Lompat ke isi utama
Stand MPDW di Festival HAM, Wonosobo

MPDW: Memberdayakan Difabel Melalui Produk

Solider.id, Wonosobo- Geliat organisasi difabel terus tumbuh di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satunya organisasi Masyarakat Peduli Disabilitas Wonosobo atau biasa disingkat MPDW di kota Wonosobo.

Bermarkas di Desa Sambek Rt 03 Rw 04 Wonosobo, MPDW masih berusia muda karena belum ada satu tahun dalam berjalan. Semula terbentuk hanya karena masing-masing anggota dari masing-masing organisasi bertemu dalam satu even peringatan Hari Difabilitas Internasional tahun 2017. Dari hasil bincang-bincang dan obrolan sesama pemerhati dan organisasi, maka MPDW berdiri pada 12 Desember 2017.

“Dari peringatan Hari Disabilitas Internasional tahun 2017 itulah, kita sempat terpikir kenapa dari masing-masing organisasi yang ada, seperti Pertuni, PPDI dan HWDI, kita berdiri sendiri-sendiri dan tidak bersatu? Akhirnya karena kita memiliki tujuan yang sama, kita sepakat untuk membentuk wadah yang menyatukan kita dalam sebuah kegiatan,” jelas Fajar Prasetyo, pendiri MPDW (14/11).

Kelahiran MPDW mendapat respon positif dari teman-teman organisasi difabel lainnya. Salah satunya Wonosobo Rocking Community (WRC) atau club rocker. Hubungan keorganisasian dengan WRC karena salah satu teman difabel yang tergabung dalam Wonosobo Rocking Community. Dari jaringan tersebut, MPDW dibantu sosialisasi baik lewat media sosial maupun lewat komunitas yang diikuti.

 “Jangan pernah mengira kalau rocker itu tidak punya rasa kepedulian. Justru karena mereka rocker, mereka lebih tinggi jiwa sosialnya,” lanjut Fajar, “WRC lah yang pertama memberikan dukungan.”

Pria dengan tato yang tergambar di lengannya itu menjelaskan proses berdirinya MPDW. Termasuk memeriahkan stand pameran dalam kegiatan Festival Hak Asasi Manusia 2018 yang diadakan oleh Kementrian HAM, di Gedung Adipura Kencana selama tiga hari, terhitung sejak 13 hingga 15 November 2018. MPDW ingin membawa serta anggotanya yang masih berjumlah 50 orang untuk lebih mandiri dan berkembang.

Dengan rumah tinggal di daerah pegunungan yang saling berjauhan dan berada di pinggiran, Fajar mencoba memahami ketika mobilitas jadi tantangan bagi anggotanya. Meski begitu, melalui MPDW, ia mencoba menyuarakan lingkungan yang belum bisa menerima keberadaan difabel kepada pemerintah. Saat itu, pemerintah hanya sesekali menunjukkan kepedulian.

“Paling kalau ada tamu dari luar kota kita diundang dinas, atau ada pameran kita akan dikenalkan sebagai binaan dinas. Jarang ada pelatihan untuk difabel. Sekalinya ada, diberi bantuan alat tapi setelah itu dilepaskan. Akhirnya yang kita temui, kawan difabel tersebut menjual alat bantu yang dia terima karena tidak ada pantauan. Yang paling kita sesalkan saat difabel butuh modal awal untuk usaha yang mereka jalankan, pihak bank tidak bisa memberikan pinjaman padahal usaha teman-teman sudah berjalan,” terang Fajar, tentang kondisi difabel di Wonosobo.

Persoalan lain menurut Fajar adalah ketika sebuah pabrik besar yang pemiliknya orang Wonosobo, sampai menolak teman-teman karena mereka dianggap tidak mampu bekerja dengan alasan difabilitas mereka.

