Lompat ke isi utama
Logo NPC Banjarnegara

Tantangan di Usia NPC Banjarnegara yang Baru Seumur Jagung

Solider.id, Banjarnegara – Ketika ditanya tentang NPC (National Paralympic Committee) Kabupaten Banjarnegara, Untung, mantan ketua sekaligus Dewan Penasehat organisasi ini, lebih memilih menjawab dengan senyuman sambil menyeruput kopi hitamnya yang mengepul. Karena baru berjalan resmi dua tahun, Untung merasa organisasi ini kekurangan penggerak untuk menjadi roda kendaraan organisasinya.

Pria yang bukan asli Banjarnegara ini memang pernah punya pengalaman mengelola NPC di tanah kelahirannya Cilacap. Karena menikah dengan istrinya yang asli Banjarnegara, ia kemudian didapuk menjadi Ketua NPC tahun pertama karena pengalamannya itu.

“Saat saya menerima tawaran menjadi ketua NPC Banjarnegara dulu, beberapa kenalan saya yang juga aktif di NPC tetangga seperti Purbalingga dan Purwokerto sempat berkelakar ‘yakin mau jadi ketua di Banjar? Orang-orangnya susah diatur lho.’ Tapi karena saya punya prinsip harus mencoba dulu maka saya putuskan menerima permintaan tersebut. Apalagi waktu itu, NPC Banjar juga kekurangan penggerak,” ujar bapak beranak dua ini saat ditemui Solider di kediamannya di Karangkobar Banjarnegara.

Menurutnya, dinamika di NPC Banjarnegara terlalu tinggi. Banyak oknum yang ingin menjadi ketua namun irit tenaga ketika diminta bergerak dan menggerakkan. Ia mengalami sendiri permasalahan internal yang membuat kepalanya pusing.

“Saat jadi ketua, apa-apa harus saya yang kerjakan. Pernah ada satu agenda technical meeting di Solo untuk persiapan Pra Pekan Paralympic Provinsi (Peparprof) di Solo. Saya utus sekretaris untuk datang mewakili karena jalan daerah saya sedang diperbaiki sehingga mobilitas saya terhambat. Tapi, akhirnya harus saya juga yang berangkat karena sekretaris saya tidak percaya diri datang sendirian,” terang pengguna SIM D pertama di Banjarnegara ini.

Salah satu tantangan utama dari NPC Banjarnegara, tambah Untung, adalah sangat kurangnya difabel yang berkomitmen untuk masuk ke dalam pengurus NPC. Bahkan, saat ia harus mangkat dari kepengurusan dan pindah menjadi dewan penasihat, struktur kepengurusan sebagian besar diisi oleh difabel netra.

“Hampir semua diisi difabel netra karena sangat jarangnya difabel lain yang mau jadi pengurus. Padahal, harus ada keterlibatan teman-teman difabel lain. Ada divisi yang sebaiknya bukan difabel netra, seperti divisi klasifikasi yang membutuhkan indera penglihatan untuk mengobservasi bakat atlet difabel,” kata Untung.

Ia pun mengagumi kekompakan difabel netra Banjarnegara yang mau bergotong royong bersama-sama mengisi struktur yang kosong, serta bersyukur karena mereka masih mau menggerakkan NPC.

Dinamika yang terjadi di NPC juga berimbas pada kebijakan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga yang irit memberikan bonus kepada atlet Banjarnegara yang habis bertanding.

“Jika kabupaten lain bisa memberikan bonus dua setengah sampai tiga juta sekali dapat emas, di Banjar paling dapat satu setengah juta. Hal itu yang membuat banyak atlet Banjarnegara menyeberang ke kabupaten lain untuk mengincar bonus yang lebih besar. Setidaknya ada empat atlet Banjar peraih emas di Pra Peparprof yang menyeberang ke Klaten, Cilacap dan Wonogiri untuk mencari bonus yang lebih tinggi,” cerita Untung.

Ia mengaku hal tersebut wajar dalam dunia olahraga difabel. Banyak Kabupaten yang terang-terangan meminta atlet berprestasi dari Kabupaten lain untuk bergabung demi bisa mengangkat peringkat Kabupaten itu.

