Lompat ke isi utama
Para orang tua sedang mendengarkan materi tentang anak gifted

Mengenalkan Anak Gifted kepada Para Orangtua

Solider.id, Yogyakarta- Sebagian banyak orang belum mengetahui tentang apa itu anak gifted. Apa yang harus dilakukan oleh orangtua ketika mulai mengenali anaknya gifted. Namun, ada juga fenomena lain seperti, beberapa orangtua yang justru ingin sekali anaknya gifted. Hingga rela melakukan berbagai tes untuk mendapatkan hasil anaknya Gifted. Ada lagi yang ironis, beberapa orangtua merasa yakin bahwa anaknya adalah gifted tanpa tes

Kondisi di atas menimbulkan keresahan tersendiri bagi komunitas orangtua dengan anak yang memiliki kemampuan istimewa yang tergabung dalam Parents Support Group for Gifted Children (PSGGC) Jogja. Sehingga pada Minggu (16/9), bekerja sama dengan Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus (PSIBK) Universitas Sanata Dharma, diskusi atau ngobrol santai untuk menjawab berbagai pertanyaan yang berkelindan di benak para orangtua diinisiasi oleh PSGGC Jogja.

PSGGC Jogja menghadirkan Endang Widyorini seorang Psikolog Ahli Anak Gifted dalam diskusi yang hanya dibatasi 50 peserta. Diskusi memberikan pemahaman kepada para orangtua, praktisi, terapis, tentang gifted. Apakah Anakku Gifted? menjadi tema diskusi yang dilaksanakan di Ruang Xaverius, Gedung PGSD, Lantai 3, Kampus I Universitas Sanata Dharma, Jalan Afandi, Mrican, Yogyakarta.

Diskusi selain menjawab beberapa pertanyaan seperti apakah anakku gifted, juga mengupas apa yang harus dilakukan bila mencurigai si kecil gifted? Kapan waktu yang pas untuk melakukan tes kecerdasan seseorang atau Intelligence Quotient (IQ) bagi anak gifted, serta bagaimana melakukan intervensi pada anak gifted” dikupas dalam diskusi yang dilangsungkan sekitar tiga jam itu.

Mengapa jika gifted?

“Memang kenapa kalau anak kita gifted? Endak keren-keren amat kog. Bukan tanpa hambatan ketika anak kita gifted!” Patricia Lestari Taslim, Founder PSGGC Jogja membingkai pertanyaan kritis sekaligus pernyataan.

Sebuah fakta, bahwa beberapa anak gifted mengalami hambatan dalam dunia pendidikan juga berinteraksi sosial. Gifted yang menyertai tidak jarang menjadi bahan buli dan penolakan dari lingkungan sekolah.

Terdapat tiga jenis gifted sebagaimana disampaikan pembicara dalam diskusi. Tiga jenis tersebut ialah: disinkroni, harmoni, dan learner. Ketiganya melahirkan sikap yang berbeda.

Mengetahui dengan benar apa yang harus dilakukan ketika mendapati anaknya gifted, menjadi bagian terpenting, menurut Patricia. Dengan demikian orangtua dapat bersikap dengan benar, lanjutnya. “Jangan hanya bangga-bangga thok. Apa yang harus dilakukan orangtua jika sudah mengetahui anaknya gifted? So, what gitu loh?” Ungkapnya.

Bukan tanpa alasan ketika Patricia melontarkan berbagai pertanyaan. Pada setiap kali PSGGC Jogja menggelar kegiatan, dia mendapati banyak sekali orangtua yang sangat antusias, kepingin, berharap, bermimpi, mengira, curiga bahwa anaknya gifted. Orangtua yang berupaya bagaimana caranya untuk dapat mengenali dan mendeteksi anaknya sebagai anak gifted. Namun, Patricia tidak dapat memahami sebagian besar dari orangtua itu tanpa tesdan merasa yakin bahwa anaknya gifted. “Hal itu biasa terjadi pada orang yang baru tahu istilah gifted,” lanjutnya.

Terhadap orangtua yang demikian, Patricia mereferensikan agar orangtua membaca buku-buku yang mengupas tentang Gifted. Dua buku yang dapat menjadi referensi itu ialah: Menyiangi Pelangi yang dikeluarkan oleh PSGGC Jogja. Sebuah buku yang berisi pengalaman 12 orangtua dengan 12 karakter anak gifted yang berbeda. Dan  Anakku Cerdas Istimewa yang ditulis Julia Maria Van Tiel orangtua dengan anak gifted dan Endang Widyorini psikolog ahli anak gifted sekaligus narasumber diskusi. Kedua buku tersebut dapat diperoleh di PSGGC Jogja atau toko-toko buku. [Harta Nining Wijaya]

The subscriber's email address.