Lompat ke isi utama
Entok Darmanto dan para peserta reuni akbar BBRSBD Prof. Dr. Soeharso

Sekelumit Kisah Tiga Orang dengan Modal Ketekunan

Solider.id, Surakarta- Ditemui di sela-sela mempersiapkan helatan Silaturahmi dan Reuni Akbar BBRSBD Prof. Dr Soeharso, Minggu (16/9), Entok Darmanto yang bertugas sebagai sekretaris panitia bercerita tentang pengalaman hidupnya sebagai alumni Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD).

Laki-laki kelahiran 3 Oktober ini sehari-hari bekerja sebagai ketua Koperasi Penca Harapan yang beralamat di Jl. IR. Sutami. Lulusan SD Muhammadiyah 16 Karanganyar, SMP RC Prof. Dr. Soeharso, dan SMA Widya Bhakti Surakarta ini mengambil vokasi komputer di BBRSBD setelah lulus Sekolah Menengah Atas.

Saat itu RC/BBRSBD bekerja sama dengan The Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Entok Darmanto lulusan tahun 1997, angkatan kedua. Berbagai lakon hidup dia jalani sebelum akhirnya ilmu yang dia dapatkan saat sekolah membawanya berpindah kerja sejak 2010 di koperasi yang didirikan pada 1956 itu.

Selepas dari sekolah vokasi BBRSBD Prof. Dr. Soeharso, Entok Darmanto sempat menganggur setahun. Dia kemudian membuka usaha wartel dan persewaan keping Compact Disc (CD). Setelah usaha buka wartel tutup, dia bekerja di Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Prof. Dr. Soeharso selama setahun sebelum akhirnya ia berpindah pekerjaan di PT. INDEX Sukoharjo.

Pekerjaan tersebut ditekuninya selama tiga tahun. Selama tiga tahun tersebut Entok mengalami perpindahan dari divisi ke divisi lain. Dari divisi ekspor, pengolahan barang mentah hingga kemudian ke divisi IT. Sejak 2010 hingga sekarang, Entok bekerja di Koperasi Penca Harapan.

Entok mengaku pernah mengalami fase terburuk dalam hidupnya saat menganggur. Dia merasa kebingungan, tidak tahu apa dan bagaimana yang harus dia kerjakan. Ia mengaku sempat mengalami kesulitas ekonomi, bahkan tak mempunyai sarana transportasi bagi difabel daksa polio ini, menurutnya sungguh menggerus hati. Dia merasa hanya terkungkung di rumah.

“Pengalaman paling buruk sebenarnya adalah pas melamar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Waktu itu saya hampir didiskriminasi karena difabel. Tetapi setelah ngotot dengan petugas pendaftaran, akhirnya berkas-berkas saya diterima, dan diperbolehkan ikut tes. Meski hasilnya saya tidak lolos,” kenang Entok yang sejak beberapa tahun terakhir ini aktif di Komunitas Lakon Ngesot Budaya (KLNB).

Sebagai Lulusan Masih Dimonitor, dan Diberi Peluang Kerja

Lain lagi cerita sejawat Entok yang juga bekerja di Koperasi Penca Harapan. Atina Suprihatin namanya. Setelah lulus sekolah vokasi di BBRSBD Prof. Soeharso, dia yang pernah menjalani pengalaman kerja lapangan di PT. New Armada Magelang kemudian pulang ke rumah.

Perjalanan hidup Atina tidak berbeda dengan Entok Darmanto. Dia yang mengambil vokasi komputer mengalami vakum setahun di rumah. Namun, dia merasa beruntung ada kegiatan yang dijalaninya dengan bekerja membantu kakaknya di percetakan.

Sampai kemudian datanglah petugas BBRSBD Prof, Dr. Soeharso yang menawarinya pekerjaan sebagai tenaga administrasi di Koperasi Penca Harapan. Sejak saat itu Atina aktif di beberapa paguyuban yang didirikan di bawah naungan BBRSBD. Prof. Soeharso. “Namun sekarang tidak lagi, karena kesibukan saya bertambah,”ujar Astrina yang bersama sang suami memiliki usaha binatu atau laundry di rumahnya.

Astantri, perempuan kelahiran 19 Januari 1983 adalah lulusan BBRSBD Prof.Dr. Soeharso dengan kelas keterampilan menjahit. Ilmu yang didapatkannya selama 10 bulan langsung dipraktikkan dengan membuka usaha menerima jahitan di rumahnya, Desa Manang, Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo.

Di sela-sela itu, Astantri masih menyempatkan diri membuka usaha les privat untuk anak-anak SD dan SMP. Usaha itu dijalaninya selama empat tahun, hingga pada 2016 saat dia berkeinginan mencari suasana pengalaman baru dengan melakukan banyak interaksi yang lebih luas, tawaran lowongan pekerjaan dari temannya di Semarang disambutnya.

Lulusan SMP N 2 Grogol Sukoharjo dan SMA N 2 Sukoharjo serta BBRSBD Prof Dr. Soeharso tahun 2012 Sukoharjo ini sejak tahun 2016 hingga sekarang bekerja di Batik Kultur by Dea Valencia di Semarang.

“Kalau pengalaman buruk sebagai difabel sih sebenarnya tidak ada. Tetapi seperti difabel yang lain, kadang-kadang saya merasa minder dan gerak yang terbatas,” pungkas Astantri yang memiliki cita-cita ingin membangun usaha sendiri. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.