Lompat ke isi utama
Rio Waula berfoto dengan dua sahabatnya

Pemuda Difabel yang Memilih Terjun di Dunia Politik

Solider.id, Yogyakarta- Lewat aplikasi chat, Whatsapp, malam (9/12) itu saya menghubunginya untuk mengatur jadwal wawancara. Ia adalah seorang difabel netra yang aktif di salah satu partai politik (parpol) ternama di Indonesia sejak 2015 lalu.

Namanya Rio Walua, mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan di UIN Sunan Kalijaga. Dengan jawaban khas politikus, ia langsung memperkenalkan dirinya yang aktif di salah satu parpol dan beberapa rekam jejaknya di organisasi lain.

Dari cara Rio memperkenalkan diri, setidaknya ada dua kesan yang menempel di kepala saya sebagai wartawan. Pertama, ia seperti politikus pada umumnya yang punya kewajiban untuk memblow up partainya. Kedua, kesan penasaran tentu juga tak lepas ketika mengetahui ia seorang difabel yang aktif di parpol.

Berbekal dua kesan pertama itu saya mengajak Rio bertemu. Tiga hari setelahnya, Rabu (12/12), saya mendatanginya di Difabel Corner UIN Sunan Kalijaga. Salah satu ruangan kecil yang memfasilitasi difabel netra mengakses literatur akademik. Tempat itu memang menjadi tempat favoritnya menghabiskan waktu di kampus.

Di Difabel Corner ia sering membaca buku-buku favoritnya, buku politik dan filsafat kejawen. Namun, belakangan ini ia lebih sering mengakses buku-buku yang berkaitan dengan skripsinya.

Berbekal hobi membaca buku inilah Rio berani terjun ke dunia politik. Suatu bidang yang menurutnya tidak begitu akrab dengan difabel. Ia masuk ke politik sejak 2015, ketika partai yang ia ikuti membuka lowongan keanggotaan untuk mahasiswa.

Selain karena membaca buku, Rio mengaku bisa terjun ke dunia politik karena aktif berorganisasi sejak duduk di kursi SMA. Menurut Rio, kesempatan berorganisasi di SMA adalah kesempatan yang jarang dinikmati difabel lainnya.

Kesempatan tersebut ia dapatkan karena ia bersekolah di SMA umum yang menyediakan organisasi pengembangan softskill seperti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), tidak seperti Sekolah Luar Biasa (SLB) yang lebih banyak mewadahi pengembangan minat dan bakat seperti seni dan musik.

Rio mengetahui perbedaan antara pendidikan umum dan pendidikan luar biasa karena ia sudah pernah merasakan keduanya. Jauh sebelum menjadi seorang netra, ia mengenyam pendidikan dasar di sekolah umum di daerah asalnya, Kulon Progo, hingga kelas 6.

Belum sempat menyelesaikan pendidikan dasar, ia mengalami kecelakaan ketika bermain sepak bola bersama temannya. Kecelakaan tersebut akhirnya memaksa Rio menjalani operasi yang berujung gagal dan membuat penglihatannya menghilang.

Sejak saat itu, Rio beristirahat dan menjalani terapi selama tiga tahun, sebelum kembali melanjutkan pendidikannya di SLB di Klaten, hingga lulus SMP.

Menurut Rio pembedaan antara difabel dan nondifabel di pendidikan umum dan luar biasa ini lah yang membuat difabel menjadi “berbeda” dengan masyarakat pada umumnya. Pembedaan antara difabel dan nondifabel memang masih jamak terjadi.

Menurut Link dan Phelan pembedaan tersebut adalah salah satu proses stigmatisasi yang membuat difabel menjadi merasa asing. Proses stigmatisasi biasanya diawali dengan pelabelan. Difabel diberi label sebagai seorang yang cacat lalu berimplikasi pada stereotipe terhadap diri difabel.

