Lompat ke isi utama
Wardanti Ningsih Berfoto saat jaga stand

Perempuan Difabel yang Bangkit Setelah PHK

Solider.id, Wonosobo- “Saya korban PHK dari salah satu pabrik setelah bekerja selama 19 tahun. Dengan sangu (upah) yang tidak memadai, saya harus memutar otak. Bagaimana agar bisa bertahan hidup dengan dua anak,” tutur sosok perempuan yang sedang menjaga stand di acara Festifahl Hak Asasi Manusia (HAM), (14/11).

Perempuan menggunakan kruk, di dalam stand yang diguyur hujan derah di daerah Wonosobo. Ia belum berhenti untuk tetap mengundang pengunjung agar bertandang di stand tempat ia memasarkan roti basah yang dijajakannya.

Perempuan itu bernama Wardanti Ningsih. Danti tinggal di Jambusari Rt 07 Rw 07, Kertek, Wonosobo, bersama keluarganya. Difabel asal Karanganyar, Tawangmangu, kelahiran 23 Desember 1970 ini adalah salah satu pengusaha roti dan aneka kue kering produk rumahan.

“Akhirnya dari Karangjati, Jawa Tengah, saya dan suami memutuskan untuk pindah ke Wonosobo.” Danti-sapaan akrabnya, melanjutkan kisahnya. Usaha membuat roti ini ia  lakukan semata untuk bertahan hidup.

Sebelum memproduksi roti, Danti lebih dulu mencoba peruntungan dengan berjualan nasi bungkus yang ia hargai Rp. 400. Nasi tersebut ia titipkan di sekolah-sekolah. “Jadi bukan karena ingin tahu bagaimana rasanya atau karena ingin melihat produk kita,” tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, konsumen tertarik dengan produksi roti yang Danti buat. Sejalan dengan itu, ia pun mulai meningkatkan kapasitasnya untuk membuat roti. “Akhirnya saya memutuskan hanya membuat roti berdasar pesanan karena produk roti saya tidak menggunakan pengawet.”

Danti mengaku keterampilan membuat roti hasil belajar dari majalah yang dibacanya. Dari bacaan ia lalu mencoba menyelaraskan seperti apa rasa yang ia inginkan. Rasa dan ukuran jadi resep yang terus ia pertahankan agar pelanggan tetap datang.

Danti membuka usaha roti sejak tahun 2000. Hingga sampai saat ini, ia memiliki harapan untuk menularkan ilmunya pada sesama difabel di sekitarnya. “Sampai sekarang saya masih punya cita-cita ingin ngajari teman-teman difabel untuk belajar membuat roti. Biar mereka bisa bikin usaha sendiri dan jadi bos bagi diri sendiri,” harapnya.

Menurut Danti, teman-teman difabel di sekitarnya, yang tinggal di pegunungan, masih belum tersentuh kegiatan dan banyak yang belum memiliki ketrampilan. Ia senantiasa memberikan motivasi agar difabel mampu membuka usaha sendiri. Meski merintis usaha tidak semudah membalik telapak tangan.

“Tetapi selain lebih banyak keuntungan, kita juga jadi lebih tahu dan terbuka seberapa besar keluar masuk uang yang kita kelola. Kalau di pabrik kan kita hanya datang dan absen, lalu terima honor tanpa tahu bagaimana manajemen keuangannya,” pungkas Danti, meyakinkan.

Saat ini, Danti bisa menyekolahkan dua anaknya hingga ke Perguruan Tinggi dari usaha roti. Kini Danti telah memiliki sepuluh orang karyawan nondifabel untuk mengerjakan setiap pesanan. “Sekarang saya tidak lagi dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Apalagi dengan kita mempekerjakan orang-orang normal, mereka bisa mengatakan bahwa difabel juga punya kelebihan,” ujar istri dari Sukardi ini.

Dari pameran dan festival HAM yang telah diikuti, Danti berharap akan ada kelanjutan yang bisa dinikmati oleh teman-teman difabel di Wonosobo setelah ini. “Jadi Wonosobo bener-bener ramah HAM dan tidak hanya bersifat formalitas karena ada acara besar. Karena selama ini belum ada bukti nyata yang berkesinambungan. Artinya ramah HAM hanya berlaku saat acara HAM lalu tidak ada kelanjutan dan hanya berhenti setelah festival.” Danti menutup obrolan dan kembali sibuk harus melayani para pengunjung stand. [Yanti]

The subscriber's email address.