Lompat ke isi utama
nilai

Banyak Nilai yang Bisa Dicapai dalam Hidup

Solider.id.Yogyakarta. Orangtua dengan anak difabel, harus selalu menjaga dinding emosional yang dibangun kokoh untuk melindungi sang anak dari kerasnya kehidupan dunia. Dari berbagai justifikasi yang menjatuhkan mental, bahkan tidak jarang mematikan bakat, kemampuan atau kecerdasan beragam pada anak.

Justifikasi atau label, ialah sebuah pembenaran sekaligus merupakan alasan, pertimbangan, bukti, atau fakta yang membuat tindakan atau keputusan yang diambil atas orang lain menjadi seolah-olah wajar atau benar.

Sebagai contoh, melalui sebuah test anak yang gagal menyelesaikan ujian matematika, maka yang bersangkutan akan dijustifikasi atau dilabeli sebagai anak yang bodoh. Yang tidak mampu menggambar sebagaimana contoh, dijustifikasi sebagai anak yang tidak berbakat menggambar.

Mengapresiasi value

Tanpa disadari, seringkali kita melupakan bahwa sesungguhnya banyak nilai atau kemampuan yang bisa dicapai dalam hidup. Nilai-nilai yang tidak dapat diukur dengan test standart, sehingga tidak dapat diberi angka.

Nilai-nilai tersebut di antaranya: bagaimana kemampuan mandiri seorang anak, kebaikan sikap, keberanian mengekspresikan pendapat, kemampuan menjaga relasi pertemanan, kemampuan berdiskusi, kemampuan mengevaluasi kemajuan diri sendiri, kemampuan berkarya artistik, kemampuan bekerja dengan tim, kemampuan mendesain dan membangun bakat.

Kesemua itu tidak pernah dapat diukur dengan test standar. Dan semuanya adalah nilai atau value yang harus diperhatikan atau diapresiasi. Banyak kemampuan, keterampilan dan bakat lain yang seharusnya dilihat dan diukur dengan cara lain.

Tulisan kali ini bukan akan mengatakan bahwa test itu tidak penting. Melainkan, test-test yang selama ini ada hanya mengukur sedikit kemampuan atau nilai-nilai yang ada pada anak. Dan, bahwa tidak semua kemampuan atau nilai dapat diukur melalui test.

Terlebih lagi ketika test standart dijadikan sebagai pembenaran atas baik-buruk, benar-salah, berbakat-tidak berbakat, pintar-bodoh, atau berbagai bentuk justifikasi hitam-putih lainnya. Tentu saja harus segera ditinggalkan, karena telah menyalahi esensi keberagaman nilai yang ada, yang tumbuh pada masing-masing anak, dan perlu diapresiasi.

Pelajaran kehidupan

Bagaimana ketika test standart tersebut diterapkan pada anak-anak difabel? Kemudian hasil test dijadikan sebagai alat ukur untuk menjustifikasi anak?

Apapun itu, anak tetap harus melalui setiap kesulitan sendiri. Sebab, kesulitan demi kesulitan akan memberikan pelajaran pada anak menemukan jalan keluar, pelajaran kehidupan.

Banyak anak dengan beragam difabilitas yang berjuang dengan nilai mereka di sekolah melalui test standart.  Test yang tidak mewakili seluruh keragaman nilai atau value atau kemampuan masing-masing individu.

Tumbuh menjadi pribadi yang kuat, atas setiap pelajaran kehidupan itu diharapkan akan terjadi pada tiap-tiap anak, terlebih anak dengan difabilitas. Karena banyak nilai yang bisa dicapai dalam hidup.

Kehidupan yang notabene adalah sebuah proses, terus bergerak secara dinamis. Kehidupan itu sendiri adalah sebuah pertumbuhan, sebaliknya pertumbuhan itu berarti kehidupan. Dan Perubahan itu adalah suatu esensi kehidupan.  [harta nining wijaya]

The subscriber's email address.