Lompat ke isi utama
Sigit berfoto di halaman rumahnya

Pemuda yang Tekun Menganyam

Solider.id, Gunungkidul- Siang yang terik di sebuah rumah sederhana di Dusun Mengger Rt 07 Rw 02, Desa Nglipar (12/09). Di bawah rindang pohon mangga yang mulai berbunga, sebuah motor trail yang dibawa seorang pemuda, berhenti. Seonggok pakan ternak masih terikat di bagian belakang motor, sementara pemuda itu turun meninggalkan motor dengan melenggang tenang.

Tak ada yang berbeda dari caranya berjalan. Pun tak ada yang berbeda dari penampilan yang ia perlihatkan. Dengan perawakan sedang dan badannya yang kokoh menampakan ia sering menghabiskan waktu bekerja di ladang.

Dialah Sigit Prabowo, pemuda kelahiran Gunungkidul, 15 Juli 1998 yang merupakan sulung dari dua bersaudara pasangan Siti Fatimah (43 tahun) dan Jumari (48 tahun). Wajahnya nampak ceria dengan penampilan celelekan ( red: tidak pernah serius) karena ia suka bercanda meski ia mengaku tergolong orang pendiam.

Ia baru selesai membantu sang Ibu mengambil pakan. Ia tak keberatan berbagi kisahnya tentang sepotong kejadian yang mengubah cita-cita dan jalan hidupnya kemudian.

Pada Agustus 2014, saat Sigit baru saja duduk di bangku kelas dua SMK 1 Nglipar. Kisahnya bermula saat pulang dari mengantar teman.  Sigit bercerita bahwa sorot lampu mobil yang datang dari arah seberang telah membuatnya silau hingga kehilangan arah pandang. Ia menabrak tembok pembatas jalan, lalu pingsan.

“Waktu itu penglihatan saya jadi putih semua dan tidak bisa melihat apa-apa. Merasa jalan yang saya lalui bergelombang dan tidak rata, saat itu saya tahu benar bahwa motor sudah keluar dari jalanan hingga berakhir dengan menabrak pagar pembatas jalan. Setelah itu saya sudah tidak ingat apa-apa” kisah Sigit, berusaha mengingat. Sigit sudah banyak lupa dengan kecelakaan tunggal yang hampir membuatnya mengalami kelumpuhan.

“Saat sadar sudah di RS Panti Rapih. Dengan kondisi badan yang utuh sama sekali tidak ada luka atau goresan, dokter menjelaskan bahwa ada beberapa organ dalam tubuh yang mengalami pembengkakan, mulai jantung, paru-paru, juga ginjal.” Sigit menjelaskan kondisi tubuhnya yang berbaring tak berdaya. Saat itu ia tidak bisa merasakan apa-apa.

Sang dokter hanya bisa melakukan pemulihan kondisi organ dalam tubuhnya yang mengalami pembengkakan. Lima hari di RS Panti Rapih, ia segera dipindahkan ke RS Sarjito untuk menjalani operasi karena tulang belakangnya mengalami kerusakan.

Tak ada dokter yang menangani, selama 16 hari di RS Sarjito, Sigit belum juga menjalani operasi. Hanya terus bertanya dalam hati karena tak sedikitpun merasa kesakitan, Ia yakin dari obat-obat yang diberikan telah memberinya pengaruh rasa nyaman. Namun ia, waktu itu adalah remaja yang suka iseng melakukan kenakalan, sehingga ia bahkan tak pernah peduli dengan kondisi yang ia dapatkan. “Haha. Tahunya ya enak saja karena semua dilayani sama Bapak,” tawa nakalnya lepas di tengah obrolan.

“Bapak yang diberitahu tentang kondisi saya, jadi saya sama sekali tidak tahu apa-apa. Tahunya hanya disuruh menunggu operasi. Lha saya juga tidak merasa sakit. Dasarnya saya ndughal. (Ndughal dari istilah bahasa Jawa yang artinya berulah dengan melakukan kenakalan yang berlebihan.) Tidak pernah terpikir juga bahwa kaki saya tidak bisa bergerak,” lanjut Sigit.

Sang Ibu, Fatimah yang sejak awal menyimak obrolan lalu mengenangkan. Betapa kesedihan ia rasakan saat banyak tetangga sekitar datang mewartakan. Tak satupun dari mereka membawa kejelasan kondisi Sigit yang sangat ia khawatirkan. Perasaan dan hatinya makin tak karuan saat motor yang dikendarai buah hatinya dibawa pulang dengan roda depan membentuk angka delapan.

“Melihat kondisi motornya, yang terpikir di benak anak saya sudah mati. Lemes. Hati sudah tidak karuan.” Meski Fatimah mengaku sempat hilang harapan, sebagai ibu yang dekat dengan anak-anaknya dalam keseharian Fatimah seolah tak memiliki kamus yang bercerita tentang kesedihan. “Kalau dituruti dan ingat waktu itu ya sebenarnya sedih, pengen nangis. Yang saya lakukan ini kan untuk menghibur diri sendiri.”

Tingkah dan polah Sigit bagi Fatimah adalah bingkai hidup yang diambil sebagai pembelajaran.

16 hari di rumah sakit tanpa tindakan, operasi akhirnya bisa dijalani Sigit sejak jam 9 pagi dan berakhir hingga sore hari. Tanpa mengalami luka terbuka di tubuhnya, Sigit harus menjalani operasi karena satu bagian tulang belakangnya pecah dan menyisakan serpihan. Sigit harus mendapatkan perawatan, tulangnya dibersihkan hingga meninggalkan jejak sambungan dengan tiga buah platina yang masih terpasang sampai sekarang.

