Lompat ke isi utama
Gema Difabel saat melakuan asessment

Difabel Jadi Aktor, Assessment Inklusif Tanggap Darurat Palu dan Donggala

Solider.id, Mamuju  -- Tim Emergency Respon Arbeiter-Samariter-Bund (ASB) organisasi asal Jerman yang bergerak dibidang bantuan dan dukungan sosial bersama Jaringan Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis) Sulawesi Tengah (GERKATIN,PERTUNI,PPDI,HWDI) dan Sulawesi Barat (Gema difabel Mamuju) melakukan kaji cepat pasca gempa bumi 7.4 skala richter yang berpusat di kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah.  Bencana tersebut juga memicu tsunami di wilayah pantai barat Kota Palu dan Kabupaten Donggala serta memicu terjadinya likuifaksi (pencairan tanah) di sejumlah area pemukiman di Kota Palu Selatan dan Kabupaten Sigi pada 28 September 2018.   

Dampak  bencana ini tercatat jumlah korban pertaggal 11/10/2018  mencapai 2.073 jiwa; korban luka-luka sebanyak 10.679 terdiri dari 2.549 luka berat (beresiko menjadi difabel) dan 8.130 luka ringan. Jumlah penyintas telah mencapai 87.725 jiwa dan rumah rusak berat dilaporkan telah mencapai 67.310 unit.

Sebaran teridentifikasi sejumlah 112 titik pengungsian, hingga saat ini masih terus dilakukan pendataan untuk daerah-daerah yang terisolir, terutama di Kabupaten Sigi dan Donggala (Pantai Barat).

Data pengungsi dapat diakses melalui: gis.bnpb.go.id/arcgis/home

Assessment dilakukan selama tiga hari (9 – 11 Oktober 2018) ini menyasar para penyintas (korban) difabel dan kelompok beresiko tinggi lainnya dengan membagi kedalam tiga tim yaitu tim Palu 1 (satu) dan tim Palu 2 (dua) melakukan Assessment di kota Palu dan tim Donggala untuk Assessment di Donggala, dari temuan hasil observasi dan kaji cepat kebutuhan sektor dasar yaitu Air Bersih dan Sanitasi, Pangan Nutrisi dan Mata Pencaharian, Hunian Sementara, Pemukiman, dan Barang nonpangan, serta Layanan Kesehatan.

Selain soal kebutuhan sektor dasar, menurut Aggraeni Puspitasari (Partnership coordinator ASB) “Assessment ini sesuai Mandat ASB yaitu memberikan dukungan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak dengan mengarusutamakan lima (5) mandat Inklusi : indentifikasi masyarakat terdampak dan memastikan ada data pilah berdasarkan GADDD (Gender, Age, Disability Disaggregated Data), memastikan aksesibilitas bagi kelompok beresiko tinggi untuk dapat menjangkau aksi –aksi kemanusiaan untuk masyarakat terdampak bencana, mendorong partisipasi bermakna bagi kelompok beresiko tinggi untuk dapat menyuarakan hak-haknya dalam penanggulangan bencana, pemberdayaan kelompok beresiko tinggi (peningkatan kapasitas), dan memastikan hak asasi manusia bagi kelompok beresiko tinggi dipenuhi dengan memberikan prioritas perlindungan bagi mereka pada sebelum, saat dan sesudah bencana”.

“Di beberapa tempat bencana hampir selalu kami (ASB) melibatkan teman-teman difabel karena salah satu fokus ASB adalah mengarus utamakan inklusi difabel, dan kami sadar “Nothing about us without us” melibatkan kelompok beresiko tinggi dalam usaha-usaha penanggulangan bencana karena yang mengerti kebutuhan difabel adalah difabel itu sendiri, selain itu, juga penting untuk bersatu menguatkan teman-teman yang terdampak bencana”. Lanjutnya

Ditempat terpisah Syafaruddin Syam, ketua Gema Difabel Mamuju yang menjadi salah satu mitra ASB di Assessment tanggap darurat ini, mengatakan “suatu kebanggan tersendiri bagi saya sebagai seorang difabel dengan ikut lansung terlibat dalam Assessment tanggap darurat in”.

lebih lanjut menurutnya “Sangat jarang LSM yang melakukan apa yang dilakukan oleh ASB saat ini, yaitu dengan melibatkan difabel untuk terlibat lansung dalam suasana masa tanggap darurat kebencanaan dan bahkan selama di Palu selama tiga hari masih sering terjadi gempa susulan dengan kekuatan berfariasi dan ini pengalaman yang sangat berharga bagi saya”.

Lebih lanjut pria bertongkat lengan ini mengatakan “Melalui moment ini saya menghimbau kepada masayarakat Indonesia bahkan Dunia bahwasanya jangan pernah menganggap seorang difabel sebelah mata karena dengan tegas saya akan mengatakan itu salah besar, saya dan teman-teman telah membuktikan bahwa kami bisa berbuat dan bermanfaat untuk kenanusiaan yang tentunya dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing”. Tutupnya [Shafar Malolo]

The subscriber's email address.