Lompat ke isi utama
suasana SJYC

Memperkenalkan Inklusi Melalui Social Justice Youth Camp

Solider.id Bulukumba -Beberapa waktu yang lalu, Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK Sul-Sel) menyelenggarakan Social Justice Youth Camp (SJYC) yang pesertanya merupakan 25 pelajar SMA/sederajat dari delapan kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. SJYC merupakan model pembelajaran yang dikembangkan oleh Indonesia Social Justice Network (ISJN) yang merupakan komunitas yang didirikan oleh para alumni penerima internasional Fellowship Program dari Ford Foundation. PerDIK merupakan mitra dari ISJN dalam menyelenggarakan SJYC di Sulawesi Selatan.

SJYC Sulawesi Selatan dirancang sebagai media untuk memperkenalkan isu ketidak adilan sosial yang terjadi di masyarakat. Salah satu fokus yang ditekankan oleh PerDIK saat menyelenggarakan kegiatan ini ialah bagaimana memperkenalkan dunia difabilitas pada para peserta. Mereka pun belajar langsung beberapa ketidak adilan yang dialami oleh difabel. Karena lokasi kegiatan ini di kabupaten Bulukumba (sebuah kabupaten yang terletak di ujung selatan pulau Sulawesi), maka mereka belajar isu ini pada salah satu organisasi yang memperjuangkan kesetaraan bagi difabel di kabupaten ini yakni PPDI (Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia) cabang Bulukumba.

Organisasi ini dipilih PerDIK karena rekam jejak PPDI Bulukumba dalam mengadvokasi terpenuhinya pemenuhan hak bagi difabel sangat terasa. PPDI juga terlihat Aktif dalam mengkomunikasikan isu difabel ke pemerintah daerah kabupaten Bulukumba.

Selain itu, para peserta juga dapat langsung merasakan proses pembelajaran yang inklusi, karena di antara 25 peserta SJYC, terdapat 4 peserta difabel yakni: Nabila May Sweetha (Totaly Blind), Firdaus (Lowvision), Sandi (Tuli) dan Selviana Rusli (pengguna kursi roda). Dalam proses pembelajaran, para fasilitator—yang berasal dari ISJN dan PerDIK—memperkenalkan teknik-tekin pembelajaran yang dapat memfasilitasi peserta difabel dalam sebuah kelas. misalnya, apabila fasilitator menampilkan sebuah slide yang berupa gambar/grafik, maka para peserta nondifabel akan mendeskripsikan gambar/grafik tersebut pada peserta buta dan lowvision.

Beberapa Ketidak Adilan yang Dialami Difabel

Para peserta SJYC juga menjadi saksi beberapa hambatan yang menjadi penghalang bagi difabel dalam bermobilitas dalam kesehariannya. Hal tersebut mereka saksikan pada saat rombongan SJYC melakukan ramahtamah dengan pemerintah daerah kabupaten Bulukumba yang dalam hal ini diwakili oleh wakil Bupati Bulukumba, Tommy Satria Yulianto.

Lokasi pertemuan yang berada di lantai 2 sangat tidak aksesibel bagi pengguna kursi roda, karena tidak ada jalur khusus yang dapat dilalui untuk menaiki gedung. Para peserta pun menyaksikan bagaimana Selvi harus diangkat bersama kursi rodanya oleh beberapa orang pada saat naik dan menuruni gedung kantor wakil bupati. Hal yang sama juga dirasakan oleh peserta yang memiliki hambatan dalam melihat. Karena tidak ada Guiding Blok, maka mereka perlu dibimbing untuk mengakses gedung.

Saat dikonfirmasi perihal tidak aksesnya kantor pemerintahan terhadap difabel, wakil bupati Bulukumba menyampaikan bahwa, pemerintah Bulukumba telah berusaha sensitif serta memperhatikan unsur kebutuhan para difabel pada bangunan sarana publik yang baru, seperti rumah sakit umum Daerah Bulukumba (Rumah Sakit Sultan Daeng Raja)  serta perkantoran-perkantoran yang baru. Namun untuk Kantor yang ditempati saat ini beliau mengaku masih belum memenuhi hal tersebut karena bangunan tersebut adalah peninggalan bangunan lama yang terakhir direnovasi sekitar tahun 2005, dimana issu aksesibilitas bagi difabel masih belum digaungkan.

Dalam kegiatan ini, ada satu sesi empati yang di desain oleh fasilitator. Sesi ini mengharuskan para peserta nondifabel untuk berpura-pura atau berperan menjadi difabel. Permainan ini selain bertujuan membangun empati di kalangan peserta nondifabel,  juga dimaksudkan untuk menguji aksesibilitas bangunan Masjid Islamic Center Bulukumba terhadap difabel.

