Lompat ke isi utama
Desi Pujiati sedang berfoto bersama kedua orangtuanya di rumahnya

Desi Pujiati Belum Tersentuh Dana Desa

Solider.id, Pati- Desi pujiati (11), warga Tlogorejo rt 3 rw 3, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, seorang anak difabel ganda yang belum tersentuh Pemerintah Kabupaten Pati. Anak nomer dua dari tiga bersaudara ini mengalami cerebral palsy dan skizofrenia sejak lahir.

Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Pati dan pendamping desa yang berkunjung sembari memberikan bantuan alakadarnya ke rumah Desi yang sedang berbaring menonton televisi (02/09).

Sudah 11 tahun, Desi hanya berbaring di kamar. Orangtuanya yang mempunyai keterbatasan ekonomi hanya bisa pasrah dengan keadaan. Setiap hari Desi harus memakai pampers, karena sering ngompol. Ibunya, Leginah, mengaku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan agar bisa melihat anaknya bermain bersama dengan teman-teman sebayanya.

“Sudah berkali-kali opname dan terapi di rumah sakit, tetapi hasilnya nihil,” ucap Leginah.

Leginah juga sempat mengurus Program Keluarga Harapan (PKH) untuk merawat sekaligus membantu meringankan biaya hidup. Selama ini dia tidak bekerja karena merawat anaknya di rumah, tetapi sayang PKH itupun tidak mendapatkannya.

“Kebutuhan sehari-hari Desi banyak dari pampers, susu, dan jajanannya,” pungkasnya.

Sardi, ayah dari Desi Pujiati mengaku, jika dulu dia pernah mendapatkan bantuan dana satu kali dari pemerintah desa setempat. “Dulu pernah diberi sejumlah uang, itupun disuruh mengembalikan sebagian dan bantuan itu hanya sekali saja, seterusnya tidak lagi,” ujar Sardi.

Setelah istrinya tidak lagi berjualan, Sardi yang menanggung semua biaya hidup keluarga bekerja sebagai tukang ojek. Terkadang Sardi juga ikut bekerja dengan teman atau tetangganya bila ada proyek atau kerja serabutan, karena pekerjaan tukang ojek belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Istri saya dulu jualan es dan jajanan anak-anak di rumah, tetapi sekarang sudah tidak lagi karena modal habis dan Desi tidak bisa ditinggal,” tukas Sardi.

Ketua PPDI Pati, Suratno merasa geram karena pemerintah setempat tidak ikut campur tangan untuk menangani masalah ini. “Harusnya dari pemerintah baik desa maupun dinas terkait dalam hal ini adalah dinas sosial memberi perhatian lebih, tetapi justru teman-teman difabel yang tergabung di PPDI yang memberi perhatian,” kata Suratno.

Suratno berharap ada bantuan dari pemerintah setempat setiap bulannya untuk membantu meringankan biaya hidup keluarga ini.

Ade selaku koordinator dari Program Pembangunan Dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) mengemukakan jika difabel juga mendapatkan anggaran dari dana desa. “Difabel itu sudah ada anggarannya di Dana Desa yang tertuang di permendes no.19 tahun 2017 tentang prioritas penggunaan dana desa 2018 dan petunjuk teknis dana desa Sudah disosialisasikan pada kepala-kepala desa Kabupaten Pati di pendopo kemarin,” terangnya.

Ade juga menjelaskan jika nanti akan dibantu pendamping desa dan pendamping lokal desa untuk diusulkan alat bantu dan rehabilitasinya di musyawarah desa. [OB]

The subscriber's email address.