Lompat ke isi utama
logo asian para games

Obor Estafet Asian Para Games 2018 dan Potret Dunia Olahraga di Pulau Bangka

Solider.id, Bangka – Gegap gempita itu telah menggema ke seluruh negeri. Derap langkah asa dan semangat itu pun telah terdengar pasti. Oktober telah hadir dan Asian Para Games, perhelatan olahraga untuk para atlet difabel se-Asia pun siap membahana. Ya, awal Oktober ini Indonesia hiruk pikuk oleh tanggung jawabnya sebagai tuan rumah perhelatan olahraga untuk difabel yang ke-3. Geliat  Asian Para Games 2018 di Indonesia rupanya menghidupkan pula semangat kepedulian masyarakat dan kepercayaan diri difabel di Pulau Bangka, pulau yang selama ini aroma eksistensi difabelnya samar-samar saja tercium.

Menyoal tentang bidang olahraga, partisipasi para difabel di Pulau Bangka memang tak sebegitu lantang terdengar. Mereka mengendap-endap dalam menampakkan dirinya. Entah malu atau tak mau, entah cuek atau memang disuruh tak boleh cerewet, difabel Bangka asyik dengan kedamaian pulaunya sampai-sampai lupa bahwa ada asa yang tak boleh binasa, ada cita yang harus dibuat nyata dan ada prestasi serta karya yang pasti bisa dimiliki. Mereka cenderung lupa akan semua itu. Dan ujung-ujungnya hanya puas menjadi penonton akan prestasi difabel di pulau seberang.

Sebetulnya bukan tak  ada satu pun difabel yang berdaya dan berkarya di Pulau Bangka. Mereka ada dan siap beri bukti, namun menyoal tentang kuantitas, sungguh masih jauh dari harapan. Hanya ada segelintir saja difabel yang mau memberdayakan dirinya di bidang olahraga.  Andi Takdir, seorang ayah yang mengalami kedifabelan karena polio ini menjadi salah satu difabel di Pulau Bangka yang mampu menunjukkan sinarnya dalam diam. Kejuaraan nasional dan internasional pernah Andi ikuti dan juara 2 di perhelatan olahraga untuk difabel se-Asia Tenggara yang pertama adalah salah satu bukti nyata prestasi yang pernah ia torehkan.

Beda orang beda cerita. Andi bisa jadi aktif berkontribusi di bidang olahraga lewat National Paralympic Committee (NPC) yang ia ketuai. Namun, tak begitu halnya dengan difabel lainnya yang masih saja enggan tunjukkan eksistensi. Ya, potret keterlibatan difabel Bangka di bidang olahraga memang masih buram. Mereka sulit untuk diajak memberdayakan diri di bidang olahraga. Ada saja alasan yang mencuat mulai dari orang tua yang belum ikhlas anaknya beraktifitas di luar rumah hingga ketakutan serta ketidakpercayaan diri para difabel itu sendiri.

Menurut catatan NPC Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kendala yang kerap dihadapi oleh mereka dalam membina dan meregenerasi atlet difabel di Pulau Bangka adalah fasilitas pembinaan yang belum maksimal serta kelangkaan difabel yang bersedia menjadi atlet lebih-lebih lagi para perempuan difabel. Salah satu potret kelangkaan atlet difabel di Pulau Bangka adalah tidak adanya atlet difabel netra yang tercatat di NPC. Dengan kata lain, difabel netra di Pulau Bangka belum mampu berpartisipasi aktif dan menorehkan prestasinya di bidang olahraga. Selain itu,  perempuan difabel pun tak mau kalah memperburam potret itu. Mereka selalu menolak dan enggan ketika akan dibina menjadi atlet.

Setali tiga uang dengan kelangkaan atlet difabel, fasilitas pembinaan atlet pun dirasa kurang maksimal. Mereka mengaku bahwa Dinas Sosial serta pemerintah terkait lainnya memang telah banyak membantu namun tetap saja mereka masih keteteran untuk menciptakan atmosfer pembinaan atlet yang berstandar baik. Oleh karena itu, setiap kali memiliki kegiatan, NPC harus siap siaga meminta bantuan kepada pihak-pihak terkait. Tak berlebihan memang jika NPC menginginkan fasilitas yang layak untuk para atlet karena hal itu akan menjadi salah satu factor penunjang keberhasilan para atlet di lapangan.

Berbicara tentang prestasi memang tak lepas dari suatu proses panjang. Seseorang tidak akan serta merta menjadi juaraa. Harus ada proses yang dilewati dan harus ada perjuangan yang diberikan. Namun, potret-potret buram akan geliat olahraga di Pulau Bangka mau tidak mau ikut mendegradasi semangat serta kepercayaan diri para atlet di pulau yang kaya akan tanaman lada itu. Mereka bisa jadi akan merasa ‘minder’ dan mengganggap dirinya kawanan difabel miskin prestasi padahal sebetulnya ada potensi besar yang mereka miliki. Dan rupanya obor estafet Asian Para Games 2018 yang sempat mampir di Kota Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tanggal 26 September silam mampu memercikkan semangat dan kepercayaan diri para atlet.

