Lompat ke isi utama
Diana dengan produknya berlabel "Mlajena" didampingi adik perempuannya yang membantu mobilitasnya saat pergi berpameran.

Meracik Singkong Menjadi Keripik Krispi

Solider.id, Surakarta- Diana menyulap singkong menjadi produk yang banyak digemari konsumennya dan menghasilkan omset jutaan rupiah perbulannhya hanya dengan modal 100 ribu rupiah.

Diana nama populernya, terlahir dengan nama Sugiyem yang merupakan pemberian dari orangtuanya. Diana baru mengenal Self Help Group (SHG) Difa Makmur Sragen, sekira sebulan lalu.

Sebelumnya Diana belum pernah bergabung dengan organisasi difabel. Selama ini kegiatannya dalam bersosialisasi bersama masyarakat dengan menjadi pengunjung tetap perpustakaan desa.

Diana mengakses perpustakaan desa untuk menambah kapasitas pengetahuannya. Dari sanalah, Diana mendapat inspirasi untuk membuat makanan ringan singkong crispy dari membaca buku yang dipinjamnya.

Saat ini omset penjualan yang dia terima rata-rata 1 juta perbulan dengan mengandalkan pemasaran lewat daring dan gethok tular-komunikasi antar teman. Diana mendapat modal usaha pertama kali saat memulai usaha keripik Singkong adalah dengan mengambil uang tabungan sejumlah 100 ribu rupiah.

Tak hanya itu, Diana bercerita bahwa dia telah melakukan advokasi kepada pihak desa tentang aksesibilitas bangunan perpustakaan, yakni ramp/plengsengan. Pihak desa juga telah memberikan perhatian sebagai bentuk dukungan dengan berencana akan membangun salah satu bentuk aksesibilitas tersebut.

Menurut Diana, kalau untuk rak-rak buku sudah akses dengan menyediakan rak yang pendek agar tidak susah saat menjangkaunya. Selain itu, pihak desa telah membuat sebuah video tentang perpustakaan desa sebagai wahana lomba desa mewakili Kabupaten Sragen dan meraih juara pertama.

Diana, lulusan SMP Negeri 1 Tangen Sragen dan terlahir sebagai little people. Perempuan penduduk Desa Mlale Kecamatan Jenar yang ditemui oleh Solider belum lama ini di arena bazaar Torch Relay Asian Paragames 2018. Di halaman Balai Kota Surakarta, dia mengatakan dulunya dia bekerja dengan beternak lele dan kambing.

Diana Ingin Memiliki Mesin untuk Alat Produksi

Selain itu, Diana juga pernah bekerja menjahit di rumah dengan membuat lubang kancing dan mengobras. Perempuan berusia 28 tahun ini memiliki harapan yang besar untuk mengembangkan usahanya, melalui pemasaran yang lebih luas. “Saya juga ingin berteman dengan banyak orang,”ungkapnya.

Diana juga menitipkan dagangan dari usaha yang dirintisnya sejak 17 September 2017 ini ke toko-toko, dengan bantuan sang adik. Sulung dari lima bersaudara ini juga kerap diajak berkontribusi saat desa menyelenggarakan even dengan membuat bazaar. Singkong crispy produksi Diana dengan label Mlajena menjadi salah satu produk unggulan Desa Mlale.

Saat ini Diana juga berusaha mengembangkan usahanya dengan meluaskan produk singkong dan varian baru, yakni membuat Tiwul instan. Jenis makanan yang berbeda, tetapi memiliki bahan baku sama, singkong.

Diana menggunakan metode penjualan lewat media sosial, karena menurutnya lebih efisien, tinggal membungkus lalu mengirim. Selama ini dia tidak sendiri saat berusaha, karena selain adiknya, orangtua juga mendukung penuh.

Menurut Diana, tantangan terbesarnya saat ini adalah produknya termasuk baru dan belum banyak dikenal khalayak. Namun dengan memperluas jaringan organisasi dan pertemanan, dia berharap usahanya akan lebih maju.

“Tanggal 22-23 September nanti kami, difabel yang memiliki usaha perekonomian akan mengadakan pertemuan. Semoga hasilnya menggembirakan,” ungkap Diana.

Diana menambahkan jika cita-citanya saat ini adalah memiliki alat produksi mesin supaya lebih cepat dan efisien karena selama ini dia hanya memproduksi secara manual saja. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.