Lompat ke isi utama
 Asian Para Games

Bencana Palu Donggala dan Asian Para Games

Solider.id, Banjarnegara – Untung masih ingat betul suatu sore di bulan Desember 2014. Saat itu, menjelang maghrib, ia mendengar suara gemuruh besar dari arah selatan desanya. Beberapa waktu setelahnya, warga desa geger karena desa Jemblung yang hanya berjarak tiga kilometer dari desanya sudah tertimbun tanah. Ratusan orang menjadi korban dan ratusan rumah ikut tertimbun longsoran. Seketika itu, Jemblung langsung menjadi perhatian nasional dan menjadi berita utama selama dua minggu terakhir.

Ketua Forum Komunikasi Difabel Banjarnegara ini juga masih ingat ada salah seorang difabel daksa yang ikut menjadi korban longsor ini. Ia selamat dari terjangan longsor meskipun harus bersusah payah menyelamatkan diri saat longsor datang.

“Ada seorang teman namanya Misno. Ia seorang difabel daksa yang dulu ikut jadi pengungsi waktu longsor Jemblung. Selain itu, ada beberapa teman difabel lain juga yang menjadi korban,” tutur Untung.

Sebagai kawasan zona merah longsor di Banjarnegara, Untung paham bahwa difabel punya tantangan berkali lipat dalam menghadapi bencana dan juga bagaimana pemulihan pasca bencana bagi difabel.

“Mitigasi bencana bagi difabel kan menjadi salah satu tantangan kita selama ini. Pemulihan pasca bencananya juga. Nah, kalau kasus teman saya itu, ia menggunakan madia olahraga sebagai cara untuk memulihkan trauma kebencanaanya,” ujarnya.

Teman Untung tersebut kemudian menggunakan media olahraga sebagai sarana pemulihan trauma kebencanaannya. Menurut Untung, selain memulihkan traumanya, Misno juga menggunakan sarana olahraga sebagai sarana untuk menambah kepercayaan dirinya.

“Ia lalu bergabung ketika ada kegiatan olahraga. Ia ikut latihan bareng kami. Ia punya bakat dan tinggal dipoles aja. Saya sebagai ketua NPC kala itu merasa bertanggung jawab untuk mengembangkan bakat yang ada pada dirinya,” kata Untung.

Pria dua anak ini kemudian bersyukur bahwa Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah pagelaran Asian Para Games 2018. Agenda yang sudah dilaksanakan tiga kali ini dilihat Untung sebagai motivasi agar difabel bersemangat dalam mengembangkan bakat keolahragannya.

“Pembukaannya kan cukup meriah kemarin. Pasti banyak difabel yang nonton baik langsung di Gelora Bung Karno atau menonton dari televisi. Semoga kesempatan yang diraih Indonesia ini bisa memupuk semangat teman-teman difabel lainnya,” ungkapnya.

Penyelenggaraan Asian Para Games juga hampir bersamaan dengan datangnya musibah yang ada di Palu dan Donggala Sulawesi Tengah. Selain berharap agar keadaan Palu dan Donggala cepat pulih, pria berambut gondrong ini berharap rekan-rekan difabel di Palu dan Donggala yang turut menjadi pengungsi bisa lekas bangkit dan kembali bersemangat menatap hidup.

“Momen bencananya kan hampir bersamaan dengan pelaksanaan Asian Para Games. Semoga pengungsi difabel yang di Palu dan Donggala bisa ikut merasakan kemeriahan Asian Para Games meski sekarang masih dalam keadaan berduka. Semoga momen Asian Para Games ini juga bisa membangkitkan semangat mereka untuk bisa bangkit dari keterpurukan lewat jalur olahraga. Sama seperti Misno,” Untung berharap.

Momen Asian Para Games, menurut Untung, harus dijadikan batu pijakan untuk bangkit bagi rekan-rekan difabel di Palu dan Donggala. Semangat yang digulirkan lewat perhelatan olahraga ini ia harapkan bisa memberikan harapan untuk menata hidup bagi para korban bencana. [Yuhda]

The subscriber's email address.