Lompat ke isi utama
logo Asian Para Games

Efek Spanduk Asian Para Games di Desa

Solider.id, Banjarnegara – Arus pergerakan difabel di tingkat desa Banjarnegara memang masih belum terlihat. Difabel masih belum dilihat sebagai sebuah entitas yang punya kedudukan di desa. Tidak seperti beberapa desa di Lendah, Kulon Progo yang sudah melibatkan difabel dalam pengaturan alokasi dana desa melalui KDD (Kelompok Difabel Desa), hal tersebut adalah hal yang belum lumrah di Banjarnegara.

Entin, salah satu penggerak Forum Komunikasi Difabel Banjarnegara yang tinggal di desa Karangkobar mengutarakan bahwa difabel masih absen dalam perencanaan anggaran dana desa.

“Di desa belum ada organisasi difabel yang diakui oleh pemerintahan desa. Hasilnya, kami sama sekali tidak dilibatkan dalam perencanaan anggaran desa. Bahkan, dibeberapa tempat, pihak desa masih belum mengenal istilah difabel itu apa dan masih menggunakan istilah penyandang cacat,” ujar Entin, difabel yang berprofesi sebagai penjahit baju seragam sekolah ini.

Namun, beberapa waktu terakhir, ada sedikit perbedaan terutama setelah penyelenggaran Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Gagap gempita kegiatan olahraga empat tahunan ini sampai sudut-sudut di Karangkobar Banjarnegara. Beberapa reklame tentang Asian Games sempat menghiasi beberapa titik vital di desa Karangkobar seperti Kantor Kecamatan, Kantor Kepala Desa maupun Kantor Koramil Karangkobar.

Setelah Asian Games berlangsung sukses, reklame tentang Asian Para Games ikut menyusul. Rupanya, ada instruksi dari Bupati Banjarnegara untuk ikut meneruskan euforia dari Asian Games ke Asian Para Games. Melalui beberapa reklame serta spanduk Asian Para Games yang dipasang di titik-titik vital di Karangkobar, warga desa yang berada di pegunungan utara Banjarnegara ini kemudian mulai mengenal semesta difabel yang selama ini tidak mereka ketahui.   

“Isu difabel di desa Karangkobar ini mulai terbangun gara-gara himbauan Bupati Banjarnegara bagi kantor pemerintahan desa untuk memasang spanduk penyuksesan Asian Para Games. Kadang ada pelanggan jahit yang bertanya tentang apa saja olahraga yang dilakukan difabel setelah melihat spanduk-spanduk itu,” cerita Entin sambil membereskan bahan-bahan untuk kebutuhan menjahitnya.

Kadang, tambahnya, obrolan tentang jenis olahraga di Asian Para Games bisa berlanjut dengan isu-isu difabel yang ada saat ini seperti isu aksesibilitas, isu pendidikan inklusi, isu lapangan pekerjaan bagi difabel dan isu terkait hak difabel lainnya.

“Ketika di jalan dan kadang berada di dekat spanduk Asian Para Games itu, banyak tetangga atau warga desa yang iseng bertanya tentang olahraga yang dilakukan difabel. Umumnya mereka akan terheran-heran ketika mengetahui bahwa difabel bisa melakukan olahraga yang selama ini mereka asumsikan hanya bisa dilakukan oleh nondifabel. Setelah saya kasih penjelasan, baru mereka manggut-manggut,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Penyelenggaraan Asian Para Games di Indonesia kali ini menurutnya cukup membawa pengaruh terhadap isu difabel di desa. Meski, Karangkobar berjarak ratusan kilometer dari Jakarta, efeknya bisa langsung terasa, meski tidak bisa dikatakan banyak. Euforia ini pun, baginya, tidak bisa lepas dari gagap gempita penyelenggaraan Asian Games yang dilaksanakan beberapa waktu sebelumnya.

Hal yang nyaris sama juga diungkapkan oleh Usman dari Pertuni Banjarnegara yang tinggal di seputaran kota Banjarnegara. Poster Asian Para Games memang banyak berseliweran di beberapa titik di kota Banjarnegara. Orang yang berprofesi sebagai pemijat ini kadang mendapat pertanyaan tentang hal-hal seputar Asian Para Games setelah ia melihatnya di iklan TV.

“Kadang ada yang bertanya bagaimana caranya difabel main bulutangkis. Ya saya jawab sekenanya saja karena saya juga baru tahu sedikit tentang beberapa olahraga di Asian Para Games,” terangnya saat ditemui di panti pijat Pertuni yang ada di Krandegan Banjarnegara.

Promosi Asian Para Games baik yang tersebar di reklame dan spanduk serta berseliweran di televise cukup bisa memancing penasaran masyarakat di Banjarnegara tentang isu difabel. Dari hal sederhana ini bisa berkembang menjadi pembahasan dan obrolan tentang isu difabel tidak hanya dari sisi keolahragaan namun juga dari sisi vital lainnya. [Yuhda]

The subscriber's email address.