Lompat ke isi utama
kelor

Budidaya Kelor, Upaya Tingkatkan Kesejahteraan Keluarga DIfabel

Description: Gambar terkaitSolider.id.Yogyakarta. Kelompok masyarakat difabel sering kali luput dari sentuhan pembangunan. Mereka juga kesulitan mengakses berbagai informasi, pelayanan kesehatan, memperoleh pekerjaan, dan berbagai aspek kehidupan lain. Ditambah dengan beban biaya keperluan hidup mereka, semakin memposisikan difabel menjadi golongan masyarakat rentan dan termarjinalkan.

Kondisi tersebut berdampak pada sebagian besar difabel menggantungkan hidup kepada keluarga. Sementara tidak semua keluarga atau orang tua difabel mapan secara ekonomi. Kondisi demikian mendapatkan perhatian dari Lembaga Dria Manunggal. Sebuah lembaga kajian dan penelitian tentang difabilitas untuk transformasi sosial.

Mudah dibudidayakan

Budidaya tanaman kelor, oleh Lembaga Dria Manunggal dipandang sebagai sebuah harapan untuk mengubah kondisi difabel dan keluarga mereka. Kegiatan bertanam itu akan menjadi sebuah upaya meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, serta pendapatan keluarga dIfabel.

Terlebih bagi difabel dan keluarga mereka yang tinggal di kawasan pedesaan, budi daya penanaman kelor sangat memungkinkan dikembangkan. Lahan perkebunan yang luas dan tidak produktif, dapat disulap menjadi perkebunan kelor yang bernilai ekonomi tinggi, sehingga akan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan keluarga difabel.

Kecamatan Sedayu memiliki jumlah penduduk sebesar 46.915 jiwa, 300 jiwa di antaranya difabel. Sedayu menjadi wilayah yang akan didukung pembudidayaan tanaman kelor. Memanfaatkan lahan seluas 6.850 meter persegi dengan cara menyewa, budi daya tanaman kelor ini sangat mudah.

“Di wilayah Sedayu, kelor atau moringa oleifera merupakan tanaman yang ada di sekitar mereka. Namun tidak pernah mendapat sentuhan serius. Padahal daun dan biji kelor terbukti memiliki nilai kandungan gizi yang bagus, dan bernilai ekonomi. Di samping mudah perawatannya, tanaman kelor mudah hidup pada lahan yang kurang subur.” Terang Direktur Eksekutif Dria Munggal Setia Adi Purwanta kepada Solider, Rabu (26/9/2018).

Ditambahkan Setia, bahwa sebanyak 25 keluarga difabel warga Kecamatan Sedayu akan disupport mengembangkan budidaya kelor. “Gerakan ini akan menjadi sebuah model dan upaya penambahan pendapatan, juga peningkatan kesehatan bagi difabel yang belum bekerja dan masih menjadi beban kelurga,” lanjutnya.

Mereka akan mendapatkan pelatihan dan pendampingan penanaman, pemeliharaan, cara memanen, cara memproduksi olahan paska panen, serta cara mengkonsumsi daun dan biji kelor untuk menjaga konsistensi dan kualitas jaminan pemasaran.

Didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup, budidaya kelor sudah memasuki proses pembibitan. Adapun proses tanam akan dilakukan pada Oktober 2018. Harapan yang dibangun adalah keluarga difabel akan menperoleh tambahan pendapatan sekaligus peningkatan kulaitas kesehatan.

Program pemihakan

Program ini menjadi program pemihakan pada kelompok rentan khususnya difabel dan keluarga mereka. Setia Adi juga meyakini bahwa program ini akan berimbas pada keluarga difabel lain, dan kelompk rentan pada umumnya.

Kali itu Setia juga memberikan gambaran nilai ekonomi dari penjualan daun kelor, sebagai berikut: (1) meloroti daun kelor per kilo gram maka difabel atau keluarga mereka akan mendapatkan nilai ekonomi 1500 rupiah, (2) adapun daun kelor basah bernilai ekonomi 4000 rupiah per kilo gramnya, dan (3) daun kelor kering bernilai jual 35 ribu rupiah per kilo gram.

Ketekunan dan komitmen terwujudnya perubahan sikap, kesempatan, kesehatan dan ekonomi harus dibangun. Tidak mudah putus asa, kreatif dan inovatif perlu sekali ditumbuhkan pada masing-masing difabel, demikian pula dengan keluarga mereka.

“Mengangkat derajat kesehatan dan menambah pendapatan, adalah harapan atas pembudidayaan tanaman kelor ini.” Setia memungkasi perbincangan dengan Solider, Rabu (26/9). [harta nining wijaya]

The subscriber's email address.