Lima hari setelah menjalani operasi Sigit diperbolehkan pulang. Dan dokter memberikan peringatan dengan vonis yang menyakitkan. “Setelah operasi dokter bilang pada orangtua saya kalau saya akan mengalami kelumpuhan. Seandainya bisa berjalan, maka itu adalah bonus yang diberikan Allah SWT,” tutur Sigit menirukan Dokter waktu itu yang baru diketahuinya setelah di rumah beberapa hari menjalani proses pemulihan.

Sigit merasa hidupnya tak lagi memiliki arti. Sebagai anak sulung yang diharapkan membantu sang Ibu melakukan semua pekerjaan. Jika dulu ia biasa membantu orangtua mencari rumput untuk pakan ternak, sekarang ia merasa kesal dengan dirinya sendiri. Namun bukan Sigit bila ia menghabiskan harinya dalam kesedihan. Setali tiga uang. Ia dan sang Ibu  lebih suka membungkus kisah hidup mereka dalam senda-gurau.

Menghabiskan waktu dalam bosan dengan hanya tergolek di pembaringan tanpa bisa berkegiatan, Sigit dirawat sang Ibu yang saat itu juga sedang dalam masa pemulihan setelah sakit selama delapan bulan. Ia rutin menjalani terapi di RS Sarjito seminggu sekali, sang Ibu, Fatimah, dengan telaten melakukan terapi tiap dua jam sekali. Menggerakkan telapak kaki Sigit agar mampu kembali berfungsi, bagi Fatimah kesembuhan Sigit menjadi doa yang ia lantunkan sepanjang hari.

6 bulan berjalan akhirnya doa dan kesabaran Fatimah mendapat jawaban. Dengan alat bantu yang dibuatkan sendiri, perlahan Sigit bisa belajar berjalan. Dari menggunakan walker hingga kruk ia sudah bisa berjalan meski dengan sedikit kesulitan, imbas dari kaki kanannya yang mengalami kelumpuhan. Sekarang Sigit sudah bisa berkendara, kembali membantu orangtua dengan pekerjaan di ladang yang jaraknya bisa berkilo-kilo di kejauhan.

Dukungan semangat dari keluarga tiap hari terus dipompakan. Kunjungan teman-teman sekolah jadi motivasi bagi Sigit untuk melawan keadaan. Sempat cuti sekolah selama satu tahun, ia mengulang kelas dua di SMK Negeri 1 Nglipar. Berangkat sekolah diantar sang Ayah, kala pulang sang Ibu yang ganti menjemputnya. Dalam membantunya memudahkan berjalan, sang Ibu membekalinya tongkat bambu yang biasa digunakan untuk pramuka.

“Saya sempat malu untuk kembali bersekolah karena sudah tidak bisa seperti dulu lagi.” Kata Sigit mengenang masa awal kembali bersekolah.

Sigit mulai bisa menerima keadaan. Sigit kembali bersekolah hingga “lupa” pada apa yang ia rasakan. Guru-guru yang dulu bosan dengan kenakalan yang ia lakukan, sejak itu makin sayang dan memperlakukannya dengan keistimewaan. Saat tidak bisa ikut berlari dalam olahraga, ia sering mendapat keringanan.

Lulus sekolah tahun 2017, Sigit mengisi waktunya dengan merawat beberapa binatang ternak, ayam, kambing dan bebek. Sigit langsung bergabung dalam Kelompok Pemberdayaan Difabel yang dibentuk di desanya, Mitra Karya Sejahtera. Ia menjadi sekertaris di organisasi difabel desanya. Ia lalu bergabung dengan kelompok difabel Mitra Mandiri untuk belajar menganyam. Menganyam bagi Sigit adalah gambar ketekunan. Buah ketekunan bisa menambah ketrampilan dan bisa menambah penghasilan.

“Biar kehidupan kita jadi lebih baik dan bisa lebih maju. Sebagai difabel yang penting kita bisa mandiri, jadi tidak perlu bergantung pada orang lain. Sebelum bekerja saya dulu sangat tergantung pada orangtua. Kalau sekarang, minimal bisa untuk beli pulsa,” pungkas Sigit.

Sigit mendalami ketrampilan menganyam dari rotan sintetis. Kini ia dipercaya menjadi asisten pelatih di Yayasan Penyandang Cacat Mandiri. Belajar bersama dengan orang-orang yang lebih tua, tak membuat Sigit minder berbagi ilmunya.

“Saya dulu juga tidak bisa. Jadi yang coba saya sampaikan pada mereka supaya ditekuni saja. Nanti lama-lama pasti bisa. Kalau ada kesulitan saya akan berusaha membantu.” Sigit mengaku belajar banyak dari teman-teman difabelnya yang ada di yayasan.

Di yayasan Sigit bertemu dengan difabel. Ia melihat semangat dan usaha mereka yang menjadi motivasinya untuk semangat bekerja dan berkarya. “Dengan mereka punya tambahan ketrampilan hidupnya tidak hanya seperti sekarang, tapi ada perubahan. Kalau ekonomi kita bisa lebih baik kan bisa meningkatkan kesejahteraan,” tutupnya. [Yanti]

The subscriber's email address.