Lompat ke isi utama
Senam Inklusi di Temu Inklusi 2018

Anak-Anak Menyambut Gembira Temu Inklusi 2018

Solider.id, Yogyakarta-  Hari pertama Temu Inklusi 2018 di Desa Plembutan, Kecamatan Pluyen, Gunung Kidul, menarik perhatian anak-anak sekolah dasar negeri Plembutan 1. Beberapa dari mereka berlalu-lalang di luar gedung sekolah untuk melihat acara temu inklusi.

Menurut kepala sekolah SDN, Agatha Surani Heriyanto, kegiatan belajar mengajar (KBM) semula tidak lancar karena kemeriahan acara temu inklusi menarik perhatian anak-anak.

"Saat akan KBM berlangsung ada grup kesenian yang datang, dan menarik perhatian anak-anak untuk melihatnya, tetapi untuk kelas 6 tetap ada KBM, dan saya membatasi anak-anak untuk melihat acara temu inklusi hanya sampai acara pembukaan selesai, lalu kembali KBM lagi," Ujar Agatha (23/10).

Agatha menambahkan jika anak-anak sdn Plembutan 1 juga ikut serta dalam pentas seni dan budaya di temu inklusi pada malam hari. Dalam tema inklusi ini yang pertama di Desa Plembutan, anak-anak sekitar masih bertanya-tanya tentang acara tersebut.

"Saya memberikan pengetahuan kepada anak-anak tentang acara tersebut bahwa inklusi itu bagi mereka yang menyandang kekurangan atau kelainan fisik, seperti kaki atau tangannya tidak sempurna sehingga mereka pakai tongkat atau kursi roda," Pungkas Agatha.

Agatha juga mempersilahkan para peserta tema inklusi untuk menggunakan fasilitas sekolahan, seperti lahan untuk tempat parkir, menggunakan fasilitas mushola dan toilet.

Anak-anak berlarian di lapangan tempat acara tema inklusi itu di selenggarakan, karena malu untuk menjawab pertanyaan dari kontributor solider kenapa tidak masuk sekolah, ia pun menjawabnya sedikit sambil berlari.

Saat siswa tidak ada KBM, para orang tua siswa membiarkan saja, karena memang antusiasme anak-anak untuk melihat besar.

Sadi, kakek dari siswa yang sekolah di sdn Plembutan 1, merasa sedikit terganggu karena KBM terhenti sebentar.  "Sedikit terganggu, tadi ada KBM sebentar, tetapi terhenti karena ada suara-suara keras di acara itu yang menarik perhatian anak-anak," ujarnya.

Sadi sering menjemput cucunya pulang sekolah karena ibunya berjualan dan ayahnya bekerja sebagai tukang ojek. [OB]

The subscriber's email address.