Lompat ke isi utama
Peserta ELTA Bali 2018 berfoto bersama

ELTA: Pelatihan Bahasa Inggris Yang Ramah Difabel

Solider.id, Denpasar- Mengikuti tes International English Language Testing System (IELTS) tanpa adanya penyesuaian bagi difabel Netra adalah suatu hambatan besar. Tes kecakapan Bahasa Inggris IELTS meliputi 4 keterampilan yaitu listening, reading, writing, dan speaking atau dalam Bahasa Indonesianya mendengarkan, membaca, menulis, dan berbicara.

Jika tes dilaksanakan sesuai peraturan yang telah ditentukan secara umum, difabel netra akan menghadapi kendala. Selain waktu pengerjaan, model soal dengan bentuk tabel juga cukup membuat difabel netra kebingungan. Atas permasalahan ini, Pemerintah Australia mencoba menawarkan solusi melalui program English Language Training Assistance (ELTA).

Program yang diselenggarakan di lima lokasi di Indonesia ini merupakan pionir program pelatihan Bahasa Inggris yang ramah terhadap difabel. Proses seleksi yang dilaksanakan bagi difabel tidak jauh berbeda dengan pendaftar yang nondifabel. Hanya saja, pihak penyelenggara ELTA melakukan sedikit penyesuaian kebutuhan pendaftar yang berkebutuhan khusus. Sebagai contoh, pihak ELTA menyediakan soal tertulis yang berbentuk softfile bagi difabel netra, sehingga mereka dapat mengaksesnya secara mandiri dengan komputer bicara. Waktu yang diberikan untuk mengerjakan soal pun telah disesuaikan dengan kemampuan rata-rata difabel netra.

Jika dibanding dengan lokasi penyelenggara ELTA lainnya, ELTA di IALF Bali merupakan tempat penyelenggara program ELTA dengan peserta difabel terbanyak tiap tahunnya. Pada 2018 ini, kelas inklusif ELTA menerima tujuh difabel dari berbagai provinsi di Indonesia. Para peserta tersebut yaitu Sri Melati (Medan), Heru Ramdani Gumay (Jambi), Hendry Hernowo (Magelang), Agus Sri Giyanti (Semarang), Cheta Nilawaty (Jakarta), Muhammad Luthfi (Makasar), dan Andi (Kalimantan Utara). Dari ketujuh peserta tersebut, enam diantaranya adalah difabel netra dan satu difabel dari Kalimantan Utara.

Pihak penyelenggara memberikan jadwal tambahan yang disebut Orientation Week bagi peserta difabel untuk mengetahui penyesuaian seperti apa yang diperlukan masing-masing peserta. Minggu orientasi yang dilaksanakan dari 10 – 21 September ini mencakup pengenalan lingkungan kampus, pengenalan model pembelajaran di kelas, uji coba model soal serta materi, dan mock test atau tes uji coba ujian IELTS. Adanya orientasi tersebut, para peserta difabel dilatih untuk menentukan model pembelajaran yang tepat untuk masing-masing.

Heru Ramdani Gumay menyatakan bahwa ELTA merupakan even pertama yang pernah diikutinya dalam memberikan orientasi dengan sungguh-sungguh. “Keramahannya, kemampuan beradaptasi dengan difabel, kemauan untuk mendengarkan yang dilakukan oleh pihak penyelenggara pantas diberi apresiasi tinggi,” ungkapnya.

Difabel netra yang berasal dari Jambi ini mengaku perlakuan pihak penyelenggara terhadap difabel sangat baik. Mereka selalu bertanya lebih dahulu apakah yang mereka lakukan sudah benar atau tidak, para peserta berkenan atau tidak. Laki-laki yang berprofesi sebagai guru Sekolah Luar Biasa (SLB) sekaligus atlet difabel ini hanya mengalami sedikit kesulitan pada soal dalam bentuk tabel.

