Lompat ke isi utama
Wira Ahmadi berfoto di Pameran produk difabel

Mengais Rejeki dari Kerajinan Sangkar Burung sampai Miniatur Kapal Phinisi

Solider.id, Jakarta- Selain Kapal Phinisi, Wira Ahmadi juga membuat berbegai kerajinan lain seperti miniatur rumah adat, miniatur becak dan miniatur mobil-mobilan, aneka piring-piring hias, patung etnik yang semuanya dari bahan dasar kayu. Semua, bermula dari usahanya membuat sangkar burung.

Wira Ahmadi, pria kelahiran Karawang, 23 April 1975. Ia tinggal di Dusun Cilebar Rt 07 Rw 01, Kertamukti, Cilebar, Karawang. Seorang ayah dengan dua anak laki-laki itu biasa disapa Adek.

Adek ikut menjadi peserta dalam Seminar dan Expo Produk Difabilitas 2018 yang digelar Kementrian Tenaga Kerja RI di Gedung Serba Guna Kantor Kementrian Tenaga Kerja, Jalan Gatot Subroto Kav. 51 Jakarta Selatan. Hari itu, ia tengah menikmati waktu luang di teras penginapan.

Adek bercerita tentang pengalaman pertamanya saat diajak Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Karawang, Adek yakin bahwa dinas ingin mengangkat difabel lewat karya yang mereka hasilkan. “Saya ingin diri saya menjadi bukti bahwa dinas tidak mengangkat kita untuk semata dijadikan wayang. Walaupun saya tidak mempunyai alat bantu untuk berjalan dan harus merangkak,” kisahnya (31/10).

Adek mengaku tidak memiliki alat bantu. Meski begitu, ia tidak merasa malu saat harus berjalan dengan merangkak. Adek juga tak pernah berharap bantuan seperti kursi roda, meski pemerintah dinas membawanya untuk ikut serta dalam pameran.

“Melalui usaha dari dinas ini difabel akan disamaratakan dengan mereka yang sehat. Jadi lakukan yang terbaik agar orang-orang dinas tertarik dengan apa yang kita hasilkan. Saya yang nol pengalaman, dan baru pertama ditemukan dinas hanya berbekal semangat dari keluarga,” ujar Adek dengan yakin.

Pada mulanya, Adek merasa ragu ketika seorang teman menawarinya untuk ikut berpartisipasi di pameran tersebut. Ia mengaku tidak pernah tahu setiap program kegiatan yang diselenggarakan pemerintah. “Dari pengalaman yang sudah-sudah, teman saya sering ditolak teman-teman difabel lainnya. Akhirnya dengan membawa gula teh dia membernaikan diri main ke rumah saya. Ngobrol, dan datanglah tawaran yang dia sampaikan,” lanjutnya.

Awal Karir

Adek menjadi seorang difabel ketika sebuah kecelakaan menimpanya pada 2005 di Purwadadi, Subang. Ia bekerja sebagai sopir truk yang mengakut tebu. Saat kejadian, ia sedang menunggu muatan truknya diisi oleh batang-batang tebu sampai penuh sebelum diikat. Na’as, truknya berjalan sendiri tanpa kendali. Ia yang saat itu di dalam truk, terguncang. Saraf otot Adek terjepit hingga mengalami kelumpuhan.

“Jadi saat itu mesin sudah saya matikan. Rem tangan sudah terpasang dan tempat bongkar muatan juga datar. Tiba-tiba mobil jalan sendiri sementara saya masih di dalam,” kisah Adek.Dari kejadian tersebut, satu hal yang Adek pikirkan adalah istrinya, Ropiah (38).

“Saya takut istri saya diambil orang. Hahaha. Sampai-sampai saya bilang sama dia kalau malu dengan kondisi saya, dia bisa kembali ke rumah orangtuanya,” lanjut Adek disertai tawa.

Usai kejadian itu pula, Ropiah, 23 tahun mendampingi dan membakar semangat Adek. Ropiah mengambil peran sebgai kepala keluarga dengan berjualan makanan ringan dari sekolah ke sekolah untuk memenuhi kebutuhan harian.

“Kata istri saya, Aa (panggilan sunda dari perempuan untuk seorang laki-laki) yang lebih tua harus lihat dunia yang sekarang, jangan lihat terus dunia yang di belakang karena ada yang lebih parah dari Aa,” ucap Adek, mengulang kalimat istrinya.

Namun, usai melewati masa pahit yang menimpanya, ia mencoba bangkit dengan bekerja sebagai supir truk tebu.

Pada kurun waktu lima tahun setelah kecelakaan itu menimpanya, Adek mulai berpikir untuk mengolah kerajinan dari bahan bambu. Dengan alat sederhana, ia mulai membuat sangkar burung dan kerajninan lainnya.

Satu piring hias kerajinan kayu yang Adek hasilkan bisa bernilai sampai Rp. 50.000. Sedangkan untuk miniatur rumah atau kapal Phinisi yang ia kerjakan bisa seharga ratusan ribu rupiah.

“Untuk sebuah perahu Phinisi seukuran 50 cm, saya hanya butuh modal 95 ribu rupiah dan bisa laku jual senilai 400 ribu rupiah. Atau untuk sebuah miniatur Harley Davidson. Dari modal awal yang cuma 25 ribu rupiah saya bisa menjualnya dengan nilai 50 ribu per buah,” jelas Adek. Dari usahanya, ia meraih laba sebanyak 200 persen setiap bulan dari modal awal yang harus ia keluarkan.

Keahlian Adek muncul secara otodidak dalam mengolah bambu menjadi sebuah kerajinan  yang berharga. Ia mengaku awalnya hanya iseng. Nmaun setelah banyak yang tertarik dengan hasil kerjanya, akhirnya ia serius melanjutkan. “Tidak ada istilah (langsung) bisa. Keadaan yang mengajari saya. Dari yang tadinya tidak bisa menjadi bisa,” pungkasnya.

Adek juga mengaku merasa terbatu dengan adanya ruang pasar seperti pameran produk difabel. Pameran telah membantunya bertemu banyak kawan. Membuka wawasan dan memperbanyak pengalaman.

Hari itu, Adek tengah menikmati waktu luang di teras penginapan. Sambil berkipas menepis hawa panas Jakarta. [Yanti]

The subscriber's email address.