Lompat ke isi utama
baliho temu inklusi di desa plembutan

Dampak Positif Temu Inklusi 2018 pada Geliat Ekonomi Warga

Solider.id.Gunung Kidul. Perhelatan akbar dua tahunan ‘Temu Inklusi (TI) 2018’ usai digelar.   Kegiatan yang mempertemukan berbagai pihak, dan menghasilkan rekomendasi dalam mendorong terwujudnya Indonesia inklusif 2030 itu resmi ditutup pada Kamis (25/10/2018). Selain menjadi ajang berinteraksi, berbagi, dan belajar, TI berdampak positif pada geliat atau perubahan ekonomi warga masyarakat Plembutan.

Kegiatan yang diinisiasi Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia itu, selain dipusatkan di balai desa, juga dilangsungkan di 12 dusun Desa Plembutan. Selama empat hari, 22-15 Oktober 2018, peserta TI yang datang dari berbagai penjuru tanah air tinggal dan menginap di rumah-rumah warga. Kurang lebih 40 rumah warga, disewa dan menjadi rumah tinggal (homestay).

Menurut Sarbi, salah seorang warga Toboyo Barat yang rumah keponakannya disewa dan dijadikan homestay bagi empat jurnalis Solider, mengatakan bahwa kegiatan TI berdampak positif pada berbagai sektor ekonomi warga.

“Ya, kegiatan ini berdampak positif bagi warga. Rumah yang tadinya hanya untuk tempat tinggal sendiri jadi punya nilai ekonomi karena disewa,” ujarnya saat ditemui Solider di rumahnya, Kamis (25/10).

Dia juga mengutarakan bahwa dampak positif tidak hanya pada warga yang rumahnya disewa, namun juga pada para pelaku usaha transportasi. Hal tersebut diamini oleh Sukarpan, warga Toboyo yang bertugas mengkoordinir sarana transportasi bagi peserta Temu Inklusi 2018.

Dalam keterangannya Sukarpan mengungkapkan bahwa para pelaku usaha transportasi baik angkutan desa maupun odong-odong, tidak menentu penghasilannya. Dengan adanya TI penghasilan menjadi jelas dengan jumlah yang lebih banyak.

“Ada empat unit angkutan desa, dua odong-odong, satu  unit mobil bak terbuka dan satu mobil pribadi yang disewa sebagai sarana transportasi pada temu inklusi. Dengan nilai sewa 500 ribu untuk angkutan desa, 550 ribu odong-odong, 350 ribu untuk mobil bak terbuka dan mobil pribadi,” terangnya.

Sukarpan juga mengutarakan bahwa geliat ekonomi tidak hanya pada sektor rumah dan transportasi, tetapi juga pada  sektor pangan dan pertanian. Demikian pula dengan para pelaku usaha makanan siap santap atau catering.

Tidak ketinggalan sektor pariwisata juga menjadi bagian yang tak terpisahkan. Dengan hadirnya banyak orang yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, maka tempat-tempat wisata di Gunung Kidul akan lebih dikenal, kata dia. Sehingga budaya lokal Desa Plembutan harapannya juga menjadi dikenal.

Selain berdampak positif pada sektor ekonomi, bagi Sukarpan kegiatan TI juga telah mampu memahamkannya pada isu difabel. Difabel dengan hak yang sama, sebagaimana hak warga negara pada umumnya.  “Pembelajaran dan pemahaman ini tidak dapat dinilai, ini sangat berharga,” pungkasnya. [harta nining wijaya]

The subscriber's email address.