“Saya kesulitan kalau tabelnya lebih dari 3 kolom. Posisi jawabannya terpisah di beberapa bagian sehingga membutuhkan waktu untuk membacanya,” kisah Heru kepada Solider di akhir masa orientasi.

Namun, baginya orientation week cukup membantu karena pelatih memberikan tips bagaimana mengerjakan soal dengan cara yang tepat, sehingga peserta tidak perlu lagi mencari-cari cara lain.

Hambatan pun turut dirasakan Sri Melati, difabel Netra asal Medan. Bagi Imel, sapaan akrab Melati, dia harus bekerja ekstra karena itu adalah kali pertama ia bekerja penuh dengan laptop bicara. Menurutnya, belajar IELTS sangat berbeda jauh dengan ketika ia belajar Bahasa Inggris di tempat-tempat kursus dulu. IELTS benar-benar menguji kemampuan keterampilan berbahasa Inggris dalam level yang tinggi.

Sependapat dengan Heru, Imel pun mengapresiasi system kerja Tim ELTA. “Perlakuan Tim ELTA luar biasa! Mereka mau mendengar lalu mencoba merealisasikan,” ujar perempuan yang bergelar dokter ini.

Menurut Imel, permintaan yang menurutnya kecil dan tidak mungkin saja mereka penuhi. Waktu itu, Imel yang masih memiliki sedikit sisa penglihatan tersebut ingin mencoba mengerjakan soal dengan bantuan lampu. Dia mengira penyelenggara tidak akan menyediakan karena dia belum menyampaikan sebelumnya, tetapi ternyata esok harinya penyelenggara telah menyediakan lampu untuknya.

Imel berharap ELTA terus mendengar, mampu beradaptasi dengan difabel dan program ELTA dapat terus berjalan. Menurutnya, akan sulit sekali bagi difabel netra untuk mengurus tes IELTS secara mandiri. “Bagi teman-teman difabel yang ingin melanjutkan Pendidikan paska sarjana di luar negeri dan masih terhambat pada TOEFL atau IELTS, jangan takut mencoba mengikuti ELTA karena ini merupakan salah satu program yang aksesibel bagi difabel,” tambah guru sekolah bagi Multi Disability with Visual Impairment (MDVI) di Medan ini.

Selama masa orientasi, para peserta program ELTA yang berkebutuhan khusus juga dikenalkan fasilitas baik dalam maupun luar lingkungan kampus IALF Bali. Pihak kampus pun juga memberikan kemudahan fasilitas di perpustakaan mini yang disebut Resource Center. Di dalam Resource Center, tersedia beberapa komputer yang dilengkapi dengan pembaca layar, sehingga peserta difabel juga dapat menggunakannya.

Selain itu, di dalam perpustakaan tersebut juga disediakan magnifier untuk difabel netra yang masih masuk dalam kategori low vision. Petugas perpustakaan juga menawarkan bantuan bagi para peserta difabel yang ingin men-scan buku dari hardcopy menjadi softcopy agar dapat dibaca dengan komputer bicara.

Para peserta akan mengikuti pelatihan selama 3 bulan dari 24 September hingga pertengahan Desember 2018. Pihak penyelenggara ELTA pun mengenalkan fasilitas umum yang berada di lingkungan terdekat kampus IALF Bali seperti apotik, rumah sakit, bank, supermarket, ATM, dan tempat-tempat makan terdekat. Di area dekat kampus pun cukup aksesibel bagi difabel netra karena tersedia guiding block di sepanjang trotoar.

Secara garis besar, Tim Penyelenggara ELTA memang masih dalam tahap memahami kebutuhan difabel. Namun upaya yang mereka lakukan telah mempermudah banyak difabel untuk mencapai nilai IELTS sesuai standar yang ditentukan Perguruan Tinggi luar negeri. Dengan demikian, difabel di Indonesia dapat melanjutkan Pendidikan ke luar negeri tanpa khawatir dengan persyaratan sertifikasi Bahasa Inggris lagi. [Agus Sri]

The subscriber's email address.