Lompat ke isi utama
Kantor Desa Wahyuharjo

Tantangan dan Potensi KDD Wahyuharjo

Solider.id, Kulon Progo – Sebagai Ketua KDD (Kelompok Difabel Desa), Nuryanto, paham betul apa yang menjadi tantangan dan potensi organisasi yang ia nahkodai. Ia berbicara tentang bagaimana KDD bisa memberikan manfaat semaksimal mungkin, tidak hanya bagi difabel tapi juga untuk seluruh warga desa.

“Tantangan terbesar dari KDD di sini sebenarnya adalah tentang regenerasi. Sejak dari awal dibentuk sampai sekarang, saya terus ketuanya. Padahal umur sudah tidak muda lagi,” ujar Nuryanto.

Menurutnya, Wahyuharjo punya stok difabel usia muda yang punya potensi untuk menggantikannya menjadi ketua. Namun kebanyakan dari mereka memang belum mau aktif terlibat dalam organisasi KDD ini.

“Saya kira, kebanyakan difabel yang ada dalam KDD baik dalam struktur kepengurusan sampai anggota rata-rata sudah berumur. Hanya sedikit saja yang usianya masih muda. Mereka yang usianya masih muda dan dari segi pendidikan jauh lebih baik dari generasi kami memang jarang mau ikut kegiatan. Padahal potensinya besar sekali,” ungkapnya.

Ia mengaku masih terus mencoba mengajak para generasi muda difabel untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinannya. Upaya yang ia lakukan termasuk melakukan persuasi secara personal kepada mereka yang ia anggap potensial.

“Beberapa kali sudah saya ajak secara personal, terus saya langsung datangi rumahnya. Ada yang tertarik dan berjanji untuk ikut aktif dalam pertemuan rutin KDD,” tuturnya.

Tantangan berikutnya selain persoalan regenerasi adalah kepasifan dari para anggota terutama saat diminta usulan dan masukan. Menurutnya, faktor pendidikan menjadi salah satu penyebab kepasifan ini. Rata-rata pengurus KDD Wahyuharjo memang bukan berasal dari difabel yang berpendidikan tinggi. Selain itu, sifat alami orang Jawa pedesaan terutama di Kulon Progo yang sering sungkan untuk mengeluarkan pendapat karena takut salah juga ia rasa berpengaruh terhadap kepasifan ini.

“Saat rapat penentuan program atau deteksi masalah pada difabel di sini, rata-rata anggota hanya akan manut-manut saja. Padahal, saya rasa, permasalahan orang kan beda-beda ya. Jadi semua permasalah bisa pengurus kumpulkan dan diorganisir mana yang paling dominan untuk didahulukan dan mana yang akan disimpan dahulu. Namun, nyatanya semua pasif dan manut-manut saja. Akhirnya, penentuan program datangnya dari pengurus saja,” kata Nuryanto.

Melihat semua tantangan itu, Nuryanto ingin berjalan pelan-pelan dahulu dalam menahkodai organisasi ini. Pertemuan rutin ia targetkan berjalan lancar dulu. Untuk membuat para anggotanya antusias dalam mengikuti pertemuan rutin, ia bersiasat mengatur giliran tempat pertemuan sehingga tidak ada rasa bosan dari anggota KDD dan menanamkan perasaan memiliki organisasi terutama bagi yang kebagian jatah menjadi tempat pertemuan.

Di balik semua itu, Nuryanto dan para pengurus yang lain melihat potensi besar dari KDD ini. Potensi itu berasal dari sektor perekonomian yang ia harapkan bisa menjadi tulang punggung dan nafas utama dari KDD ini.

“Harus kami akui bahwa sektor perekonomian adalah permasalahan utama bagi warga difabel di sini, selain isu klasik seperti stigma dan diskriminasi. Untuk itu, kami melihat peluang unit usaha yang bisa kami jalankan dari KDD ini. Unit usaha itu nantinya akan bergerak pada sektor pembuatan bakpia,” ia bercerita.

Salah satu program jangka panjang yang menjadi sasaran dari KDD Wahyuharjo adalah unit usaha pembuatan Bakpia. Ia sadar bahwa kemandirian dalam mengelola organisasi itu penting adanya. Tidak selamanya KDD akan selalu bergantung pada dana dari desa atau dari sumber lain. Ia dan rekan-rekan di KDD Wahyuharjo mengakui bahwa kadang dana dari desa pun tidak selalu memenuhi ekspektasi mereka. Berpijak pada hal itulah akhirnya keinginan kemandirian hadir.

“Unit usaha Bakpia ini yang akan membiayai kegiatan KDD. Jadi, KDD tidak akan selalu bergantung pada dana dari desa. Selain itu, unit usaha ini akan menjadi sumber mata pencaharian bagi difabel di sini. Jadi, manfaatnya akan berlipat. Masalah kesempatan kerja bagi difabel di desa ini kan besar. Unit usaha ini berusaha untuk menjawabnya,” ia menjelaskan.

Selain itu, hal yang juga penting baginya, unit usaha Bakpia ini juga akan terbuka untuk nondifabel. Jadi ketika sudah jadi, unit usaha ini akan menjadi lumbung ekonomi bagi semua orang. Ia berharap, cara itu akan mengikis persoalan stigma dan diskriminasi bagi difabel, selain mengatasi persoalan ekonomi. “Ya, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui,” ia berkelakar. [Yuhda]

 

The subscriber's email address.