Febriansyah. Mei 2018 anak kedua lahir Muhammad Dliya Izzul Haq,” terang Sartono.

Sartono sempat berdagang di Jakarta dengan menjalin pertemanan dengan komunitas difabel netra lalu berorganisasi secara aktif di beberapa ormas di Jakarta. Pada 2008, Sartono dijadikan objek penelitian mahasiswa UNS jurusan Sospol yang kebetulan, mahasiswa yang meneliti masih tetangga dusunnya.

“Awal tahun 2009 saya bertemu Pak Sunarman dari PPRBM dalam peringatan HDI di Solo. Saat itu juga ada mahasiswa UNS menggarap tugas akhirnya juga tentang penyandang cacat. Tentang keberlangsungan hidup difabel di bermasyarakat. Sejak saat itulah tumbuh dalam kesadaran diri saya bahwa difabel harus sebagai subjek dalam berbagai lini kehidupan,”jelas Sartono.

Sampai akhirnya ia memutuskan pulang ke kampung halaman pada Oktober 2010. Dan pada April 2011 tepatnya, ia mengikuti program pelatihan elektronika dasar di BLK Balatranspenca Semarang. Kegiatan selama sebulan penuh.

Lahirnya Kelompok Difabel di Desa

Embrio Kelompok Difabel Desa (KDD) telah dirintis oleh Sartono sejak 2011. Ia melakukan pendekatan dengan berbagai petinggi organisasi difabel seperti Suprapto dari Persatuan Penyandang Cacat Indonesdia (PPCI) dan Forum Komunikasi Penyandang Cacat Indonesia (FKPCI), lalu keduanya mendirikan Forum Difabel Mojogedang Bersatu (FDMB).

Ia mulai aktif bergerak untuk isu difabilitas setingkat Kabupaten sampai kecamatan. Ia juga turut membentuk kelompok-kelompok difabel di tingkat desa. Atas inisiasinya bersama teman-teman pegiat difabel lainnya, ia menggandeng seorang pengusaha difabel, tokoh masyarakat di Kabupaten Karanganyar untuk membentuk Aliansi Lintas Difabel Kecamatan.

Aliansi ini telah dibentuk lebih dari setahun lalu dengan berbagai kegiatan sosial di masyarakat. Beberapa di antaranya adalah berbagi makanan untuk buka puasa di area publik pada Ramadan 2018.

Aliansi Difabel Lintas Kecamatan juga menggalang dana bantuan bagi korban bencana Lombok dan Palu dengan menghimpun donasi masyarakat melalui ngamen serta bazaar, bahkan di even tersebut. Anggota aliansi menyediakan tenaganya untuk memberikan fasilitas cukur gratis bagi umum. Aliansi juga melakukan kunjungan-kunjungan kepada difabel yang tinggal di pelosok dan tidak terdata. Aliansi juga turut mengajak difabel bergabung dalam kelompok.

Uniknya, menurut pengakuan Sartono, banyak dijumpai di desa-desa. Difabel dewasa yang hidup dengan keluarganya hampir sebagian besar justru menjadi aktor utama alias mereka menjadi penanggung jawab dalam keluarga bagi orangtua yang mulai renta. “Ini unik. Difabel justru menjadi penanggung jawab dalam merawat orangtua yang sudah tua, ngopeni gitu,”ujarnya.

Ada beberapa hal bagi Sartono sebagai ‘pekerjaan rumah’ sebagai pegiat difabel adalah selama ini masih banyak difabel yang belum terpenuhi haknya, hak kesehatan, pendidikan, perlindungan hukum dan lain sebagainya. Bahkan dalam aspek yang paling sederhana, seperti hak pendataan untuk difabel.

“Pasal 22 Undang-Undang no.8 Tahun 2016 mengatakan tentang Hak Pendataan bagi difabel meliputi hak didata sebagai penduduk dengan disabilitas dalam kegiatan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil, b. mendapat dokumen kependudukan dan c. mendapat kartu Penyandang Disabilitas,”pungkas Sartono.

 

Reporter                                 : Puji Astuti

Editor                                      : Robandi

The subscriber's email address.