Lompat ke isi utama
Buku-Buku terkait difabilitas

Melawan Kuasa Pencacatan

Oleh Ishak Salim*

 

Solider.id- Karena nyaris semua-kita-telah tunduk pada kuasa pencacatan, maka kecacatan adalah sebuah kenormalan, masih adakah kuasa untuk melawan?

Sebagian kawan gelisah dan mengomel. Pelaksanaan Asian Para Games 2018 menggunakan motto The inspiring spirit and the energy of Asia dan iklannya pun bertagar #parainspirasi. Itu sama dengan mengobjekkan difabel sebagai “barang inspirasi dan itu cara berpikir-berideologi ableist,” kata seorang kawan, dosen Sosiologi di Malang.

Di salah satu Sekolah Menengah Atas di Makassar, ada guru bersikap merendahkan siswinya yang baru masuk di kelas satu. Ia gadis yang mengalami kebutaan beberapa tahun yang lalu. Guru itu bilang, “kamu salah pilih sekolah, tempatmu harusnya di Sekolah Luar Biasa!”

Kali lain, seorang pengojek online menolak membonceng calon penumpangnya setelah ia tahu kalu penumpangnya orang buta dan bertongkat putih. “Takut ketiban sial,” katanya suatu kali, atau takut kalau penumpangnya jatuh. Di waktu lain, orang-orang mulai menanyai alasan penolakannya.

Itu hanya tiga cerita yang bagai buih di lautan. Ada tak terhingga buih serupa di lautan dan membentuk samudera pencacatan sejauh kita mampu mengarunginya. Kemanapun kita melangkah, kita tak mungkin lepas dari peristiwa-peristiwa seperti itu.

Dari sekian banyak orang yang menyadari perilaku pencacatan itu, sebagian saja yang menggerundel atau memberontak. Sebagian lainnya menikmati saja normalnya perilaku pencacatan itu.

Menggerundel tentu tak akan menyelesaikan apapun. Pun jika ingin memberontak dan membangun pasukan, jika tidak gagal sebelum pasukan siap, setidaknya pertarungannya akan panjang dan pertempuran demi pertempuran dipenuhi ketidakpastian siapa yang akan memenangkannya.

Musuh, jika bisa dibilang pemikiran dan perilaku para pencacat ini sebagai musuh, merupakan bagian dari teknologi kekuasaan yang sangat mapan dan tangguh. Setiap waktu, energinya memproduksi pemikiran, istilah, perilaku, gaya hidup hobi, program dan lain sebagainya dengan berbasis kecacatan dan pencacatan yang terus mengalir.

Legitimasi untuk mencacatkan bagi para aparatus kuasa ini sungguh ajeg atau kokoh. Setiap orang menggenggam stempel di kepalanya atau di kantong bajunya. Stempel itu dengan mudah diayunkan di jidat siapapun dan membekas dan akan bergerak ke mana saja mengikuti langkah para korban pencacatan.

Ketahuilah, diskursus pencacatan ini sudah berlangsung puluhan atau ratusan tahun. Pemikiran bahwa kita cacat, kamu disabilitas, dia difabel itu sudah menubuh di dalam diri setiap orang di Republik ini. Apapun kegiatan yang dilakukan, apapun aktifitas yang dibuat dan di manapun hal itu dilakukan bahkan se-internasional sekalipun skala kegiatan, maka ungkapan stereotipe, segregatif, diskriminatif terhadap orang cacat, orang dengan disabilitas, difabel, orang atau anak berkebutuhan khusus akan selalu ada.

Bahkan ketika kita turut meramaikan kegiatan olahraga para kaum cacat ini pun—atau dengan istilah lain sehalus kain sutera sekalipu—maka hal itu akan ditafsirkan sebagai bagian dari praktik politik segregasi, pemisahan dan penegasan bahwa orang cacat, orang dengan disabilitas, difabel, polowijan, punakawan atau lain-lain tetaplah kita hanya akan berada di dalam alam pengetahuan pencacatan yang sudah mapan itu. Kita hanya bisa mengganti istilah, tanpa bisa mengubah keadaan secara sungguh-sungguh berarti.

Bahkan jika kita ganti seluruh aturan sekalipun, atau membubarkan negara sekalipun, aparatus pencacatan itu akan tetap ada. Kecacatan itu bersemayam dalam pikiran dan mengalir dalam pembuluh darah kita semua.

Begitu negara baru terbentuk dan lalu pemimpin dan kroni mereka mulai melakukan problematisasi soal-soal kemasyarakatan, maka program-program apapun akan kembali berwatak pencacatan. Hanya akan terjadi pengulangan demi pengulangan. Pencacatan demi pencacatan.

Cara bepikir seperti ini ada di kepala, ada di rumah kita, ada di tetangga kita, ada di masjid, ada di gereja dan ada di seluruh tempat, bahkan di tempat paling gelap dan paling tersembunyi sekalipun—di tubuh-tubuh diri yang dicap ini. Kita yang cacat, kamu yang disabilitas, dia yang difabel pada akhirnya menerimanya sebagai sebuah kenormalan, sebagai sebuah kebenaran, lalu hidup bersama label dan cap-cap itu menempel di sejumlah bagian badannya.

Mungkin kita baru bisa merasakan tidak ada pemisahan, justru ketika kita memutuskan berhenti berperang atas nama disabilitas, difabilitas, ataupun kecacatan.

Menghentikan perang artinya kita berhenti berhimpun, berhenti membuat ataupun meramaikan kegiatan-kegiatan berbasis kecacatan, berbasis disabilitas, berbasis difabilitas. Kita juga berhenti mengusulkan perlunya sensus disabilitas, KTP disabilitas, diskon disabilitas, bus disabilitas, jurnal disabilitas, unit disabilitas, Asian Para Games, bahkan konsultan atau tenaga ahli disabilitas serta perlu-perlu yang lain yang terkait soal kecacatan, disabilitas ataupun difabilitas.

Ketika kita tidak lagi mengikut atau membuat acara-acara seperti itu, dan di saat bersamaan kita memasuki semua pikiran dan perilaku para pelaku pencacat ini dengan aktif di mana saja, kegiatan apa saja, dan kita berhenti bicara saya wakil disabilitas, berhenti bicara nothing about us without us, dan terus begitu sampai akhirnya semua orang tidak lagi berpikir soal kecacatan, tidak lagi berpikir soal sekolah luar biasa, tidak lagi berpikir apapun soal disabilitas dan di kepala kita, di pikiran kita tidak ada lagi saya yang difabel, tidak ada lagi dia yang cacat, atau kamu yang disabilitas, maka yang tinggal hanya kita manusia.

Mungkin dengan cara itu, mungkin ya, kita akan bisa membuat mesin produksi kecacatan dan praktik pencacatan atau apapun istilahnya berhenti berputar, berhenti memproduksi perbedaan-perbedaan, lalu akhirnya mesin atau teknologi kuasa pencacatan itu mangkrak atau mati untuk selamanya.

Jika kita semua berhasil menolak seluruh proses pengistilahan, pembedaan dan pengabaian yang berbasis pengetahuan pencacatan. Maka pada akhirnya kita akan membutuhkan mesin baru, yakni mesin yang memproduksi pengetahuan baru yang lebih ber-kemanusiaan yang adil dan beradab.

Jika benar demikian, maka di saat itulah kita bisa benar-benar menerima kalimat bahwa The only disability in life is a bad attitude!"[]

 

 

*Penulis adalah Kepala Suku Pergerakan Difabel untuk Kesetaraan (Perdik) Makassar.

The subscriber's email address.