Lompat ke isi utama
Salah satu baner Asian Para Games yang terpajang di Hotel Alana Sentul City

Membandingkan Pembukaan Asian Games dengan Asian Para Games 2018

Solider.id, Jakarta- Usai perayaan pembukaan Asian Para Games 2018, sebagian masyarakat memperdebatkan perbedaan perayaan pembukaan dua ajang bergengsi se-Asia yang dilaksanakan pemerintah Indonesia sebagai tuan rumah.

Asian Games 2018 telah selesai diselenggarakan dari 18 Agustus hingga 2 September dan Asian Para Games yang akan berlangsung 6 sampai 13 Oktober 2018 yang secara resmi dibuka Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, di Gelora Bung Karno, Senayan, pada Sabtu malam (6/10).

Sebagian masyarakat menganggap perayaan pembukaan Asian Games lebih meriah daripada perayaan pembukaan Asian Para Games 2018. Berbagai pendapat diungkapkan kalangan masyarakat melalui sosial media seperti Facebook, WhatsApp dan Instagram usai menyaksikan perayaan Asian Para Games yang ditayangkan langsung di televisi.

Widi Nuryanto, Ketua National Paralympic Committee (NPC) Kulon Progo menyampaikan kepada Solider, terkait hal itu. Menurutnya, secara konsep pembukaan sudah sama bagusnya dengan pembukaan Asian Games kemarin. Namun, dia menyayangkan antusiasme masyarakat untuk datang menonton pembukaan masih sangat minim.

Selain itu, Widi mengungkapkan, penayangan pembukaan APG 2018 melalui stasiun televisi tidak sebanyak perayaan Asian Games. Padahal, menurutnya banyak dari masyarakat difabel yang tidak memiliki akses untuk menyaksikan langsung di gedung GBK. Sehingga, tayangan di televisi menjadi alternatif masyarakat difabel untuk turut memantau berjalannya APG 2018.

Di beberapa tempat seperti Sleman, masyarakat difabel nonton bareng (Nobar) pembukaan Asian Para Games yang terselenggara atas kerjasama paguyuban Tuna Daksa Sleman (PTDS), NPC Sleman, Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia dan Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Ngaglik.

Berbagai pendapat bermunculan, mulai dari jumlah pengunjung sampai jumlah kembang api yang keluar di dua perayaan tersebut. Dari penampilan para artis yang turut berpartisipasi, sampai kepadatan kursi yang ada di Gelora Bung Karno. Perdebatan tersebut, muncul bukan hanya dari masyarakat difabel, namun juga disuarakan oleh masyarakat nondifabel.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, semisal, menilai ajang tersebut berlangsung sukses. Melalui fanspage Facebooknya, dia menulis, Minggu malam (2/9), bahwa kesuksesan festival olahraga tersebut tidak terlepas dari antusiasme masyarakat dalam mendukung penyelenggaraan Asian Games. “..Indonesia akan dikenang sebagai tuan rumah yang luar biasa, masyarakat yang ramah dan organisasi yang baik dan keamanan yang terjaga. Inilah wajah terbaik bangsa Indonesia.”

Jika kembali melihat pada catatan penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya, antara Asian Games dan Asian Para Games jelas berbeda. Asian Games, sudah digelar untuk pertama kalinya sejak 1951 di New Delhi, India. Indonesia sendiri untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah Asian Games pada 1962. Secara rentang waktu dari tahun 1951 sampai 2018 ini, Asian Games lebih dulu sudah diselenggarakan 18 kali dan Indonesia untuk kedua kalinya menjadi tuan rumah di periode ke-18.

Sedangkan Asian Para Games, baru digelar untuk ketiga kalinya. APG untuk pertama kalinya digelar di Ghuangzu, China pada 2010, kemudian dilanjut di Korea pada 2014 dan pada tahun ini di Indonesia, sebagai tuan rumah.

Meski begitu, cikal bakal APG sendiri sudah mulai muncul sejak berlangsungnya pagelaran bernama Far East and South Pacific Games for the Disabled (FESPIC) Games. FESPIC merupakan sebuah badan penyelenggara keolahragaan bagi atlet difabel yang pertama digelar pada 1975 di Oita, Jepang. Hingga pada penyelenggaraan FESPIC yang ke 9 di Malaysia pada 2006.

Namun, perayaan ke 9 FESPIC menjadi yang terakhir sebelum akhirnya digantikan oleh NPC. Sejak saat itu, penyelenggaraan keolahragaan tingkat Asia berganti nama menjadi Asian Para Games yang dipegang NPC.

Jika melihat kembali pada perayaan Asian Games kemarin, sebagian besar masyarakat menganggap bahwa ajang tersebut menuai kesuksesan Indonesia sebagai tuan rumah. Hal itu tidak terlepas dari strategi promosi Asian Games seperti iklan di televisi, baner, pamflet dan lain sebagainya. Bahkan dalam menggaet berbagai artis di acara pembukaan sebagai bagian dari promosi, kedua ajang tersebut berbeda.

