Lompat ke isi utama
lustrasi olahraga difabel. Courtesy of Kompas TV

Partisipasi Difabel dalam Ekosistem Olahraga yang Inklusi

Solider.id, Banjarnegara – Perhelatan akbar Asian Para Games 2018 sudah dimulai sejak dibuka pada Sabtu  (6/10/2018). Ini adalah kali pertama Indonesia menjadi tuan rumah ajang olahraga difabel terbesar sebenua Asia ini. Megah di awal, ternyata antusiasme masyarakat terhadap ajang empat tahunan ini belum terlalu tinggi. Setelah berjalan sekitar lima hari, beberapa tempat pertandingan Asian Para Games dilaporkan tidak terlalu ramai. Masih banyak bangku yang kosong pada beberapa nomor perlombaan di ajang ini.

Bangku-bangku yang kosong ini tidak sebanding dengan begitu ramainya perhelatan Asian Games beberapa waktu yang lalu. Beberapa penonton saat itu bahkan sempai harus kehabisan tiket untuk pertandingan-pertandingan bergengsi seperti bulutangkis dan basket.

Mengutip dari tempo.co, sepinya antusiasme penonton di ajang Asian Para Games ini juga ditanggapi oleh Rena Masri, Psikolog Q Consulting. Menurutnya ada perasaan tidak tega dari penonton untuk melihat difabel bertanding.

Jika dilacak lebih jauh, perasaan tidak tega ini bisa berasal dari stigma dan diskriminasi sebagai akar permasalahan yang banyak dihadapi difabel saat ini. Anggapan bahwa difabel yang mampu berolahraga sebagai sebuah hal yang luar biasa bisa menjadi penandanya. Realitas yang terjadi di Indonesia masih menempatkan difabel sebagai kalangan yang tidak mampu. Alih-alih dihubungkan dengan sempitnya kesempatan dan terbatasnya akses akan olahraga, biasanya persepsi ketidakmampuan ini cenderung dihubungkan dengan kondisi fisik difabel. 

Maka dari itu, akan banyak ekpresi seperti ini: “Sungguh luar biasa para atlet difabel ini. Di tengah keterbatasan dan kekurangan, mereka masih bisa berprestasi dalam bidang olahraga.”

Jika ditelaah lebih dalam, persepsi ini salah besar. Masih ada persepsi yang menganggap bahwa difabel berprestasi dalam bidang olahraga adalah hal yang luar biasa. Padahal, sebenarnya hal tersebut akan normal-normal saja ketika akses untuk menunjang ekosistem keolahragaan difabel disediakan secara lengkap. Itu harus didukung pula oleh cara pandang bahwa difabel itu hanya berbeda dari kemampuan saja (differently able people).

Jika semua ini bisa dilakukan dengan tepat, bisa jadi, untuk beberapa tahun ke depan, tidak ada lagi Asian Para Games karena perhelatan ini sudah digabung ke dalam Asian Games sebagai sebuah kesatuan. Pembukaan untuk ajang empat tahunan ini hanya dilakukan sekali saja. Begitu pula penutupannya. Difabel dan non difabel terlibat semua di dalamnya, tanpa ada pembedaan ajang kegiatan. Nomor-nomor perlombaan untuk nondifabel dan difabel juga diadakan dalam satu rangkaian waktu yang sama dan tidak terpisah.

Jika ditilik lebih dalam lagi, persepsi bahwa difabel yang berolahraga adalah hal yang luar biasa sebenarnya berawal dari kurangnya partisipasi difabel dalam kegiatan olahraga selama ini. Seringkali difabel tersisih dari kegiatan olahraga karena faktor kedifabelan mereka. Jadi, masyarakat luas jarang menyaksikan difabel berpartisipasi dalam kegiatan olahraga. Alhasil, ketika ada difabel yang berolahraga atau menjadi atlet olahraga yang berprestasi, ekspresi masyarakat akan berada pada dua posisi: yang pertama, orang akan merasa bahwa itu adalah hal yang luar biasa dan menggugah inspirasi, seperti perhelatan Asian Para Games dengan tagarnya #ParaInspirasi. Yang kedua, orang akan merasa tidak tega melihat mereka karena kondisi kedifabelan mereka.

Berbagai macam jurnal sudah membedah betapa pentingnya partisipasi difabel dalam olahraga yang inklusi.  Dalam sebuah jurnal yang berjudul Inclusion in Sports: Disability and Participation yang ditulis oleh Florian Kiuppis pada Sport in Society Journal, Kiuppis mencoba menelaah skenario keterlibatan difabel dalam olahraga. Di awal, ia mencoba untuk melihat makna partisipasi sebagai bagian dari pendekatan inklusi. Ia meminjam asumsi dasar dari studi mengenai keadilan (ekuitas) yang mengidentifikasi pendekatan inklusi sebagai upaya untuk ‘menjamin standar minimum olahraga bagi semua kalangan.’

