Lompat ke isi utama
Hasil seni para panitia Temu Inklusi bertulisankan TEMU INLKLUSi yang pernah dilaksanakan di Kulon Progo pada tahun 2014 lalu.

Pendaftaran Temu Inklusi Diperpanjang Sampai 15 Oktober 2018

solider.id- Jadwal pendaftaran bagi partisipan Temu Inklusi 2018 diperpanjang sampai 15 Oktober 2018. Hal itu mengingat antusias dari masyarakat di akhir pendaftaran. Perpanjangan jadwal pendaftaran bertujuan untuk mengakomodir para partisipan yang belum mendaftar.

“Jika sebelumnya pendaftaran kami tutup 30 September,” jelas Nur Widya Hening Handayani, Sekretaris Temu Inklusi 2018 (4/10). Temu Inklusi 2018 akan dilaksanakan pada 22-25 Oktober di desa Plembutan, kecamatan Playen, Gunungkidul.

Temu Inklusi merupakan acara dua tahunan yang diinisiasi Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia sebagai ruang berbagi, berjejaring dan konsolidasi gerakan Difabel dalam mendorong terwujudnya Indonesia yang inklusif.

Forum ini dirintis pada tahun 2014, di mana salah satu hasil nyata dengan munculnya gagasan konsep Desa Inklusif. Hingga saat ini, Desa Inklusif telah diinisiasi SIGAB dan lebih dari tujuh organisasi lainnya di berbagai daerah.

Selain itu, pada beberapa tahun terakhir, cukup banyak upaya dan kerja nyata pemerintah, baik di tingkat lokal maupun nasional, baik sendiri maupun kolaboratif untuk mendorong inklusi difabel.

Di tingkat nasional, setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, penyusunan aturan turunannya sedang menjadi agenda pemerintah pusat dengan berkolaborasi dan mendengar masukan dari organisasi Difabel dan masyarakat sipil lainnya.

Beberapa daerah (Provinsi maupun Kabupaten / Kota juga telah mengesahkan peraturan daerah tentang Difabel, penganggaran yang lebih responsif dan menjawab kebutuhan Difabel, serta proses perencanaan pembangunan di tingkat daerah yang semakin partisipatif.

Semuanya adalah catatan baik yang harus diapresiasi dan terus diperluas. Demikian pula dengan organisasi masyarakat sipil dan proyek-proyek pembangunan yang telah mulai menempatkan isu difabel sebagai arus utama yang keterkaitannya tak dapat dipisahkan.

Betapapun banyak kemajuan dari sisi kebijakan, praktik, inovasi maupun mobilisasi sumberdaya dalam mendorong pemenuhan hak serta inklusi Difabel, tantangan terbesarnya adalah masih sangat dirasakannya ketimpangan kesempatan. Serta penikmatan atas hasil-hasil pembangunan bagi Difabel dan kelompok rentan/minoritas lainnya. Rendahnya angka Difabel yang dapat mengenyam pendidikan dan akses lapangan kerja, hingga data Difabel yang belum valid adalah sebagian bukti yang perlu dipertimbangkan.

Penyelenggaraan Temu Inklusi 2018 akan berupaya memberikan kontribusi pada tantangan besar tersebut. Forum dua tahunan ini akan menggali dan membagikan solusi-solusi lokal, serta inovasi dalam meminimalisir hambatan dan mempromosikan terwujudnya masyarakat yang inklusif. Sadar bahwa mewujudkan masyarakat yang inklusif membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, praktisi, pembuat kebijakan, aktor pembangunan masyarakat, pelaku bisnis dan usaha, serta aktor-aktor lain, ruang terbuka ini akan memfasilitasi dialog yang bertujuan menggalang pertukaran gagasan, menguatkan jejaring dan kerjasama, serta menyepakati agenda-agenda strategis.

Dengan demikian, Temu Inklusi diharapkan menjadi ruang bersama yang dapat memberikan kontribusi pada pertukaran gagasan, kolaborasi yang lebih nyata, serta mendorong lahirnya kebijakan yang didasarkan pada bukti, kebutuhan dan praktik baik yang telah berjalan.

Secara tidak langsung, ruang bersama ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada upaya Indonesia dalam mengimplementasikan berbagai instrumen global seperti Konvensi Hak Penyandang Disabilitas sebagaimana termaktub di dalam Convention on the Rights of Persons with Disabilities (UN CRPD). Serta agenda 2030 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals.)

Kepesertaan Temu Inklusi

Peserta Temu Inklusi ada dua kategori, yakni peserta utama yang menginap (live in) di rumah-rumah warga dan peserta pengunjung yang datang pagi pulang malam. Sejak diadakan pada tahun 2014, jumlah peserta Temu Inklusi selalu meningkat.

Temu Inklusi 2014 dihadiri oleh 1.721 orang dari 12 provinsi (200 di antaranya live in), sedangkan Temu Inklusi 2016 dihadiri oleh 2.673 orang dari 14 provinsi (400 di antaranya live in).

Adapun peserta utama Temu Inklusi 2018 ditargetkan 800 orang yang terdiri dari perwakilan berbagai instansi dari 20 Provinsi. Mereka akan tinggal selama tiga hari tiga malam di Desa dan mengikuti rangkaian pameran, seminar serta workshop.

Temu Inklusi 2018 bersifat terbuka bagi anak-anak hingga dewasa, memungkinkan warga Desa Plembutan dan Desa sekitar yang diperkirakan berjumlah 3.000 untuk bergabung dalam acara ini.

Adapun target pengunjung, yakni: individu maupun perwakilan organisasi difabel, keluarga dengan anggota keluarga Difabel, Aparat Penengak Hukum, pengacara dan lembaga bantuan hukum, guru serta perwakilan lembaga pendidikan yang menangani siswa Difabel, pemerhati, warga dan kelompok perangkat desa, Akademisi (staf pengajar dan mahasiswa), organisasi masyarakat sipil, Pemerintah baik tingkat lokal maupun nasional, perwakilan proyek / lembaga pembangunan, kelompok bisnis (BUMD, BUMN maupun swasta), kelompok media (mainstream dan media berbasis rakyat serta kampus), pegiat seni / seniman, kelompok lainnya yang mempunyai ketertarikan dan/atau kerja nyata untuk inklusi Difabel. []

The subscriber's email address.