Sesi inipun dimainkan di masjid terbesar di kabupaten Bulukumba, Masjid Islamic Center atau Masjid Datuk Ditiro Bulukumba. tiba di Masjid ini, para peserta diminta mengenakan identitas difabel masing-masing. Ada yang menggunakan tongkat dan matanya ditutup dengan menggunakan Blindful, ada yang menggunakan kursi roda dan ada yang  telinganya disumbat dengan menggunakan kapas hingga ia tak bisa mendengar.

Melalui kegiatan hari itu, akhirnya diketahui bahwa bangunan Masjid Datuk Ditiro sangat jauh dari kata ramah bagi difabel. Ini tentunya menyulitkan difabel untuk beribadah selayaknya masyarakat pada umumnya.

Tidak adanya ramp (bidang miring bagi pengguna kursi roda), guiding Block bagi difabel penglihatan, serta penanda bagi Tuli menjadi penyebab kenapa bangunan tersebut tidak bisa diakses oleh difabel. Akibatnya, bagi pengguna kursi roda, agar dapat memasuki bangunan Masjid, mereka butuh bantuan orang lain untuk mengangkat kursi rodanya untuk menaiki tangga dan memasuki masjid. Begitu pula difabel penglihatan, meski menggunakan tongkat, mereka perlu bantuan orang lain untuk mengakses tempat wudhu, toilet hingga menaiki tangga demi tangga masjid menuju lokasi peribadatan di lantai dua.

Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia Cabang Bulukumba, Suherman Ria yang turut hadir di tempat itu menghimbau kepada pemerintah Bulukumba agar kedepannya lebih memperhatikan difabel dalam mendesain bangunan fasilitas Umum di Bulukumba. Ia juga berharap agar Masjid Datuk Ditiro bisa diperhatikan keaksesibilitasannya, karena pada saat kegiatan ini berlangsung, Masjid tersebut sedang direnovasi.

Setelah bermain peran sebagai difabel, para pesertapun mulai dapat merasakan betapa banyaknya kesulitan yang dialami oleh difabel. Merekapun mengungkapkan beberapa hal, salah satunya disampaikan oleh Sahlan, salah seorang peserta yang berasal dari SMA Negeri 1 Takalar, yang sebelumnya berperan sebagai seorang Tuli.

Sahlan mengungkapkan bahwa dunia  tanpa suara ternyata adalah sebuah kehampaan. Menurutnya hambatan orang-orang tuli saat ini lebih disebabkan oleh alat bantu dengar yang belum dapat mengakomodir kebutuhan tuli dengan maksimal. Sahlan melanjutkan, bagaimana susahnya saat ingin berbicara dengan hanya mengandalkan bahasa isyarat dan  bahasa tubuh semata.

Peserta lain yang berperan sebagai buta yakni Lilis Anriani (siswa SMK 7 Makassar), menurutnya betapa takutnya saat ia  tidak dapat melihat. Khususnya saat tidak ada seseorang pun yang ia kenal di sisinya. Demikian juga saat menaiki tangga.  Beberapa ketakutan sempat menghantuinya. Ia merasa tidak akan dapat berbuat apa-apa jika ia menjadi seorang buta dan tak ada seorang pun disisinya.

Selain berkunjung ke beberapa tempat dan menyaksikan betapa tidak aksesnya beberapa fasilitas publik bagi masyarakat difabel, peserta juga diperkenalkan mengenai ketidak adilan yang dialami oleh difabel secara umum.

Menurut Ishak Salim (ketua badan pengurus PerDIK), ada empat  ketidak adilan yang dialami oleh para difabel.  Ketidakadilan pertama ialah Pelabelan atau labeling. Ini  adalah pemberian label atau pemberian cap kepada para difabel. Misalnya seperti istilah tunanetra. Istilah ini diambil dari bahasa sansekerta yang berarti rugi mata. Istilah ini digunakan karena adanya budaya penghalusan bahasa di Indonesia.  Mengapa harus dihaluskan? Ya  karena dalam budaya kita, para difabel adalah  kaum yang harus dikasihani. Mereka dipandang sebagai kaum yang memiliki kekurangan, mereka masih dipandang sebagai kaum yang lemah. Hal inilah yang menyebabkan prasangka kita kepada mereka sebagai kaum yang harus  dikasihani, yang harus terus mendapatkan bantuan.

Bentuk ketidakadilan  kedua ialah stereotifikasi. Ini adalah pemberian cap yang berkonotasi negatif pada label-label yang telah  melekat. Bentuk-bentuk cap miring ini, sangat mudah kita temukan di masyarakat. Misalnya dengan adanya kepercayaan supir angkot bahwa, ketika dia  mengambil penumpang yang buta, atau picco (buta sebelah) maka ia akan tertimpa kesialan, dan rejekinya akan berkurang.

Aneka istilah yang telah disebutkan sebelumnya seperti penyandang disabilitas, difabel, cacat, buta, dan tuli, Semua itu adalah label. Ketika label ini diberikan cap miring, maka terjadilah yang disebut steriotifikasi. Cacat itu rusak, cacat itu penyakit, bahkan cacat itu kutukan.