Makna partisipasi dalam olahraga yang digunakan oleh Kiuppis di jurnal ini berbeda dengan makna partisipasi difabel dalam pendidikan. Meski sama-sama menggunakan kata partisipasi, ada dua sudut pandang yang diperhatikan oleh Kiuppis. Jika makna partisipasi difabel dalam bidang pendidikan lebih menitikberatkan pada konsep pendidikan inklusi dan melihat pendidikan segregatif (sekolah luar biasa) cenderung sebagai hal yang negatif, makna partisipasi difabel dalam olahraga lebih dilihat Kiuppis sebagai sebuah kebebasan individu untuk memilih berbagai macam skema olahraga yang inklusi.

Dalam konteks olahraga, tujuan yang diambil adalah mendukung difabel untuk berpartisipasi pada olahraga sesuai dengan apa yang mereka inginkan dan dengan siapa mereka ingin berpartisipasi olahraga. Alhasil, inklusi dan partisipasi difabel dalam konteks olahraga tidak mengganti sistem keolahragaan hanya menjadi olahraga yang terintegrasi, seperti yang ada di pendidikan inklusi, namun memberikan validitas dan nilai penting dari berbagai skema olahraga bagi difabel, sesuai dengan nilai fungsinya masing-masing.

Partisipasi difabel dalam olahraga, menurut Kiuppis, bisa menggunakan apa yang disebut sebagai spektrum inklusi yang terdiri dari lima model. Model pertama disebut dengan aktifitas olahraga terpisah (separate activity) yang berarti bahwa olahraga difabel dilakukan dalam waktu dan tempat yang terpisah dengan olahraga non difabel. Yang kedua disebut dengan aktifitas paralel (parallel activity) yang berarti bahwa olahraga difabel berada dalam satu lingkungan dengan olahraga nondifabel. Yang ketiga adalah aktifitas olahraga difabel (disability sport activity) yang berarti nondifabel ikut dalam olahraga adaptif difabel. Contoh dari model ini adalah nondifabel yang ikut dalam olaharga Goal Ball dengan cara menutup mata mereka. Yang keempat adalah aktifitas terbuka atau inklusi (open or inclusive activity) dimana semua kalangan melakukan kegiatan olahraga tanpa ada adaptasi apapun terhadap lingkungan atau peralatan. Yang terakhir adalah aktifitas olahraga yang dimodifikasi (modified activity activities) yang memodifikasi secara spesifik berbagai elemen teknis dalam olahraga.

Ekosistem Olahraga di Banjarnegara

Setelah mengetahui penjelasan mengenai kelima model spektrum inklusi dalam bidang olahraga, Samad, Ketua National Paralympic Committee (NPC) Banjarnegara melihat ekosistem olahraga difabel di Banjarnegara masih jauh jika harus mengacu pada kelima model tersebut.

“Masih jauh jika ekosistem harus seperti itu. Di Banjarnegara kita masih merangkak istilahnya. Internal NPC masih kita betulkan baru memikirkan hal yang lain,” ujar Samad.

Baginya, yang menjadi target  NPC Banjarnegara adalah peningkatan efektifitas komunikasi dengan pemerintah sehingga pemerintah daerah Banjarnegara bisa memberikan perhatian dan kebijakan untuk mendukung olahraga difabel di Banjarnegara.

“Kita tingkatkan komunikasi dengan pemerintah, lalu kita cari bakat-bakat di Banjarnegara. Pokoknya biar difabel bisa partisipasi di kompetisi olahraga difabel,” ungkapnya.

Samad setuju bahwa partisipasi difabel dalam olahraga itu penting. Baginya, pemerintah harus proaktif dalam menyediakan fasilitas yang mendukung pencapaian prestasi difabel dalam olahraga. Ia sudah menebak bahwa antusiasme masyarakat pada Asian Para Games akan berbeda dengan Asian Games lalu.

“Orang kan jarang liat kita [difabel] berolahraga. Maka saya tidak kaget ketika mereka menganggap bahwa difabel yang mampu berolahraga adalah orang yang luar biasa. Bahkan kita disebut manusia super. Padahal jika sedari awal kita diberi akses, kesempatan serta perhatian, maka pandangan orang pada difabel yang berolahraga maupun yang menjadi atlet olahraga akan sama saja dengan mereka yang nondifabel,” ujarnya sambil tertawa.

Meski baru pertama kali mendengar tentang lima model spektrum inklusi dalam olahraga, Samad menganggap lima model ini bisa menjadi tujuan dari ekosistem olahraga tidak hanya di Banjarnegara namun juga di Indonesia. Jika sudah seperti itu, menurutnya, difabel akan lebih leluasa dalam beraktifitas olahraga dan kegiatan ini akan semakin banyak beredar di masyarakat.

“Kalau sudah seperti itu, kita yang punya prestasi olahraga ini tidak perlu lagi disebut manusia super. Toh, nondifabel yang berprestasi di bidang olahraga juga tidak disebut manusia super,” serunya. [Yuhda]  

The subscriber's email address.