Lompat ke isi utama
Warino sedang memberikan arahan kepada keluarga para wisudawan

Melapangkan Kesempatan Kerja bagi Difabel

Solider.id, Bandung– Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna, melepas dan menyalurkan kerja para peserta didik difabel netra. Helatan wisuda pun dilakukan pada Senin siang (17/12) di Aula Wyata Guna. Mereka yang dinyatakan lulus dari balai rehabilitasi dapat bergabung dengan Ikatan Alumni Wyata Guna (IAWG).

Menurut Suhendar sebagai ketua IAWG, ikatan alumni tersebut sengaja dibuat untuk terus dapat berkoordinasi dan membagi informasi terkait peluang melanjutkan pendidikan formal maupun peluang kerja yang ada dan dapat diakses oleh para lulusan balai rehabilitasi.

Pada umumnya mereka yang tercatat sebagai peserta didik balai rehabilitasi merupakan remaja yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah reguler dan sekolah luar biasa. Sebagian dari mereka ada pula yang melanjutkan hingga perguruan tinggi, atau terjun dalam bidang organisasi difabel seperti Ikatan Tunatera Muslim Indonesia (ITMI) dan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni). Melalui organisasi inilah, mereka bergerak dalam ranah polik yang salah satunya adalah menyuarakan hak dan keberadaan masyarakat difabel secara stuktural yang sah.

Akses pekerjaan yang sudah didapatkan beberapa peserta didik balai rehabilitasi ini yang masih tergabung dalam IAWG antara lain, tenaga administrasi di salah satu rumah sakit mata di Bandung, ada pula yang menjadi tenaga honorer yang membantu pendidikan di balai. Bahkan, dengan mengantongi gelar sarjana di bidang hukum, Suhendar sendiri berhasil menjadi Pegawai Negri Sipil (PNS).

Tentu saja, keberhasilan para lulusan balai rehabilitasi tersebut sangat tergantung kepada individunya sendiri. BRSPDSN maupun IAWG sebagai merupakan wadah yang diperfungsikan untuk mempersiapkan difabel Netra menjadi individu yang lebih matang, kreatif, aktif dan mandiri saat kembali ke lingkungan luas. Peran serta keluarga kembali dibutuhkan selepas para peserta didik balai rehabilitasi ini dinyatakan lulus.

Di penghujung tahun ini, BRSPDSN Wyata Guna kembali mewisuda para peserta didiknya. Prosesi tersebut merupakan puncak dari hasil pembelajaran peserta didik difabel Netra. Baik difabel Netra low vision maupun total bland yang dinilai cukup siap untuk kembali ke masyarakat melalui pendampingan pihak keluarganya.  

“Beri kesempatan kepada anak-anak kita untuk mandiri saat berada di rumah nanti,” pesan Warino selaku instruktur orientasi dan mobilitas di Wyata Guna.

Seperti namanya, balai rehabilitasi sosial merupakan tempat penampungan dan pusat pembelajaran bagi masyarakat difabel. BRSPDSN Wyata Guna yang berada di kawasan jalan Pajajaran Bandung. Tempat rehabilitasi bagi para difabel Netra yang datang dari berbagai daerah di wilayah Indonesia.

Di tempat ini para difabel Netra mendapatkan berbagai ragam pendidikan non formal yang menunjang mobilitas dan kemandirian. Mulai dari pengenalan lingkungkan, bersosialisasi, tata cara mengakses mobilitas hingga belajar bagaimana menghadapi keseharian di dalam sebuah rumah. Pembelajaran ini disiapkan dan menjadi kurikulum yang berikan pada peserta didiknya, dengan tujuan agar setelah keluar dari balai rehabilitasi tersebut para difabel Netra siap menjalani kembali kehidupannya.

Kepada seluruh orang tua dan perwakilan keluarga wisudawan yang hadir di acara tersebut, Warino pun memberikan banyak informasi terkait pembelajaran mobilitas maupun bimbingan keterampilan kehidupan sehari-hari yang telah diberikan pada peserta didiknya selama berada di asrama. Informasi tersebut sebagai gambaran kepada para orang tua agar membantu kemandirian secara pribadi terhadap anak mereka.

“Kita sebagai anggota keluarganya hanya membantu mengarahkan mereka dan bukan memanjakan mereka apalagi mengasihani dengan terus melayani karena kondisinya,” papar Warino.

Selain mengembalikan kepada pihak keluarganya, sebagian dari para wisudawan juga ada yang langsung memperoleh kesempatan dan penempatan kerja. Peluang yang mereka dapatkan antara lain sebagai jasa ahli pijat di beberapa tempat yang telah melakukan kerja sama dengan pihak Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna.

Langkah ini menjadi sebuah titik balik untuk para difabel Netra dan pihak keluarganya. Mereka mengalami banyak kemajuan secara pribadi dan potensi diri hingga mampu menjadi seorang pekerja di bidang layanan jasa. Perubahan yang mampu mengantarkan sosok difabel Netra menjadi lebih terampil dan percaya diri untuk kembali kepada keluarganya, bahkan siap bersaing hidup di lingkungan masyarakat sebagai bentuk individu sosialnya.

Profesi lain yang akhirnya mereka dapat raih antara lain: sebagai seniman musik, terapis, atlet olah raga, tenaga pengajar kursus pelatihan.

Melihat manfaat yang didapatkan oleh para difabel Netra maupun difabel lainnya dari fungsi keberadaan sebuah pusat rehabilitasi sosial bagi difabel, bukan sebatas memupuk dan menumbuhkan atau menemukan jati diri difabel sebagai sosok individu yang mandiri. Lebih dari itu, pengembangan kearah potensi diri dapat terus digali. Mengubah kapasitas kemampuan dari kondisi kedifabelan yang tidak dapat diubah.

“Jangan diistimewakan biarkan melakukan apapun sendiri, jangan dibantu terus nanti kalau sudah di rumah,” Warino kembali menegaskan.

Arahan yang ditujukan kepada pihak keluarga peserta didik ini merupakan langkah lanjutan dari edukasi serta penerapan pola ajaran yang telah dilakukan pihak balai rehabilitasi. Sebab, dibutuhkan kerja sama yang baik antara orang tua dengan pendidik agar selepas kembali ke lingkungan rumah para wisudawan tetap menjalankan pola kehidupan yang mandiri seperti ketika mereka berada di asrama.

Sebagai orang tua, bagian dari keluarganya pasti akan merasakan yang namanya rasa kasihan dan mungkin akan selalu siap untuk memberikan bantuan. Namun, hal tersebut justru menjadi salah satu ketentuan yang tidak dibenarkan oleh pihak balai rehabilitasi.

Dengan memanjakan atau selalu terus memberikan pertolongan malah akan melunturkan pendidikan yang telah diberikan dan didapatkan para peserta didik selama di balai rehabilitasi. Sebaliknya, dengan membiarkan dalam pengawasan dan memberikan kepercayaan dalam setiap hal yang dilakukan akan dapat menumbuhkan kemandirian.

Balai rehabilitasi hanya merupakan tempat edukasi, mendidik dan mempersiapkan para pesertanya untuk kembali ke lingkungan asalnya. Baik itu lingkungan keluarganya maupun lingkungan masyarakat sekitarnya. Bahkan ada juga yang pada akhirnya mampu menemukan lingkungan barunya yaitu dunia pekerjaannya.

 

Reporter                     : Srikandi Syamsi

Editor                          : Robandi

The subscriber's email address.