Lompat ke isi utama
ilustrasi kesppro bagi remaja

Edukasi bagi Orangtua: Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja Difabel Bukan Hal Tabu

Description: Hasil gambar untuk pendidikan kesehatan reproduksi bukan hal tabuSolider.id.Yogyakarta. Menjadi orangtua, banyak hal yang harus dilakukan. Memberikan informasi dengan benar, tegas, jelas, salah satunya. Informasi menjadi bagian penting yang harus diterima anak, bahkan merupakan hak setiap orang. Pemenuhan atas informasi yang dibutuhkan anak menjadi bagian tanggung jawab atau kewajiban orangtua.

Terlebih ketika orangtua memiliki anak difabel. Bersikap bijak memberikan informasi dengan benar, tepat, jelas harus dilakukan. Ketika berbicara topik yang terkait masalah kesehatan reproduksi (kespro), pastikan bahwa informasi tersebut adalah wajib diberikan.

“Informasi terkait kespro bukan hal yang tabu atau memalukan. Melainkan hal wajib yang harus disampaikan dengan lugas.” Disampaikan oleh dr. Nurcholis, dokter jejaring UNALA pada sebuah diksusi terfokus atau FGD yang terselenggara beberapa waktu lalu di Indies Hotel, Prawirotaman Yogyakarta.

Menginformasikan kespro kepada remaja difabel, pastikan tidak akan membuat para remaja difabel merasa malu, bagian dari himbauannya. Orangtua dapat melakukannya dengan lebih dekat dan pribadi. Mengajarkan kespro dengan bijak harus dilakukan, baik saat anak bertanya maupun tidak bertanya. Jangan sampai karena malu dan orangtua memandang kespro adalah tabu, berakibat remaja difabel mencari tahu sendiri.

Karena dengan mencari tahu sendiri tanpa pendampingan, atau bertanya kepada teman, dikhawatirkan informasinya tidak tepat, atau bahkan menyesatkan. Dengan demikian, akan dampaknya buruk pada remaja difabel.

Tidak bisa dipungkiri, memasuki masa remaja, merupakan tahapan selalu ingin tahu terhadap banyak hal. Hal ini terjadi pada setiap remaja, tanpa kecuali. Keinginan tahu tentang kespro, adalah hal wajar dan harus disikapi orangtua dengan wajar pula.

Dialog dua arah

Menyampaikan informasi secara langsung lebih baik daripada menyampaikan dengan bertele-tele. Agar remaja tidak sulit menangkap penjelasan orang tua, minimalisir cara-cara ceramah. Orangtua sebaiknya berpikir terbuka dan tidak menghakimi. Selanjutnya menjaga perasaan dan pikiran anak remaja kita.

Keamanan berhubungan intim juga harus disampaikan. Bukan berarti remaja difabel kita tidak perlu mengetahuinya. Selanjutnya orangtua, harus menginformasikan dengan bijaksana bahwa berhubungan intim hanya dan harus dilakukan setelah menikah.

Bahkan, menjelaskan berbagai konsekuensi berhubungan intim tanpa kondom, dan berbagai bentuk kontrasepsi, berikut penggunaannya juga menjadi bagian yang harus diajarkan orangtua kepada anak remaja mereka.

Sebuah catatan penting, bahwa informasi terkait kespro harus dibicarakan langsung pada remaja difabel, jangan meminta orang lain untuk menyampaikannya.

Sikap selanjutnya sebagai orangtua, sebaiknya memberikan kesempatan kepada remaja difabel kita mengekspresikan pendapat mereka. Menjalin dialog atau diskusi dua arah, bukan ceramah akan menghasilkan pemahaman yang baik.

Sekali lagi ditegaskan oleh dr. Nurcholis, “Betapa informasi terkait kespro adalah bukan hal tabu, mari bersama belajar menjadi orangtua bijak bagi para remaja kita,” himbaunya.

Adapun seorang dokter lain menyampaikan, “Remaja yang dibekali dengan pengetahuan akan kesehatan reproduksi yang komprehensif dan menerapkan pola hidup sehat, merupakan investasi penting di dalam suatu masyarakat,” dr. Anastasia Endar, dokter jejaring UNALA. [harta nining wijaya]

The subscriber's email address.