Lompat ke isi utama
Momon, anggota KPSI Solo saat aksi melukis sebagai dukungan di Hari Alzheimer

Momon: Pemuda yang Khusyuk Melukis

Solider.id, Surakarta- Momon adalah salah satu pemuda yang khusyuk dalam menghasilkan karya seni, khususnya melukis. Kegiatan melukis baginya, tidak hanya sebatas ekspresi diri, namun juga bagian dari proses terapi.

Momon ditemui Solider di sela-sela aksi melukis sebagai bentuk Art Therapy dalam helatan peringatan Hari Alzheimer Sedunia di Plaza Sriwedari, Minggu (23/9), Eko Prasetyo anak sulung dari dua bersaudara yang akrab dipanggil Momon berkenan menyediakan waktu wawancara kepada Solider, usai gelaran kegiatan.

Momon, kelahiran Sragen pada 23 Februari 1995. Ia penduduk Desa Sidoharjo. Ia bersekolah dari Sekolah Dasar hingga bangku SMA di Sragen. Selepas bekerja di sebuah toko elektronik, kemudian pada 2015 Momon berhijrah ke Jakarta dan tinggal bersama ketiga kakak angkatnya. Cerita kemudian bergulir dari pemuda yang bergelut di dunia lukis-melukis ini.

Ayah dan ibunya berpisah saat ia bayi berusia setahun. Kemudian ia diasuh oleh nenek dari pihak ibu. Sang ibu bekerja di Negeri Jiran, Malaysia, sebagai buruh migran. Ia masih ingatr, sejak kecil ia sering dikira mengalami kesurupan dan orang-orang di sekelilingnya memberi stigma negatif.

Momon kecil melarikan kegalauannya dengan melukis. Dia sering menggambar objek-objek seram seperti hantu. Namun kegiatan menggambar hantu berhenti saat menginjak bangku SMP lalu SMA. Hidup bersama dengan sang nenek dan keluarga besar, kemudian menginspirasinya dengan menggunakan nama Momon. “itu arti sebenarnya adalah jika dibalik, akan membentuk huruf No Mom,” ungkap Momon tanpa ekspresi.

Saat kecil dulu, tidak ada keluarganya yang tahu kondisi jiwa Momon. Tatkala ia mencurahkan hati tentang apa yang dilihat dan didengarnya. Bukan perhatian yang ia dapat, namun cacian, kadang pukulan. “Mereka bilang saya terlalu banyak melamun. Dulu waktu duduk di bangku SD, buku sekolah saya disobek dan dibakar karena isinya gambar semua. Di sekolah saya hanya diam, sehingga berulangkali wali kelas ke rumah, jengkel melihat saya,” terang Momon.

Kerap diusir dari rumah, Momon sempat menggelandang. Hingga tiba waktu ia bisa berbicara baik-baik dengan sang ibu, baru kemudian keluarga besarnya mau menerima. “Saat ini ibu saya mendukung penuh aktivitas saya untuk terus melukis. Ibulah yang memberi fasilitas,” ungkap Momon.

Sewaktu tinggal di Jakarta dan setelah didiagnosa sebagai bipolar dan sinestesia, Momon bertemu banyak kawan bipolar lainnya seperti seniman Hana Madness, yang juga turut mendorong kegiatannya menggambar. Momon bergiat di Bipolar Care Indonesia (BPI) sampai kemudian ia berpindah domisili, kembali ke Sragen.

Lalu Momon berupaya sendiri mencari komunitas yang bisa untuk menjalin sosialisasi. Sejak menggunakan android tiga bulan lalu, ia membuka-buka media sosial berupa, portal online, YouTube dan Instagram hingga akhirnya menemukan akun KPSI Simpul Solo Raya. Lewat perantara seorang admin, ia diperkenalkan dengan grup WhatsApp KPSI Solo Raya. Dari asanalah ia mensosialisasikan karya-karyanya sebagai hasil Art Therapy.

Momon sangat produktif dalam berkarya. Kurun waktu sehari, ia bisa menyelesaikan dua hingga tiga gambar. “Dari noise-noise (suara-suara halusinasi) yang saya dengar kemudian menghasilkan rambut-rambut ini, dan saya sudah tidak mau menggambar yang seram-seram, tetapi menjadikannya gambar-gambar lucu. Ini contohnya, gambar-gambar ini adalah saya, sedangkan gambar perempuan dengan rambut tergerai ini adalah orang lain yang memandang diri saya,” tutur Momon sambil memperlihatkan lukisan hitam putih yang digambarnya dengan ballpoin, dua perempuan dan gambar-gambar mirip karakter anime.

Setiap pagi selepas bangun tidur, Momon mengantar adiknya berangkat ke sekolah. Menurutnya, hampir setiap pagi ia mengalami mood roolercoaster, jadi tidak bisa ditebak kapan ia memulai aktivitas melukis.

Kadang-kadang Momon melakukan olahraga terlebih dahulu di GOR setempat. Dulu sewaktu masih duduk di bangku SD dan SMP, ia aktif di komunitas sepeda BMX. “Saya sering kabur dari rumah untuk ikut kegiatan di komunitas itu,” kenang Momon. Dia sering juga menjalani ‘tidur ayam’, tidur yang tidak benar-benar pulas.

Namun jika dihitung, setiap hari dia rutin menggoreskan pena pada kertas lembar putih selama hampir 12 jam. “Jika keadaan manic, bisa sampai 24 jam tidak tidur,” tutur Momon.

Momon Ingin Bergerak dan Menularkan Art Therapy

Momon mengaku tidak mengkomersialkan hasil-hasil karyanya dan hanya ditumpuk saja di rumah. Ia akhirnya berpikir, mengapa tidak menularkan semangat dan mensosialisasikan Art Therapy. Maka gayung pun bersambut saat ada ajakan dari KPSI Solo Raya untuk turut memamerkan hasil karyanya pada gelaran pameran yang rencananya akan dihelat pada 12-14 Oktober di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT).

Momon juga tak menolak saat harus memenuhi pesanan gambar teman, dan diapresiasi dengan baik. “Saya ingin mendukung para bipolar, janganlah mereka mengalami perundungan. Mari kita bisa berkreasi dengan masing-masing bakat kita,” pungkas Momon. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.