Lompat ke isi utama
ekolah Minggu di Elo Gerwali

Nilai Pendidikan Inklusi di Sekolah Minggu Desa Elo-Gerwali

Solider.id, Tiakur – Kebudayaan dan kearifan lokal banyak mengajarkan inklusifitas secara langsung maupun tidak langsung. Contoh terbaik dari hal ini adalah komunitas Tuli di Kolok Bali. Di desa bernama Benggala  di Bali, sebagian besar populasi masyarakatnya adalah Tuli. Masyarakat lain yang dengar tidak menganggap Tuli sebagai sebuah difabilitas. Berbekal hal itu, corak kebudayaan serta kearifan lokal akhirnya secara tidak langsung mengandung nilai-nilai inklusifitas.

Di desa Benggala, baik masyarakat Tuli maupun yang dengar sama-sama berkomunikasi dengan bahasa isyara yang sudah menjadi bahasa kedua selain bahasa Bali. Di sekolah, siswa yang dengar juga memakai bahasa isyarat. Semuanya terbiasa memakai bahasa isyarat. Hal ini menarik karena adanya upaya membagi bahasa isyarat agar bisa dikuasai semua orang tanpa melihat bahwa Tuli kolok adalah difabel. Selain itu, Tuli Kolok punya kesenian khas kolok, semacam tari-tarian yang menggunakan musik. Beatnya diatur secara visual oleh seorang petugas yang akan memberikan aba-aba dan isyarat ritme. Yang bermain adalah orang Tuli Kolok. 

Kearifan lokal yang berbalut dengan nilai relijiositas juga tergambar di beberapa daerah di gugusan kepulauan Sermata di Kabupaten Maluku Barat Daya. Salah satunya ada di Kampung Pesisir Elo-Gerwali di Kecamatan Mdona Hyera. Kearifan lokal berbalut relijiositas yang inklusi ditunjukkan masyarakat Elo-Gerwali di acara Sekolah Minggu bagi anak-anak.

Sekolah Minggu adalah sebuah pendidikan informal agama Kristen yang diadakan pada hari Minggu. Hal yang diajarkan di Sekolah Minggu biasanya berupa materi-materi keagamaan ringan yang ditujukan anak-anak. Sekolah Minggu biasanya dilakukan di Gereja. Sang pengasuh untuk Sekolah Minggu biasanya diambil dari masyarakat sekitar Gereja.

Di Elo-Gerwali yang seluruh warganya adalah penganut Agama Kristen yang taat, Sekolah Minggu adalah hal yang wajib bagi seluruh anak-anak usia sekolah. Sekolah Minggu memang hampir ada di setiap wilayah Indonesia yang berpenduduk Agama Kristen, namun ada nilai pendidikan inklusi di Sekolah Minggu yang sudah dilakukan di kampung pesisir Elo-Gerwali.

Ada seorang difabel netra berusia enam tahun di Desa Elo-Gerwali bernama Lala. Ia memang belum bisa mengakses pendidikan formal sekolah setempat karena keterbatasan sumber daya guru. Namun, Lala bisa mengenyam pendidikan informal terkait pengetahuan keagamaan di Sekolah Minggu. Proses belajar mengajar di Sekolah Minggu Desa Elo-Gerwali juga sangat inklusif.    

Di hari minggu selepas ibadah Minggu di Gereja Zoar Desa Elo-Gerwali, Lala beserta teman-temannya akan berangkat ke gereja untuk ikut Sekolah Minggu. Metode pembelajaran di Sekolah Minggu yang hampir semuanya menggunakan media audio sangat membantu Lala dalam mengakses pengetahuan keagamaan.

“Karena yang banyak dipelajari di Sekolah Minggu adalah lagu-lagu pujian, makanya proses pembelajarannya akan banyak bernyanyi dan menghafal secara auditori,” ujar Madlyne Vivian Aunalal, Ibu Pendeta Desa Elo-Gerwali, saat dihubungi melalui pesan singkat.

Ujar perempuan yang lebih akrab disapa Ipen (Ibu Pendeta) ini, sedari awal, Sekolah Minggu memang punya sikap untuk menggandeng seluruh anak di Elo-Gerwali untuk ikut dalam Sekolah Minggu karena hal tersebut sudah diwajibkan dalam peraturan Gereja. Tidak terkecuali untuk Lala.

“Lala juga kami wajibkan untuk ikut. Metode pembelajaran yang auditori membuat para pengasuh mudah menyampaikan materi kepada Lala yang difabel netra,” ungkap perempuan lulusan S2 Teologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ini.

Menurutnya, para pengasuh tidak membedakan perlakuan kepada Lala. Dalam setiap Sekolah Minggu, akan ada satu anak yang ditunjuk untuk memimpin doa baik untuk membuka maupun menutup. Lala juga kebagian jatah jadwal untuk memimpin doa. Tidak ada pembedaan untuk setiap anak.

“Bagi kami, Lala dan teman-temannya tidak berbeda. Difabel dan tidak difabel itu menurut saya tidak berbeda. Terbukti dari Lala yang malah sering lebih hafal lagu-lagu pujian dari anak-anak lainnya. Yang penting diberikan haknya saja untuk mendapatkan pendidikan,” tambahnya.

Selain Sekolah Minggu, ada juga ibadah unit yang dikhususkan untuk anak-anak. Menurut Ipen Aunalal, tempat ibadah ini akan bergilir dari satu rumah anak ke rumah anak yang lainnya.

“Semua akan mendapat gilirannya, termasuk Lala. Beberapa waktu kita beribadah di tempat Lala dan ia banyak mendapatkan kewajiban untuk memimpin doa dan lain-lain. Bagi kami, Gereja berperan untuk bisa menghadirkan pendidikan bagi semua anak, baik itu difabel maupun yang tidak, meskipun dalam pendidikan formalnya mereka tidak terpenuhi secara merata. Itulah tugas Gereja!” pungkasnya.

Secara tidak langsung, apa yang diupayakan oleh Ipen Aunalal beserta pengasuh Sekolah Minggu adalah sebuah perwujudan dari nilai-nilai pendidikan inklusi. Ipen Aunalal mengaku tidak mengerti sistem pendidikan bagi difabel usia sekolah. Yang ada di benaknya, juga yang ada di hati semua pengasuh Sekolah Minggu, semua anak berhak mendapatkan pendidikan keagamaan secara adil dan merata, tanpa melihat latar belakang anak tersebut.

Secara tidak sadar, Ipen Aunalal telah memancarkan nilai keadilan yang inklusi melalui aspek relijiositas. Agama memang sudah seharusnya seperti itu, menjadi corong terdepan keadilan bagi orang-orang yang menganutnya. Ipen Aunalal dan seluruh pengasuh Sekolah Minggu sudah memulainya dari sebuah Gereja kecil di ujung Tenggara Indonesia. Tinggal bagaimana hal ini bisa diteruskan ke ranah pendidikan yang lebih luas.  [Yuhda]

The subscriber's email address.