“Saya sering diminta menyeberang ke Purwokerto dengan iming-iming bonus yang lebih tinggi. Tapi, kemarin-kemarin tidak bisa karena saya masih jadi ketua NPC. Sekarang kan sudah tidak masuk, jadi sudah bisa membela kabupaten lain,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Selain masalah bonus yang kecil, persoalan birokrasi pencairan dana alokasi turnamen juga sering jauh panggang dari api. Penyebabnya, menurutnya, pengumuman pertandingan yang biasanya dilakukan satu bulan sebelum pelaksanaan turnamen. NPC kemudian kesulitan untuk mengirim proposal bantuan dana ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga karena waktunya kurang dari satu bulan.

“Akhirnya saya yang harus menelepon kenalan satu-satu untuk meminta dana. Saya telpon anggota DPRD, saya telpon Kepala Dinas Sosial, saya telepon beberapa pengusaha agar mau nyumbang untuk memberangkatkan atlet ke Solo waktu itu. Meskipun akhirnya hanya untuk berangkat dan uang saku atlet saja. Seragampun akhirnya tim Banjarnegara tidak punya,” cerita Untung.

Soal fasilitas latihan juga ia sebutkan. Banjarnegara sebagai kota kecil tidak banyak memiliki fasilitas latihan yang aksesibel bagi difabel. Bagi atlet nondifabel saja fasilitas belum terlalu banyak. Alhasil, ketika ada turnamen, para atlet difabel jarang yang melakukan program latihan.

Kayak Pra Peparprof terakhir itu sama sekali enggak latihan itu. Langsung berangkat saja. Itu pun ada yang mendapat emas. Bayangin kalau mau latihan dan ada fasilitas serta pendampingan. Atlet yang potensial dari Banjarnegara bisa terangkat,” ungkapnya.  

Samad, ketua NPC Banjarnegara saat ini, mengakui apa yang disebutkan oleh Untung tentang dinamika internal NPC Banjarnegara adalah hal yang benar. Namun, ia memilih lebih optimis.

“Dinamika internalnya besar sekali. Ada banyak ego. Mas Untung sebenarnya sosok yang paling pas menahkodai NPC karena beliau punya kemampuan, kharisma dan pengalaman. Namun, sayangnya ada beberapa pihak yang menginginkan beliau mundur karena dirasa terlalu jauh rumahnya dan sering terhambat mobilitasnya. Jadi, saya yang tadinya jadi wakil sekarang naik ketua,” ujar Samad.  

Samad juga menegaskan bahwa tantangan yang ada di NPC Banjarnegara berasal dari usia NPC ini yang baru seumur jagung. Menurutnya, dengan usia yang baru saja dua tahun, wajar jika ada banyak masalah di sana-sini.

“Karena baru, maka komunikasi dengan pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga menjadi kurang maksimal. Kami hanya beberapa kali audiensi dengan dinas juga dengan DPRD terutama saat kemarin mau berangkat ke Pra Peparprof di Solo,” tegasnya melalui sambungan telepon.

Komunikasi yang kurang ini berimbas pada pendanaan NPC yang akhirnya tidak terealisasi. Ia dan pengurus organisasi NPC mengaku masih belajar dalam membawa organisasi olahraga difabel ini. Ketika ingin mengajukan dana sebagai penunjang untuk pengiriman atlet pada ajang Peparprof tahun ini, NPC mengaku telah tahu bahwa batas pengajuan anggara harus sebelum memasuki bulan Agustus karena bulan Juli adalah batas terakhir masa perubahan anggaran.

“Kami baru tahu itu. Sudah telat tapi tidak apa-apa. Untuk Peparprof ini, kami akan gunakan strategi tahun lalu dengan meminta bantuan dana secara perseorangan kepada beberapa pejabat yang berkepentingan dengan isu olahraga,” tandas Samad.

Meski, dana masih menjadi hal yang belum jelas untuk keberangkatan kontingen Banjarnegara ke Peparprof di Solo, Samad mengaku tetap semangat dan antusias. Ada dua belas atlet yang akan menjadi representasi Banjarnegara di Solo nanti.

“Teman-teman atlet sangat semangat dan siap patungan jika tidak ada dana. Bagi mereka olahraga adalah ajang aktualisasi diri,” terang Samad tegas.

Meskipun tantangan NPC Banjarnegara tumbuh subur bak cawan di musim penghujan, semangat Untung maupun Samad tak surut. Selama masih ada yang bersemangat dengan olahraga difabel di Banjarnegara dan ada rekan penggerak lain yang mau bahu membahu, mereka akan tetap bergerak.

“Pelan tidak masalah, asal tidak diam,” tutupnya mantap. [Yuhda]

The subscriber's email address.