Lompat ke isi utama
gambara ilustrasi tentang autis, sumber dari google

Mengenal Lebih Luas Perspektif Autis

Solider.id, Bandung – Masih banyak masyarakat umum yang mempertanyakan terkait sosok individu Autis. Tentang apa defininya, hingga bagaimana mengenali mereka, masih saja menjadi ambigu yang sulit dipaparkan dengan tepat. Sering pula Autis disebut dengan Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK, meski dari sisi usia sudah bukan tergolong kategori usia anak-anak lagi.

Kita mencoba untuk mengenali lebih luas lagi tentang perspektif Autis. Merujuk pada Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, terdapat empat kategori difabel yang dituliskan, yaitu: individu yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental dan atau sensorik.

Keterbatasan yang dialami seorang difabel pun berdampak dalam jangka waktu lama, sehingga dalam berinteraksi dengan lingkungannya dapat mengalami hambatan dan kesulitan. Seperti sulit untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Dari penjabaran tersebut disepakati, Autis dikategorikan kedalam individu difabel mental. Autis dari persfektif difabel, yaitu seseorang dengan perkembangan yang berpengaruh pada kemampuan interaksi social, memiliki hambatan perkembangan komunikasi dan mengekspresikan terhadap orang lain.

Colin Zimbleman, Ph.D, seorang clinical psychologist Jepang menuliskan, ‘Autism offers a chance for us to glimse an awe filled vision of world tha might otherwise pass us by.’

Gambaran sederhananya bila dituang dalam bahasa Indonesia, ‘Autis menawarkan kesempatan bagi kita untuk melihat visi dunia yang penuh kekaguman yang mungkin bisa kita lewati.’

Buah pikir yang sangat luar biasa dengan mengambarkan sosok Autis bukan lagi dari ragam difinisinya, melainkan dari sisi keunikan hingga membiarkan mereka tetap menjadi dirinya sendiri. Autis bukan lagi sebuah fenomena ganjil yang sering ditafsirkan sebagian masyarakat sebagai suatu hal ‘ke-abnormal-an’ dari individu bersangkutan, dikarenakan Autis seperti  memiliki imajinasi terhadap dunianya sendiri.

Dalam kalimatnya Colin justru mengajak kita, memberikan penawaran tentang sebuah kesempatan kepada kita untuk melihat sisi dunia yang mengagumkan dan mungkin terlewati oleh kita. Sudut pandang seorang ahli tentang Autis yang mungkin sangat berbeda, Colin mengajak masyarakat pada umumnya untuk melihat kondisi ini dengan lebih bijak.

Bila dilihat dari karakteristiknya Autis mengalami gangguan dalam beberapa bidang seperti: interaksi sosial, berkomunikasi, pola bermain, gangguan sensoris, perkembangan yang terlambat, dan penampakan gejala lain yang dapat dilihat dalam kesehariannya. Dari semua karakteristik yang dimiliki individu Autis, mereka memiliki satu kesamaan yaitu perasaan kesendirian (Air of aloness)

Individu Autis dipandang sebagai gangguan yang disebabkan faktor psikologis yaitu emosional pola asuh yang kurang harmonis. Secara penelitian neurologis (1960) menginformasikan Autisme disebabkan oleh adanya abnormalitas pada otak.

Menurut Asep Hilman, Dosen perguruan tinggi swasta di Bandung yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat dalam tulisannya di sebuah media cetak menggambarkan, data jumlah Autis terus meningkat, merujuk pada insiden dan prevalansi Autis, yaitu 2 kasus baru 1.000 penduduk per tahun, dan 10 kasus per 1.000 penduduk. Maka dari jumlah penduduk Indonesia 237,5 juta dengan laju pertumbuhan 1,14% (Mengacu pada data Badan Pusat Statistik 2010) dengan demikian angka prediksi individu Autis di Indonesia mencapai 2,4 juta orang dengan pertambahan 500 orang per tahun (Harian Nasional, 2 April 2018)

Bila kita tetap memandang Autis dari sisi definisi, maka angka 2,4 juta tersebut akan terus digolongkan pada individu yang memiliki kelainan atau perbedaan kondisi secara mental. Tentu saja lebelisasi yang melekat ini akan menjadi sulit untuk dihapuskan. Setiap tahun angkanya bukan semakin berkurang melainkan terus merangkak naik selalu bertambah dan butuh penangangan yang serius.

Pendekatan secara emosional, bentuk perhatian hingga pemahaman terhadap mereka sangat diperlukan dari semua pihak. Memulainya dari lingkungan keluarga inti, keluarga besar, lingkungan luar terdekat, lingkungan sekolah, hingga masyarakat luas.