Ada 18 talen untuk Asian Para Games 2018 beserta orang-orang yang berada di belakang panggung, sedangkan pada Asian Games sekira 27 artis Indonesia yang terlibat untuk menyukseskan festival oalahraga tersebut. Hal ini tidak terlepas dari besaran dana yang diperoleh pihak INAPGOC.

Dari data yang dihimpun Solider, jumlah nominal dana untuk penyelenggaraan dua ajang tersebut memang jauh berbeda. Meski keduanya sama-sama disokong dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pada Asian Games, pemerintah menggelontorkan dana sekira Rp8,2 triliun. Dana tersebut digunakan Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC) untuk seluruh persiapan, pembukaan, penyelenggaraan, hingga penutupan penyelenggaraan Asian Games 2018.

Dana pertama yang keluar untuk persiapan pembinaan atlet selama periode 2015-2018. Pembinaan atlet dibiayai APBN sebesar Rp2,1 triliun termasuk bonus bagi atlet, pelatih dan official. Sedangkan dana keseluruhan yang dikeluarkan pemerintah hampir Rp5 triliun untuk operasional, dari permintaan awal pihak INASGOC sebesar Rp8,7 triliun. Hingga pihak INASGOC mencari alternatif lain melalui pencarian sponsor. Upaya tersebut menghasilkan sekira Rp1,6 triliun.

INASGOC mengelola dana tersebut bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga melalui Lembaga Pengelola Dana dan Usaha Keolahragaan (LPDUK). LPDUK sendiri merupakan lembaga berstatus Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kemenpora yang akan membantu dalam proses administrasi dan pengelolaan dana komersil Asian Games 2018 agar bisa dipertanggungjawabkan.

Sedangkan untuk sektor konstruksi kota Jakarta dan Palembang, Menkeu, Sri Mulyani menjelaskan pemerintah mengucurkan dana APBN sebesar Rp13,7 triliun yang disiapkan sejak 2015 sampai 2018 untuk Asian Games dan Asian Para Games. Semua fasilitas di kawasan olahraga Senayan- Jakarta dan di kawasan Jakabaring -Palembang, infrastruktur jalan termasuk LRT menjadi investasi jangka panjang dan dapat dimanfaatkan masyarakat setelah ajang selesai.

Asian Para Games 2018 sendiri, hanya mendapat kucuran dana dari APBN senilai Rp1,7 triliun dari pengajuan awal Rp4 triliun. Raja Sapta Oktohari Ketua INAPGOC tidak mempermasalahkan besaran tersebut. Dia menjanjikan pembukaan ajang Asian Para Games 2018 tidak akan kalah meriah dibanding Asian Games 2018.

Meski begitu, Okto menjelaskan bahwa ajang ini memiliki spirit yang berbeda dibanding Asian Games 2018. Menurutnya, Asian Para Games lebih mengedepankan aspek kemanusiaan dan tidak dirancang untuk menjadi kegiatan komersial, “karena kalau Asian Games 2018 itu sejak awal keppresnya saja bunyinya sudah untuk komersial. Kalau Asian Para Games untuk kegiatan sisi kemanusiaan yang dikedepankan," lanjutnya kepada media.

Terkait cara pandang masyarakat yang membedakan pembukaan dua ajang tersebut, pendapat lain diungkap Sholih Muhdlor, salah satu koordinator program di Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA) Jogja. Menurutnya hal tersebut adalah suatu fenomena yang wajar.

Sholih memaparkan, ada beberapa faktor yang perlu dipahami masyarakat terkait proses penyelenggaraan dua ajang tersebut. “Dari budget, jumlah peserta yang mengikuti, jumlah negara yang mengikuti jumlah cabang olahraga yang dipertandingkan dan segala macam,” jelas Soleh, kepada Solider. “Selain itu, juga perlu melihat kembali pemenuhan hak-hak difabel di setiap negara yang turut berpartisipasi di APG 2018.”

Menurut Sholih, minat masyarakat menyaksikan teman-teman difabel dalam sebuah even juga kurang. Hal tersebut menjadi sebuah pretensi bahwa isu difabilitas belum menjadi isu yang seksi untuk masyarakat umum. Sehingga isu Asian Para Games masih di bawah gaung dari isu Asian Games.

Sholih mencontohkan fenomena yang hari ini terjadi, isu difabilitas belum menarik perhatian media arus utama. Media arus utama hanya terfokus pada momen-momen tertentu, seperti Asian Para Games dan tidak menjadi sebuah isu yang benar-benar menjadi daya tarik setiap saat. “Bisa saja, semisal media meliput ajang-ajang nasional keolahragaan difabel,” usulnya. [Robandi]

The subscriber's email address.