Setelah stereotipe, tahap selanjutnya adalah segregasi atau pemisahan. Difabel dipisahkan dari masyarakat umum, disediakan sekolah yang berbeda–dalam hal ini adalah SLB sehingga difabel pun otomatis menjadi berbeda dan terasing dari masyarakat. jika terus berlanjut, segregasi itulah yang pada akhirnya melahirkan diskriminasi.

Menurut Rio, seharusnya ada pihak berwajib yang bertugas untuk menghentikan segregasi tersebut. Ia mencontohkannya dalam tataran kampus, terdapat Student Government yang wajib membuka wawasan difabel terkait politik dan organisasi. Hal tersebut diperlukan karena kebanyakan mahasiswa difabel yang berasal dari SLB cenderung tidak akrab dengan organisasi.

“Pejabat kampus itu lah yang seharusnya bertanggung jawab dalam meningkatkan wawasan politik difabel. Kalau tidak, ya, difabel pada akhirnya akan jarang terjun dalam dunia organisasi dan politik,” ujar Rio.

Rio sendiri selama di kampus pernah mengikuti berbagai organisasi. Salah satunya adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka. Namun, beberapa bulan setelahnya ia memilih untuk tidak aktif lagi di sana. Hal tersebut dikarenakan kegiatan pramuka tidak begitu aksesibel untuk dirinya.

Selain pramuka, ia juga pernah aktif menjabat di divisi advokasi Dewan Mahasiswa Fakultas (Dema F). Ia menduga keberhasilannya menduduki jabatan di organisasi eksekutif tersebut tak lepas dari status keaktifannya di parpol.

“Jadi waktu itu saya ada banyak tahap. Mulai dari menulis esai sampai membuat CV,” Jelas Rio “Waktu membuat CV saya mencantumkan juga kalau aktif di parpol. Mungkin karena itu juga saya jadi diterima,” lanjutnya sambil tertawa.

Namun, yang paling berkesan bagi Rio adalah pengalaman keaktifannya di parpol hingga saat ini. Dari parpol, ia bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai elemen. Mulai dari masyarakat kecil, akademisi, pejabat lokal dan nasional.

Menurut Rio, bisa kenal dan berinteraksi dengan berbagai orang seperti itu sangat penting untuk menambah pengalaman. Satu hal yang menjadi tujuan utamanya, aktif di berbagai organisasi dan komunitas.

Setidaknya menurut Rio, pengalaman menjadi modal utama selain uang jika ingin terjun lebih dalam ke dunia politik. Ia mantap mengatakan hal itu setelah mendapatkan berbagai wawasan politik di parpol.  

Hingga saat ini, Rio masih aktif mengikuti kegiatan di parpol. Berbagai kegiatan tersebut seperti menjadi Event Organizer di acara gerak jalan partai, ikut membantu kegiatan anggota DPR di masa reses, dan lain sebagainya. Jika tidak ada kegiatan, ia pun tetap sering berinteraksi dengan anggota partai untuk sekadar menyambung tali silaturahmi dan berbagi cerita.

Berinteraksi dengan banyak orang adalah hal yang paling Rio cari ketika berorganisasi. Memperluas relasi adalah salah satu dari tiga prinsip sukses menurutnya, yaitu sahabat, doa, dan prestasi. “Sahabat itu kan kuncinya kita silaturahmi,” tutur Rio

Doa atau spiritualitas menurut Rio adalah hal yang sangat penting untuk meraih ketenangan. Demi ketenangan itu pula ia juga mendalami filsafat kejawen dan bergabung dengan salah satu komunitas penghayat bernama Pangestu.

Komunitas penghayat itu juga ia ikuti untuk meresapi budaya jawa. Menurutnya setiap orang perlu mendalami kultur daerahnya masing-masing. Selain untuk mengenal diri lebih dalam, setiap kultur juga memiliki nilai spiritualitas yang perlu didalami.

“Kalau orang spiritualnya baik, hidupnya pasti tenang,” tutup Rio.

 

Reporter                     : M. Sidratul Muntaha

Editor                          : Robandi

The subscriber's email address.