Lompat ke isi utama
taman lumbini

Menilai Aksesibilitas Taman Alam Lumbini Berastagi Medan

Description: Taman Alam Lumbini MedanSolider.id, Medan - Taman Alam Lumbini yang dikenal sebagai taman pagoda di Medan, menjadi salah satu destinasi wisata bagi beberapa orang difabel yang mengikuti kegiatan Peringatan Bulan PRB (Pengurangan Risiko Bencana) 2018.  Setelah mengikuti serangkaian kegiatan tersebut, sebanyak 5 peserta difabel kemudian mengunjungi Taman Alam Lumbini di Berastagi yang terletak di Barus Jahe, Brastagi, Dolat Rayat, Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara atau berjarak dua jam dengan menggunakan mobil dari pusat kota Medan.

Kawasan ini menjadi salah satu destinasi kelompok difabel yang mengikuti bulan PRB karena dinilai cukup populer dan bisa diakses oleh difabel. Untuk membuktikannya, Luluk Ariyantiny sebagai difabel daksa pengguna dua tongkat kruk mencoba berkunjung. Bersama dengan tim lainnya, Serafina seorang difabel daksa pengguna kursi roda dari Kupang, Febby Tahapary difabel netra dari Papua Barat, Ahmad difabel Tuli dari Yogyakarta, dan Ella difabel daksa asal Kupang, pengguna tongkat sebagai alat bantu mobilitas.

Terletak di area kaki gunung, jalan raya menuju Taman Lumbini berkelok tajam. Mendekati lokasi, kanan kiri jalan terdapat berbagai macam bunga aneka warna yang menjadi penghias indahnya perjalanan menuju Taman Lumbini. Meskipun terletak cukup jauh dari perkampungan warga, lokasi taman kerap dikunjungi wisatawan. Selain itu, di Taman Lumbini juga terdapat tempat peribadatan berupa Kuil yang hingga saat ini masih digunakan. Saat kami berkunjung, ada serombongan anak-anak Tuli yang berkunjung dengan menggunakan seragam sekolah berwarna merah. Mereka berlarian dan berteriak bebas di halaman kuil. Hampir seluruh rombongan anak sekolah tersebut menggunakan alat bantu dengar dan guru maupun pendamping mereka berkomunikasi dengan menggerakkan mulut mereka agar anak-anak tersebut memahami.

Dari area parkir, pengunjung perlu berjalan kaki 50 meter menuju pintu masuk kuil. Tidak disediakan area parkir khusus difabel di sini. Beberapa toilet disediakan di area parkir, tidak terdapat toilet khusus difabel dan toilet tidak terawat, aroma tidak sedap, dan terdapat banyak lalat. Saat menuju pintu masuk kuil, seorang penjaga meminta kami untuk mengeluarkan minuman atau makanan yang dibawa dan disimpan di pos penjagaan karena di dalam lokasi kuil dilarang makan dan minum demi menjaga kebersihan dikarenakan lokasi wisata ini masih digunakan secara aktif sebagai tempat beribadatan.

Tidak ada patokan tarif masuk, namun pengunjung dapat memasukkan uang keamanan dan kebersihan ke dalam kotak yang sudah disediakan di bagian pintu masuk. Saat menuju gerbang masuk, pengunjung pengguna kursi roda melewati jalur keluar karena jalannya lebih lebar dibandingkan jalur masuk. Jalur masuk dianggap landai oleh pengunjung pengguna kursi roda dan tidak ada kesulitan untuk mengaksesnya. Di dalam kuil pun kursi roda memiliki ruang yang luas dan terdapat ramp untuk memasuki area dalam kuil. Pihak kuil sudah menyiapkan sebuah kursi roda khusus untuk mobilitas di dalam area kuil demi menjaga kebersihan. Hanya saja, untuk memasuki kuil, pengunjung harus melewati beberapa anak tangga sehingga pengunjung harus melepaskan kursi roda yang dibawanya, kemudian dilanjutkan menggunakan kursi roda khusus area dalam kuil.

Menurut Luluk, pengguna dua kruk, aksesibilitas di area Taman dan Kuil sudah dinilai lumayan. “Lumayan karena sudah ada ramp, meski masih curam menurut saya jadi harus ada orang di belakang saya untuk jaga-jaga. Beberapa undakan juga mudah dilewati karena tidak tinggi dan lebar. Hanya saja di dalam kita tidak mendapat informasi apa-apa karena memang tidak boleh berisik. Kalau dari area parkir menuju kuil, saya merasa nyaman karena jaraknya tidak terlalu jauh, sayangnya tidak ada toilet yang bisa saya akses”, pungkas Luluk.

Sedangkan menurut Febby Tahapary, seorang difabel netra asal Papua Barat, “Saya rasa sudah cukup akses meskipun ramp itu miringnya tinggi tapi saya masih bisa pegangan. Meurut saya tempat ini akses tapi fasilitas disini kurang nyaman karena banyak lalat padahal pemandangannya sudah indah, saya tahu karena saya bisa merasakan dan saya dikasih tahu pendamping saya bahwa ada banyak bunga disini, saya merasakan itu pasti indah dan udaranya sejuk.”

Meskipun dinilai cukup akses, namun Febby harus didampingi oleh pendampingnya agar dapat dengan maksimal mengakses lokasi ini. Meski demikian, dirinya tidak dapat banyak menyentuh area kuil, “Saya harus didampingi karena ini tempat ibadah takutnya ada patung rusak atau jatuh, karena di sini bukan tempat wisata biasa.”

Media pemberitahuan yang ada di area kuil saat kami berkunjung hanya menggunakan suara penjaga, tanpa pengeras suara dan tidak seluruh area terdapat papan penunjuk arah. Ahmad, pengunjung Tuli yang juga ada dalam rombongan menyampaikan, “Saya hanya menikmati pemandangannya yang bagus tapi saya tidak mengetahui sejarah tempat ini, tidak bisa berkomunikasi dengan penjaga disini, yang saya tahu hanya peraturan di sini tidak boleh bawa makanan minuman, tidak boleh merokok, tidak boleh berisik, dan tidak boleh menginjak rumput”.

Taman Lumbini dibuka setiap hari pukul 09.00 - 17.00 untuk umum dan 09.00-18.00 untuk sembahyang. Selain menikmati pemandangan kuil, pengunjung juga dapat menikmati area perkebunan di sekitar kuil dengan udara segar khas pegunungan. Pengunjung juga diperbolehkan untuk mengambil foto dan video tanpa tambahan biaya. [Ramadhany Rahmi]

The subscriber's email address.