Lompat ke isi utama
Faqih Annisa saat di agenda Temu Inklusi 2018

Faqih Annisa: Mengajarkan Iqra kepada Tuli

Solider.id, Gunungkidul- Seorang gadis menjadi relawan di agenda Temu Inklusi 2018 menjadi juru bahasa isyarat bagi pesrta Tuli. Saat ini ia sedang berusaha mengajarkan Iqra kepada kawan-kawan Tuli. Ia memiliki harapan sederhana untuk Tuli, yakni masyarakat bisa berkomiunikasi dnegan bahasa isyarat.

Namanya Faqih Annisa. Ia gadis 26 tahun mahasiswa semester tiga S2 jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Salatiga itu ternyata suka bercanda. Di balik keseriusannya menjadi relawan penerjemah bahasa isyarat Indonesia dalam acara Temu Inklusi 2018, Faqih berbagi pengalamannya sesekali dengan bumbu gurauan.

Ia mengikuti akun Facebook Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin)  Solo sejak 2011, sejak itu pula Faqih sudah memiliki keinginan untuk belajar bahasa isyarat. Ia merasa senang karena akhirnya bisa menjadi juru bahasa isyarat, meski baru pertama mengikuti pelatihan yang diadakan Gerkatin Solo pada 2007.

“Waktu itu selalu benturan dengan jadwal kuliah sehingga saya tidak pernah bisa mengikuti pelatihan yang diadakan Gerkatin Solo,” kisah Faqih-sapaan akrabnya (23/10).

Mulanya, ia hanya sering melihat teman-teman tuli di acara Car Free Day. Menurutnya pertama kali mengenal bahasa isyarat sangat unik sebagai cara Tuli berkomunikasi yang selama ini ia anggap berbeda dengan cara berkomunikasi yang dilakukannya.

Akhirnya karena sering bergaul dengan teman-teman Tuli, tanpa bekal kemampuan bahasa isyarat ia merasa seolah hendak menyeberang sungai tapi tak memiliki sampan. Tak ingin berhenti di tengah jalan, lalu dengan pelan ia bergabung dan turut serta dalam pelatihan kelas bahasa isyarat yang diadakan selama tiga bulan oleh Gerkatin Solo.

“Namanya saja mau menyeberang sungai. Pasti ada riak-riak kecil yang sempat membuat saya goyang. Tapi saya yakin selama saya melakukan kebaikan, semua hambatan pasti akan mendapatkan jalan keluarnya,” ujar Faqih.

Faqih berhasil melalui kendala yang sesekali ia temukan saat harus berhadapan dengan Tuli yang kurang paham bahasa isyarat yang ia gunakan. Menurutnya, untuk menguasai bahasa isyarat Indonesia, memerlukan tiga hal penting. “Yaitu kemampuan berekspresi dengan wajah, kemampuan oral dan ketrampilan tangan,” paparnya.

Ia memperlihatkan mimik wajah sesuai dengan apa yang ia katakan. Ia nampak fasih memperagakan ketrampilannya menjadi penerjemah bahasa isyarat Indonesia. “Tentu kita harus menguasai bahasa isyarat Indonesia dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI). Karena ada beberapa teman Tuli yang tidak menguasai bahasa isyarat Indonesia,” lanjutnya.

Mengambil kuliah di jurusan Pendidikan Agama Islam, saat seorang teman Tuli mengatakan bahwa Tuli juga butuh belajar tentang keagamaan, Faqih seolah ditagih untuk berbagi pengetahuan. “Kamu bisa. Mengapa kamu tidak mengajarkannya pada kami?” Begitu Faqih mengulang pertanyaan yang dikatakan teman Tuli-nya.

Dari situlah kemudian Faqih tergerak untuk mulai mengajarkan kelas Iqro’ pada Gerkatin Solo yang kemudian dibagi menjadi kelas laki-laki dan perempuan. “Jadi sekarang ada tiga kelas pelatihan yang diberikan Gerkatin Solo. Kelas bahasa Indonesia, dan kelas Iqro’ yang ada dua kelas,” jelasnya.

Ia berharap  teman-teman dengar mulai peduli dengan kebutuhan tuli, khususnya dalam berkomunikasi. “Jadi kalau ada teman dengar yang ingin belajar bahasa isyarat, pasti akan saya kenalkan dengan teman Tuli supaya mereka bisa belajar lebih banyak lagi bagaimana memahami Tuli,” tutupnya. [Yanti]

The subscriber's email address.