Sebagai nondifabel, Fajar mengaku bahwa sebelumnya tak pernah berinteraksi dengan difabel. Kekuatan mental dan kesyukuran para difabel-lah yang membuatnya merasa nyaman bergaul dengan mereka.

“Difabel banyak yang lebih kuat daripada nondifabel. Saya bisa banyak belajar dari mereka karena mereka juga lebih banyak bersyukur ketimbang kita yang non difabel,” imbuh ayah tiga putra itu.

MPDW memiliki banyak anggota yang rata-rata sudah menjalankan usaha. MPDW juga senantiasa mengajak ndifabel lainnya untuk bergabung di organisasinya. Meski berbagai kendala seperti difabel yang menarik diri, bagi Fajar itu bukan hambatan.

“Kita ajak mereka gabung dalam kegiatan. Saat mereka tidak mau bergabung, semua kita kembalikan pada mereka. Seandainya mereka merasa lebih nyaman bergabung karena ditawari teman ya kita persilakan. Untuk mereka yang bergabung atas keinginan sendiri, itu yang kita inginkan,” terang Fajar, yang dalam keseharian adalah pengemudi Grab dan berjualan sea food.

Fajar berharap lahirnya MPDW sebagai wadah bagi difabel bisa memberikan masa depan melali usaha yang sudah masing-masing kerjakan dan dalam berbagai kegiatan, seperti pameran.

Sekertaris MPDW, Bagus Satrio, yang mendampingi saat pameran juga aktif terlibat di komunitas yang mengorganisir even-even yang ada di Wonosobo. Keterlibatan Bagus membantu dan memudahkan MPDW menambah jaringan untuk mendapat informasi yang bisa melibatkan MPDW dalam kegiatan.

“Bagaimanapun caranya kami melakukan usaha agar semua kegiatan di Wonosobo melibatkan teman-teman difabel untuk bisa memamerkan hasil karya mereka,” ujar Bagus.

MPDW memberikan pemberdayaan pada anggotanya dengan beragam kegiatan. Antara lain dengan mengadakan kegiatan Gebyar Karya Difabilitas yang diadakan September kemarin.

Membawa serta hasil karya anggotanya, MPDW memasarkan produk makanan dengan aneka kue-kue kering dan bermacam roti basah hasil buatan anggota. Selain itu produk lain seperti lukisan tiga dimensi dalam berbagai ukuran, sampai  kegiatan bertanam tanaman hydropnik.

Tak hanya itu, di stand, anggota MPDW juga melayani jasa pembayaran listrik dan pembelian pulsa. Membawa misi bahwa anggota harus diangkat dari tiap individunya, MPDW berusaha mengajak anggota pameran lewat hasil keterampilan yang telah mereka lakukan.

“Dari WRC kami menyediakan pelatihan musik buat teman-teman. Kalau ada yang tertarik belajar membatik, kami juga sudah memberikan pelatihan. Hasil yang kami dapat juga sangat positif. Teman-teman yang semula minder dan malu gabung dalam kegiatan, kini sudah mulai terbuka. Mereka sudah mau keluar dan ikut dalam pelatihan yang kami adakan. Dari hasil pelatihan, kami bantu memasarkan yang pendapatannya kami kembalikan pada mereka sehingga bisa membantu untuk menambah penghasilan,” sambung Fajar.

Danti, salah satu anggota yang bergabung di MPDW dengan bangga mengisahkan salah satu upaya pemberdayaan yang manfaatnya telah banyak didapatkannya.

“Usaha pameran semacam ini menjadi salah satu usaha pemberdayaan. Melalui pameran setidaknya sudah berusaha mengangkat produk difabel, sehingga masyarakat langsung tahu ada produk difabel. Dan seiring berjalannya waktu, pada akhirnya masyarakat tahu bahwa difabel Wonosobo tidak ingin dikasihani, tapi berhasil dan mampu punya usaha untuk mendukung ekonomi mereka sehingga tidak tergantung pada orang lain,” tutup Danti. [Yanti]

The subscriber's email address.