Lompat ke isi utama
Salah satu wartawan dari media difabel sedang mewawancarai salah satu panitia Asian Para Games 2018

Keterlibatan Media Difabel di Asian Para Games 2018

Solider.id, Jakarta- Keterlibatan peran media yang konsen terhadap isu difabiitas di Indonesia perlu dikembangkan. Salah satu ruang pemberdayaan difabel adalah dengan membuka ranah di bidang jurnalistik.

Asian Para Games 2018 yang sedang berlangsung di Jakarta merupakan wadah pertemuan para awak media baik lokal, nasional maupun internasional. Namun sangat disayangkan, dari ribuan awak media yang turut hadir, keterlibatan media yang khusus fokus mengangkat isu difabilitas masih minim.

Sebagaimana terpantau di ruang media di gedung MTC Jakarta yang digunakan sebagai tempat perkumpulan para media mengelola hasil pemberitaan selama Asean Para Games 2018 dilangsungkan. Dari ribuan peliput, masih sangat sedikit yang berasal dari media isu difabilitas, atau media publikasi difabel.

Ajang Asian Para Games merupakan even olahraga khusus difabel. Namun, keterlibatan jurnalis difabel atau media difabel untuk turut serta mempublikasikan even tersebut masih sangat kurang. Dari jumlah media yang hadir, baik media cetak, elektronik maupun media online, keberadaan media difabel masih minim.

Media difabel dari Indonesia yang ikut serta dalam peliputan acara Asian Para Games 2018 ini, selain media internal dari pihak penyelenggara yang melibatkan tenaga difabel, salah satunya adalah dari naungan Sasana Inklusi Dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia yang berkantor di Yogyakarta dan media komunitas difabel Netra yang dibawah asuhan Dimas P. Muharam sebagai ketua, yang bertempat di Jakarta.

Hal itu membuktikan masih adanya peluang yang cukup luas untuk masyarakat difabel terjun di bidang jurnalistik. Membuka lebar peluang bagi para kreator untuk membangun media baru sebagai wadah yang mengangkat isu difabel kepada publik.

Ketersediaan semberdaya manusia masyarakat difabel yang memiliki potensi dalam bidang kepenulisan dapat ditumbuhkan dengan cara mengadakan pelatihan jurnalistik. Sehingga mereka memiliki skil atau kemampuan untuk menekuni profesi di ranah media, baik sebagai jurnalis, editor bahkan pimpinan redaksi.

Selain untuk mengembangkan potensi para difabel yang memiliki minat dibidang menulis, media juga dapat berperan sebagai sarana yang dapat memberikan perubahan di dalam aspek ketenagakerjaan baru bagi difabel.

Fungsi utama dari media difabel tetap sebagai sarana edukasi dan informasi terkait isu difabilitas secara global. Sehingga pada setiap kegiatan yang berkaitan dengan difabel akan lebih banyak lagi media difabel yang ikut terlibat dalam mempublikasikannya.

Ciptakan lapangan kerja baru bagi difabel dibidang jurnalistik, lahirkan media-media baru yang konsen terhadap pemberitaan difabilitas. Dan libatkan masyarakat difabel sebagai bagian dari awak media tersebut. [Srikandi Syamsi]

The subscriber's email address.