Kata kunci dari sosok Autis yaitu adanya atau timbulnya perasaan kesendirian (Air of aloness). Tentu dari kondisi ini kita mampu memahami apa yang menjadi kebutuhan Autis. Kesulitan berinteraksi pada lingkungan hanya akan menjadi sebuah efek dari perasaan kesendirian yang dimilikinya.

Dengan mampu menerobos air of aloness, kondisi Autistik akan dapat semakin diminimalisir. Bentuk pemahaman lain seperti yang di paparkan Colin Zimbleman tadi. Kita ditawarkan untuk melihat visi dunia mereka yang memiliki kekaguman tersendiri yang mungkin terlewati oleh kita.

Kita tetap dapat membiarkan individu Autis menjadi dirinya sendiri, dengan pemahamannya tersendiri, dan itu semua membutuhkan interaksi serta sosialisasi dalam bentuk pendekatan secara pola asuh dan pola didik.

Beberapa penemuan di lapangan menunjukan banyaknya prestasi yang luar biasa dan mampu diraih oleh difabel mental, terutama individu Autis. Ini menunjukan bukti secara nyata dari pola asuh dan pola didik yang memiliki interaksi sosial dan mampu dipahami oleh mereka yang kita sebut Autis.

Jadi, sangatlah relevan dengan apa yang dikatakan Colin Zimbleman, ada visi dunia yang mengagumkan, yang mampu dilihat oleh para individu Autis dan mungkin sulit untuk dipahami secara logika hingga terlewati oleh kita. Buktinya, seseorang yang dikatakan Autis mampu memiliki prestasi dan ragam keunggulan lain yang tidak kalah dengan masyarakat pada umumnya.  Bahkan, ada pula prestasi yang mampu diraih mereka dan belum tentu mampu diraih individu lainnya.

Yang terjadi pada lingkungan masyarakat pada umumnya, sebuah kondisi kedifabelan, terlebih difabel mental masih mengalami sekat diskriminasi yang kuat. Difabel mental sering dipandang sebagai sebuah keanehan yang nyata terlihat di lingkungan sekitar kita.

Persepsi seperti inilah yang semakin menguatkan mereka dalam perasaan kesendiriannya. Sehingga tanpa kita sadari, keterbatasan atau kesulitan mereka dalam beradaptasi pada lingkungan dan cara berkomunikasinya itu, disebabkan oleh penerimaan dari lingkungan yang kurang tepat. Individu Autis yang sering dipandang memiliki dunia imajinasinya sendiri, justru dinilai aneh dan sesuatu yang abnormal. Dampak selanjutanya adalah bermunculannya ragam definisi yang negatif.

Coba kita belajar mengikuti sudut pandang yang disampaikan Colin Zimbleman, ia mengajak kita agar memberi respon positif terhadap Autis yang menawarkan kesempatan untuk melihat visi dunianya. Termasuk yang sering kita sebut dunia imajinasinya. Sebuah penawaran yang unik yang akan kita selami sehingga kesempatan tersebut menjadi sesuatu hal yang baru bagi kita dan belum pernah dialami atau dirasakan sebelumnya.

Bentuk hubungan yang komunikatif dengan Autis, memberikan dua pilihan yang saling memiliki peran positif. Yaitu: kita yang pada akhirnya akan mampu menemukan dunianya dari sudut pandangnya, atau sebaliknya individu Autis yang akan mampu terhubung dengan dunia kita dari sudut pandangnya.

Dari kedua hasil interaksi tersebut tetap tidak mengubah sudut pandangnya, karena bentuk pemahaman mereka mesti kita ikuti. Ini menandakan mereka tetap menjadi diri mereka sendiri. Yang berubah hanyalah tingkat respon dan pemahamannya. Tentu saja akan menuju kearah yang lebih baik dari sebelumnya.

Buah pikir dari Colin Zimbleman tentang Autis sungguh luar biasa, bukan lagi memandang sebagai kekurangan, keterbatasan, gangguan atau abnormalisasi. Melainkan memberikan sebuah penawaran kesempatan kepada kita untuk lebih mengenali visi dunia mereka yang mengagumkan.

Dari ragam pendifinisian terhadap Autis yang telah mencuat, mendominasi pada pelebelan yang negatif. Meski hingga kini dinyatakan belum ada definisi yang tepat untuk menggambarkan sosok individu Autis, meski mereka tergolong dalam kategori difabel mental berdasarkan rujukan dari perundangan yang mengatur tentang disabilitas. [Srikandi Syamsi]

The subscriber's email address.