Bentuk ketidakadilan berikutnya adalah segregasi. Pemisahan dari sistem di masyarakat secara umum. Hal ini terjadi karena, para pengambil kebijakan, dan pelaksananya di lapangan, Memiliki pemikiran dan cara pandang yang sempit. Contohnya para pendesain bangunan fasilitas publik misalnya. Di dalam benaknya orang itu berjalan dengan dua  kaki, sehingga dengan model bertangga-tangga tidak akan menjadi masalah. Ia tidak memikirkan, atau lupa memikirkan bahwa, ada orang yang berjalan dengan roda, ada orang yang berjalan dengan tongkat.

Hal-hal inilah yang mengakibatkan adanya segregasi. Dengan alasan  untuk memudahkan para difabel, maka dibuatlah berbagai hal-hal yang bersifat khusus. Misalnya sekolah. Mungkin ketika kita masih kecil, kita masih dapat bermain dengan teman-teman kita yang difabel dan nondifabel, namun saat bersekolah kita pasti akan dipisah. Saat itulah kita baru sadar bahwa, kita berbeda dengannya.  Para difabel pun demikian. Mereka baru merasa berbeda ketika dipisahkan dengan temannya yang non difabel. Ketika bersekolah mereka di SLB. Faktanya, bagi teman-teman difabel, pemberian cap luar biasa ini berarti pemisahan dari masyarakat secara umum. Contohnya adalah Sekolah luar biasa, saat kuliahpun mereka harus mengambil pendidikan luar biasa, bahkan ada anegdot, di akhirat juga akan ada surga dan neraka luar  biasa baagi para difabel.

Sebenarnya segregasi ini tidak perlu terjadi. Dengan sedikit  modifikasi dan penyesuaian dengan keragaman kemampuan difabel, Para difabel pun dapat hidup bersama masyarakat secara umum.

Bentuk ketidak adilan yang terakhir adalah diskriminasi. Perbedaan  perlakuan, termasuk dalam pemenuhan hak-hak dasar bagi difabel, Contohnya saat Gusdur atau Abdul rahman Wahid ingin kembali mencalonkan dirinya sebagai calon presiden. Pihak KPU tidak meluluskannya. Hal ini karena menurut KPU ia tidak memenuhi syarat sebagai capres yang harus mampu secara jasmani dan rohani. Dari mana dasar KPU menarik kesimpulan demikian? Ini berasal dari tim Dokter dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Dengan  parameter medis inilah Gusdur dianggap tidak mampu secara jasmani dan rohani. Padahal sebenarnya, ada banyak parameter yang dapat digunakan untuk  menilai apakah seseorang tersebut mampu atau tidak mampu secara jasmani dan rohani.

Praktik diskriminasi berikutnya adalah sedikitnya pilihan yang tersedia bagi para difabel  dalam menentukan kehidupan mereka. Apa yang terlintas dalam pikiran masyarakat ketika mendengar kata tunanetra? Biasanya yang  terlintas adalah pemijat. Ini bukan berarti kita memberikan cap miring pada profesi ini. Ini hanya sebagai contoh, tentang bagaimana sedikitnya pilihan yang tersedia bagi para difabel. Dalam proses rehabilitasi bagi ‘tunanetra’ pemerintah hanya memberikan pilihan keterampilan pijat bagi mereka. Tak heran apabila  selepas mereka melalui proses rehabilitasi, dan kembali ke masyarakat. Para  manusia buta ini, akan membuka usaha panti pijat tunanetra. Jadi bukan hal yang baru, apabila ada  seseorang yang tiba-tiba mengalami kebutaan, maka akan dikatakan kepadanya kamu hanya akan jadi tukang pijat saja.

Padahal kenyataannya tidak demikian. Banyak dari para difabel yang menekuni profesi lain. Rasa-rasanya, sudah banyak contoh yang bisa kita lihat di Indonesia.

Usai belajar dan merasakan langsung ketidak adilan yang dihadapi oleh para difabel, para peserta pun mulai paham bahwa difabel bukanlah orang yang harus dikasihani, melainkan perlu diberi kesempatan dan ruang yang ramah dan dapat mendukung aktifitasnya dalam melakukan mobilitas sehari-hari. Para peserta selanjutnya membuat sebuah forum yang nantinya akan mengkampanyekan tentang isu ketidak adilan sosial di daerahnya masing-masing.

Mereka berjanji, akan menjadi perwakilan dari ISJN dalam menyadarkan masyarakat tentang pentingnya keadilan sosial diberbagai bidang, dan akan membantu PerDIK dalam mengadvokasikan kehidupan inklusi, khususnya dikalangan anak muda [Ramadhan Sharro]

The subscriber's email address.