Secara simbolik semangat para atlet difabel nampak dari arak-arakan obor Asian Para Games 2018 yang dimulai dari Jembatan Emas hingga Alun-alun Merdeka Kota Pangkal Pinang. Meski terik menyengat, mereka tetap bersemangat mengarak obor. Meski berbagai hambatan fisik  seolah membebani, mereka tak goyah melangkah. Mereka mengaku bangga karena pulau dimana mereka tinggal menjadi tempat ke-7 mampirnya obor dengan api abadi sebelum akhirnya benar-benar kembali ke Jakarta.

Dengan dipercayanya Kota Pangkal Pinang untuk menjadi lintasan obor Asian Para Games 2018 oleh INAPGOS, para atlet pun merasa termotivasi dan bangga. Mereka menganggap bahwa eksistensi atlet difabel di Pulau Bangka memang diakui dan dilirik, lebih-lebih ketika perhelatan kirab obor tersebut penuh sesak oleh puluhan booth serta partisipasi aktif dari masyarakat nondifabel. Oleh karena itu, wajah minder dan putus asa yang sempat menyelimuti pun mulai tergantikan oleh asa yang membumbung tinggi di angkasa.

Kirab obor Asian Para Games 2018 di Pulau Bangka memang menggaungkan banyak cerita. Sekapur Sirih pun ditampilkan. Dendang-dendang syair melayu pun terngiang. Pejabat-pejabat pemerintah daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pun menampakkan diri. Anak-anak sekolah baik Sekolah Luar Biasa atau pun sekolah regular turut bersorak-sorai menyaksikan kirab. Lensa kamera pun berkilat-kilat mengabadikan moment bersejarah dan perdana diselenggarakan di negeri tercinta. Dan hal itu menjadi bukti bahwa semua pasang mata tertuju pada para difabel di Pulau Bangka. Dengan kata lain, ada aspek psikologis dan sosial yang turut muncul dari kemeriahan kirab obor itu dan tak hanya sekedar riuh serta ramai belaka.

Dampak lain yang juga tumbuh dari dijadikanya Kota Pangkal Pinang sebagai salah satu kota yang menyambut obor Asian Para Games adalah tumbuhnya wawasan masyarakat nondifabel bahwa difabel adalah bagian dari mereka bahwa difabel bukan bagian terpisah dari masyarakat. Semangat kepeduliaan itu mulai bergelora. Mereka berpawai Bersama sepanjang jalan. Dan mereka meneriakkan semangat kepeduliaan terhadap difabel.

Hal unik lainnya yang juga muncul di tengah-tengah kemeriahan kirab obor itu adalah terjalinnya kerjasama yang akan diwujudkan oleh Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) dan NPC Bangka Belitung. Pertuni akan berusaha memfasilitasi difabel netra yang ingin memberdayakan diri di bidang olahraga dan tentu saja NPC lah yang akan menjadi tempat mereka mengembangkan diri demi raih prestasi. Beberapa difabel netra mengaku siap mengikuti seleksi untuk menjadi atlet seperti atlet catur dan lain-lain.

“NPC siap menerima difabel netra yang ingin menjadi atlet dan tentu saja menjadi atlet yang sesuai dengan cabang yang ia sukai,” ucap Andi Takdir kepada Suhamdani, Ketua DPD Pertuni Bangka Belitung.

Bara api abadi itu memang tersulut dan membara mencipta banyak kisah. Kepercayaan diri serta motivasi para atlet difabel di Pulau Bangka pun membara karenanya. Masyarakat pun memiliki semangat kepedulian yang bergelora untuk difabel disana. Dan sekelumit kerjasama dan persahabatan pun terjalin dari dua organisasi kedifabilitasan disana yang sedang sama-sama perjuangkan hak difabel. Semua itu terdampak dari gerak obor estafet yang seolah remeh temeh namun nyatanya membekas.

Song of Victory (lagu resmi Asian Para Games 2018) yang berkumandang dari Solo hingga Jakarta selama mengiringi obor estafet semoga tak sekedar lagu. Kemenangan itu semoga benar-benar Nampak pada diri setiap atlet difabel Indonesia yang berjuang pada 6-13 Oktober 2018. Prestasi demi prestasi semoga bisa diukir tanpa ada nada menghakimi kalaupun tak berhasil. Semoga Asian Para Games 2018 yang melibatkkan 43 negara di Asia ini mampu menunjukkan kekuatan para difabel Indonesia di mata dunia bahwa keterbatasan mampu membuat mereka berlari tanpa batas. [Eka Pratiwi Taufanti]

 

The subscriber's email address.