Lompat ke isi utama
Luluk Ariyanti sedang berpose duduk di kursi roda

Luluk Ariyantiny, Berjuang untuk Situbondo Inklusi

Solider.id, Situbondo - Luluk Ariyantiny lahir 14 Februari 1974 di Situbondo. Perempuan yang akrab di sapa “Mbk Luluk” ini menamatkan pendidikan DII di Fakultas Pertanian Jurusan Teknologi Industri Pangan Politeknik, Jember.

Sejak 1999, ia aktif dalam kegiatan sosial dan advokasi difabel. Ia juga kerap mengikuti pelatihan kepemimpinan dan manajemen organisasi bagi difabel di University of Sydney Australia pada 2016.

Perempuan yang kini menginjak usia 44 tahun ini menjabat sebagai Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Situbondo (PPDiS) yang sebelumnya bernama Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI). Selain itu, ia juga salah satu pengurus National Paralympic Committee (NPC) Situbondo, Jawa Timur.

Ia juga mengikuti berbagai kegiatan maupun pelatihan seperti, Peer Counselling sebagai peserta aktif maupun sebagai co-fasilitator. Kegiatan peer counselling ini merupakan kegiatan konseling sesama bagi difabel dan kepada Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK).

Peer Counselling dilaksanakan oleh Mimi Institute bekerjasama antara NLR (Netherlands Leprosy Relief) Indonesia serta Kementrian kesehatam Jawa Timur di tiga wilayah kerja yaitu Kabupaten Situbondo, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Sampang pada tahun 2016-2017.

Anak ketiga dari lima bersaudara ini memiliki aktifitas yang sangat padat, baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional. Salah satu kegiatan yang baru saja diikutinya adalah berpartisipasi pada peringatan Hari Disabilitas Internasional di Kedutaan Besar Australia, Jakarta, pada 10 Desember 2018.

Bersama dengan PPDi Situbondo, Luluk mengadakan peluncuran Situbondo Menjadi Kabupaten Inklusi yang ramah pada difabel yang juga didukungan pemerintah setempat.

Berkat kegigihannya dalam memperjuangkan hak-hak difabel khususnya di Kabupaten Situbondo. Situbondo dideklarasikan sebagai Kabupaten Inklusif yang diluncurkan pada 16 Desember 2018. Selain itu, ia juga menginisiasi tari inklusif bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan melibatkan difabel.

Perjuangan Luluk tidak hanya sampai di situ, ia pun menjadi inisiator teater inklusif bersama beberapa mahasiswa dan berhasil tampil di acara Hari Jadi Rumah Pemulihan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo. Dua pertujukan tersebut juga ditampikan di depan Bupati Situbondo dalam rangka memperingati HDI untuk pertama kalinya.

Seiring berjalannya waktu, ia juga mengawal Raperda Disabilitas Situbondo, sehingga lahirlah Peraturan Daerah Kabupaten Situbondo No.03 Tahun 2018 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Penyandang Disabilitas.

Hasil atau capaian tidak akan mengkhianati sebuah perjuangan. Dengan semangatnya, perempuan yang menyukai warna merah ini tidak berhenti dengan terbitnya Perda Disabilitas. Ia juga ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa difabel bukan halangan untuk berkarya.

“Saya ingin di sisa hidup saya menjadi orang yang bermanfaat untuk banyak orang khususnya difabel dan yang terpenting ingin mengajak para difabel untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini justru menjerumuskan mereka,” ungkap pecinta kuliner pedas tradisional ini.

Meski begitu, di setiap perjuangannyannya tidak melulu berjalan mulus. Luluk kerap menemui berbagai tantangan yang selalu datang. Salah satunya dari difabel sendiri yang tidak mau memperjuangkan haknya. Menurutnya, mereka telah terlena dengan belas kasih dan bantuan pasif dari pemerintah.

Bahkan dari keluarga difabel pun masih banyak yang mengurung anak-anaknya daripada ikut kegiatan yang positif. Selain itu masyarakat yang masih memandang difabel dengan sebelah mata. Pun pemerintah yang masih belum paham akan hak-hak difabel, juga komunitas/lembaga lain yang memilih untuk tidak berkawan.

Di setiap perjuangannya, ia terinspirasi dari semangat orang-orang terdekatnya. Seperti almarhum bapaknya sendiri, Joni Yulianto darei SIGAB (Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel) Indonesia, dan Mimi Mariani Lusli dari Mimi Institute.

Di setaip perjuangannya, ia menyimpan berbagai harapan. Ia berharap agar masyarakat lebih peduli dan benar-benar menjadikan difabel sebagai mitra yang akan digandeng dalam segala hal.

Ia berharap pemerintah kedepan benar-benar mengimplementasikan regulasi yang sudah ada, juga lebih serius dalam memenuhi hak-hak difabel khususnya dalam ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan dan bantuan sosial dalam rangka menuju cita-cita Indonesi Inklusi 2030.

Ia ingin mengajak pembaca untuk lebih terbuka memberi kesempatan dan bekerjasama dengan difabel. Kepada Solider.id, dia menyampaikan, “Kita saling belajar dan bersama-sama dalam keberagaman itu indah,” pungkas perempuan pengguna kruk ini.

 

Reporter                     : Ramadhany Rahmi

Editor                          : Robandi

The subscriber's email address.